Coco Sugar Bawa Gula Kelapa Lokal ke Pasar Dunia

Supriyanti, Chief Operating Officer PT Coco Sugar Indonesia

Sistem produksi yang baik merupakan salah satu kunci sukses menghasilkan produk berkualitas supaya bisa menembus pasar internasional. Hal tersebut nampaknya sudah disadari oleh Coco Sugar, sebuah merek gula kelapa yang telah eksis sejak tahun 2014 .

Saat ini, merek tersebut telah terdaftar di 30 negara di dunia dan sudah diekspor ke 43 negara. Pertumbuhan bisnisnya pun cukup tinggi, yaitu sebesar 80% dari tahun 2016 ke 2017. Dengan 1000 mitra penderes, Coco Sugar bisa memproduksi 150 ton gula kelapa setiap bulannya dan menargetkan 200 ton pada tahun 2019.

Supriyanti, Chief Operating Officer PT Coco Sugar Indonesia, menyebutkan, kunci Coco Sugar sukses menembus pasar ekspor adalah dengan menjaga kualitas produk dan branding. Hal tersebut tercermin dari langkah merek ini untuk mendapatkan beberapa sertifikat, misalnya FDA, FSSC 22000, Organic USDA, Organic EU, Non-GMO Verified, dan lain-lain. "Coco Sugar secara total memiliki 11 sertifikat. Kalau ke negara Eropa kami harus ada EU Certificate. Kalau ke Amerika harus ada USDA Certificate, begitupun Jepang dan Brasil memiliki persyaratan masing-masing. Kami juga memiliki sertifikat Halal MUI. Kami juga satu-satunya di dunia yang memiliki sertifikat FSSC 22000 untuk produk Coconut Sugar. Semua sertifikat ini diaudit setiap tahun."

Pengawasan pelaku produksi juga menjadi hal yang penting. Ia menyampaikan, "Mitra penderes kami tersebar di 6 desa area Banyumas. Setiap hari, kami menyiapkan internal control system untuk mengaudit para penderes tersebut, kami kunjungi door to door. Satu orang mengaudit sekitar 10 pemberes. Di situ kami lakukan edukasi, dipastikan tidak menggunakan bahan kimia. Alat-alatnya harus higienis, tidak boleh dicuci sabun colek, harus disiram air panas dulu. Tidak boleh ada kayu bakar di atas karena arangnya bisa masuk. Tidak boleh juga dekat kandang ayam takut bulunya terbang."

Melalui kemitraan tersebut, penderes menandatangani MoU yang mengharuskan ia untuk menjual bahan bakunya hanya kepada Coco Sugar. Jadi, pemberes yang sudah tanda tangan dengan Coco Sugar, tidak bisa kerja sama dengan perusahaan lain. Adapun 80% dari kegiatan produksi Coco Sugar terjadi di kampung dan 20% dilakukan di pabrik, misalnya QC, pengovenan, dan pengemasan. Mayoritas bahan baku yang digunakan berasal dari lokal dan hanya sekitar 4% diimpor dari luar.

Fokus pemasaran produk ini memang untuk ekspor, tetapi disediakan kuota 5% untuk pasar lokal bila ada permintaan. Untuk sektor ritel, sampai saat ini Coco Sugar masih didistribusikan ke pasar spesifik, seperti organic store, health food store, dan online. Pasalnya, gula kelapa dinilai belum terlalu mainstream dan akan terlalu mahal kalau masuk ke pasar mainstream. Selain ritel, produk juga dipasarkan pada industri obat-obatan hingga bakery.

Ada satu kisah unik yang diceritakan Supriyanti kepada SWA. Pihaknya melakukan ekspor ke negara Brasil yang merupakan penghasil gula terbesar di dunia dan bisa mengekspor sebanyak dua kontainer setiap bulan. Ternyata setelah membandingkan, ia mengklaim kualitas Coco Sugar menandingi kualitas gula kelapa yang ada di sana.

Ia menambahkan, “Kami juga dulu beranggapan produk kami hanya akan dapat diserap di negara yang GDP per kapita di atas US$ 20 ribu. Namun, anggapan kami salah. Produk kami terserap di semua pasar, baik di negara maju maupun berkembang. Pelajarannya adalah jangan terlalu mudah menyimpulkan sesuatu sebelum mencoba.”

Tantangan yang dihadapi Coco Sugar dalam mengelola bisnis salah satunya adalah belum banyak orang yang tahu tentang gula kelapa. Jadi, Supriyanti merasa pihaknya harus mengedukasi pasar tentang manfaat produknya bagi kesehatan. “Kami juga memanfaatkan gerakan anti cane sugar. Contohnya Jepang sangat anti cane sugar. Ada customer kami yang bercerita bahwa di negara tersebut dilarang masuk gula pasir dan gula tebu. Ini menjadi kesempatan kami untuk memasarkan produk.”

Menanggapi kompetisi yang selalu ada di manapun, Supriyanti menegaskan bahwa kualitas harus tetap dipertahankan. Kompetitor Coco Sugar adalah Filipina, Thailand, dan Sri Lanka, namun ia merasa pihaknya masih akan lebih unggul dikarenakan menawarkan harga yang lebih murah dan sudah memiliki skala besar.

Ke depan, Coco Sugar berencana untuk mengembangkan daerah binaannya agar bisa meningkatkan kapasitas produksi. Merek ini juga masih ingin mencari pasar baru untuk produk gula kelapa karena potensi pasarnya masih luas.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)