Bekasi Bertabur Mal dan Hotel, Ini Rahasianya

Kota Bekasi telah berkembang pesat. Deretan mal, pusat perbelanjaan, hotel, serta apartemen megah, menjulang di seantero kota. Industri jasa memang menjadi andalan untuk menggerakkan roda perekonomian.

Kota Bekasi terbilang padat dengan jumlah penduduk 2,5 juta jiwa sementara luas wilayahnya hanya 21 ribu hektar. Masyarakatnya sekitar 60% golongan menengah ke atas.

“Sejak tahun 80-an sebelum pemekaran, kota Bekasi dijadikan kota penyangga, sehingga tumbuh perumahan-perumahan. Kami tidak punya sumber daya alam kecuali, jual jasa,” kata Walikota Bekasi, Rahmat Effendi.

Menurut dia, visi menjual jasa dan perdagangan telah digariskan sejak tahun 1999, kemudian berlanjut ke 2004, 2008, dan 2013. Tak heran, industri perdagangan, hotel, dan restoran berkembang pesat di Bekasi.

“Sebelum saya menjabat baru ada Hotel Horison, sekarang sudah ada pula Hotel Aston, Amaris, Harris dan Santika. Pusat perbelanjaan juga semakin banyak,” katanya.

Walikota Bekasi, Rahmat Effendi Walikota Bekasi, Rahmat Effendi

Walhasil, pendapatan asli daerah pun terangkat. Potensinya, kata dia, mencapai lebih dari Rp 1,5 triliun pada tahun 2015. Roda ekonomi yang berputar kian kencang ini juga menyerap banyak tenaga kerja.

“Target saya, hingga 2018, bisa menyerap 50.000 tenaga kerja. Data terakhir, by name dan by address, sudah ada 36.000. Tinggal 14.000 lagi, masa jabatan saya tinggal 2 tahun lagi,” katanya.

Dia menjelaskan, motto dan prinsip yang diterapkan kepada para investor yang mau menanamkan modalnya di Kota Bekasi adalah kepastian hukum dan jaminan hukum. Dengan begitu, siapapun akan merasa nyaman untuk menaruh uangnya.

“Di bekasi sangat memungkinkan untuk berinvestasi. Tata ruang sudah sesuai, detail tata ruang juga sudah. Tak alasan untuk memperlambat proses perizinan, berikan kepastian dan jaminan hukum,” kata dia.

Lewat Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Bekasi, lanjut dia, semua perizinan dilakukan lewat satu pintu. Koordinasi teknis selanjutnya berhubungan dengan unit teknis yang diberi tugas untuk mengelola.

“Diusahakan proses hukum tidak berlarut-larut. Setahun atau dua tahun baru kelar, itu sudah tidak ada. Ke depannya, kami ingin masuk sistem online berkenaan dengan pajak, distribusi, pengendalian, monitoring dan evaluasi,” kata dia.

Terobosan yang dilakukan BPPT Kota Bekasi cukup terbilang bagus. Roda organisasi badan tersebut berjalan efektif. Sepanjang tahun 2014, badan tersebut mampu mengeluarkan 53 ribu izin. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)