Citibank Tak Gegabah Berikan Kredit Valas

Tigor M Siahaan, Citi Country Officer Indonesia, berpandangan bahwa ketersediaan valuta asing (valas) cukup banyak di Tanah Air. Valas tersedia, salah satunya, melalui kegiatan ekspor. Akan tetapi, sekalipun ketersediaannya cukup banyak, Tigor mengatakan, Citibank Indonesia tidak lantas gegabah dalam menyalurkan kredit valas kepada para nasabahnya. Bank asing ini memberikan kredit valas sesuai dengan kebutuhan nasabahnya.

Tigor M Siahaan, Citi Country Officer Indonesia

“Likuditas itu bagaimana pasar suplai dari valas itu ada di Indonesia ini. Dan, saya rasa dari segi suplainya sangat banyak, karena ekspor juga masuk, dari segi time deposits di BI (Bank Indonesia) juga berkembang,” sebut Tigor, di Jakarta, Jumat (25/1/2013).

Dia menjelaskan, ada dua hal yang harus dilihat terkait kondisi valas. Pertama adalah perihal likuiditas valas. Di sisi ini, ia berpandangan, ketersediaan valas banyak. Ini didapatkan dari, salah satunya, ekspor. “Dari segi likuiditasnya, itu saya rasa tidak ada masalah,” lanjut dia.

Hanya, bila likuiditas dihadapkan kepada faktor kedua, yakni nilai tukar rupiah terhadap US dollar, sempat menimbulkan sedikit dilema beberapa waktu lalu. Valas ini harus ditukarkan ke rupiah untuk bisa memberikan dampak kepada nilai tukar. Sementara suplai valas untuk ditukar ke rupiah sempat berkurang seiring dengan ekspor nasional yang menurun. Dan, valas juga dibutuhkan untuk membayar impor.

Namun, Tigor menyebutkan, kondisi tersebut tertolong oleh Pertamina yang tidak lagi membeli valas, yakni US dollar, di pasar uang untuk memenuhi kebutuhan valasnya demi membiayai impor bahan bakar minyak (BBM). “Dengan diredamnya Pertamina yang cukup besar, saya rasa itu cukup membantu. Jadi, pembelian US billion dollar untuk pembelian minyak Pertamina tidak melalui pasar lagi sehingga cukup meredam volatilitas itu,” sambungnya.

Dengan situasi ketersedian valas yang cukup dan stabil, maka Citibank Indonesia pun berupaya meningkatkan kredit valas juga rupiahnya. Dikatakan dia, kredit Citibank diperkirakan naik 20 persen pada tahun ini. Akan tetapi, bank asing ini memilah-milah mana nasabah yang cocok untuk mendapatkan kredit valasnya. Ia menyebutkan, “Misalnya, nasabah yang pendapatannya dalam rupiah tentu saja tidak kita berikan US$. Nasabah yang mengekspor yang mendapatkan US$ sebagai income tentu saja dia lebih cocok untuk mendapatkan utang dari valas.”

Selain itu, Citibank juga menginginkan peningkatan penyaluran kredit harus berdasarkan kebutuhan dari nasabahnya. Jangan sampai bank memberikan utang tetapi nasabahnya sebenarnya tidak membutuhkan. “Tetapi yang perlu saya tekankan ke teman-teman bahwa peningkatan dari kredit itu tentu saja berdasarkan dari banking prudency, dari kami sendiri, dan dari kebutuhan nasabah itu sendiri. Yang selalu kami tekankan, menjadi trusted advisor terhadap klien-klien. Dan itu menyeluruh dari nasabah individu, SME (UKM), dan korporasi,” tandasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)