Berbisnis dengan Sentuhan Islami

Jpeg

Bisnis dengan sentuhan Islami seringkali dikaitkan dengan bisnis mengenai hijab. Padahal, tidak sepenuhnya demikian. Beberapa perusahaan konvensional bahkan sudah memulai hal tersebut. Banyak dari masyarakat akan berpikir bahwa melakukan bisnis secaraIslami hanya sebatas pada manajemennya yang sesuai dengan syariat Islam seperti bagi hasil. Padahal, penanaman nilai-nilai dengan yang sesuai dengan ajaran Islam dapat dikatakan bisnis dengan sentuhan Islami.

“Masalah manajemen yang berbasis syariah, itu hanya sebatas ritual. Sah -sah saja dijalankan. Namun yang terpenting adalah berkah atau tidaknya bisnis yang dijalankan. Keberkahan dan nilai material tidak bisa disejajarkan. Bisa saja ketika material dimulai dari titik nol, keberkahan muncul dari sana. Atau bisa saja materilnya banyak, tapi tidak berkah. Sentuhan bisnis islami ini, menawarkan para pelaku bisnis untuk tetap istiqomah di bisnis dunia dan juga menggapai keberkahan di mata Allah,”ujar Ustad Dody Al-Jambary.

Beberapa pengalaman mengenai berbisnis dengan sentuhan Islami dikemukakan oleh dua orang pelaku bisnis terkenal di Indonesia, Nurhayati Subakat, CEO Wardah Kosmetik, dan Andang Wijaya, CEO dari PT Global Insight Utama. Mereka berbagi pengalaman mengenai awal mula usahanya dan bagaimana mereka menorehkan sentuhan Islami dalam bisnisnya.

“Ide mengenai Wardah sebagai kosmetik berlabel halal bermula dari pesantren. Namun sayangnya, mayoritas anak pesantren tidak menggunakan make-up. Meski demikian, saya tetap istiqamah menjalankan bisnis kosmetik berlabel halal,” kata Nurhayati. Nurhayati juga menyatakan bahwa dalam memulai bisnisnya, ia pernah mendapatkan musibah. Produk yang pada saat itu ia kembangkan habis terbakar. Namun Ia tetap berjuang menjalankan bisnisnya.

“Di balik musibah yang saya hadapi, saya merasa banyak mendapatkan pertolongan Allah. Jadi jika dalam bisnis biasanya menerapkan 4P, saya menerapkan 5P. Satunya lagi adalah pertolongan dari Allah,” Ujar Nurhayati.

Sama halnya Nurhayati, Andang juga merasakan hal yang sama. Lulusan Master di PPM Manajemen ini menyatakan dirinya berulangkali gagal dalam menjalankan usaha. Hingga pada akhirnya Ia mendirikan PT. Global Insight utama dengan produk Nitrogennya.

“Usaha ini idenya dari teman saya. Hanya packagingnya yang saya perbaiki dan juga dari sisi manajemen. Alhamdulillah bisa seperti saat ini. Dalam melakukan bisnis, kami lebih ke sistem kekeluargaan, bukan franchise. Karena tingkat kepercayaan lebih tinggi, costnya juga lebih rendah. Di sisi lain, berbisnis dengan cara seperti ini lebih bisa menjaga silaturrahim,” ujar Andang.

Suryo Danisworo, Seorang pakar GCG juga menyatakan menanamkan sentuhan Islami dalam berbisnis bukanlah sesuatu yang tabu, bahkan dapat dikatakan perlu.

“Dalam melakukan usaha atau bisnis, Tidak hanya cukup dengan pendekatan organisasi, Ilmu manajemen, dan relasi saja. Nilai nilai agama seperti ahlak, itu diperlukan. Bagaimana ia bisa melakukan tanggung jawabnya, bagaimana moralnya, itu semua harus diatur agar bisnis dapat berjalan lebih baik,” Ujar Suryo.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)