Endeavour Indonesia Bagikan Tips untuk Memperbesar Start Up

Dengan semakin bertumbuhnya start up di Indonesia, menandakan bahwa perlu adanya dorongan bagi pebisnis – pebisnis muda untuk semakin mengepakkan sayapnya. Endeavour Indonesia, melalui seminar Scale-Up 2.0 – Conference & Investor Gathering membagikan tips agar start up Indonesia, tak terkecuali yang baru ingin memulai bisa semakin berkembang.

IMG_20150203_114256

Diawali dengan bagaimana menjadikan start up sehingga bisa leading di era of integration ini adalah dengan mengikuti tren pasar saat ini, baik secara nasional maupun global. Ini juga terkait dengan semakin maraknya internet of things (IOT) di dunia start up, sehingga antara satu lini dengan lini bisnis lainnya, baik konvensional maupun modern, bisa saling terintegrasi.

Raoul Oberman, Chairman McKinsey, menilai bahwa kemampuan start up membaca peluang merupakan modal yang sangat substansial. Ia juga mencontohkan bagaimana industri marketplace serta e-commerce seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Elevenia, bisa sedemikian berkembang karena dipicu oleh peluang pasar yang semakin dinamis, seperti misalnya para penjaja barang tidak perlu bersinggungan dengan barang dijajakan secara fisik, melainkan cukup dikemas secara digital dan ditampilkan di marketplace tersebut. Hal ini, menurut Raoul, menunjukkan bahwa ada sinkronisasi yang terjadi antara toko fisik dengan digitalisasi (internet of things).

“Anda harus melihat potensi apa yang bisa dikembangkan serta dapat menciptakan peluang untuk menguangkan bisnis Anda, Dan ini bisa dimulai dari sesuatu yang anda pikir bisa saja sangat simple,” pesan Raoul, saat menyampaikan materi dalam seminar Scale-Up Indonesia.

Setelah itu, biasanya bagi sebagian start up mereka akan memasuki masa pengembangan, di mana dengan jumlah funding yang dibutuhkan, mereka bisa lebih mengembangkan ide serta kreativitas dan menuangkannya secara praktis. David Frazee, Cinametographer asal Kanada yang juga tampil sebagai pembicara, melihat pendanaan merupakan hal yang sangat subsatnsial sehingga bagi start up peran invesotor sebagai penyokong dana bisa dibilang layaknya “malaikat”.

David memetakan beberapa langkah yang perlu diperhatikan startup guna bisa menyatu dengan para investor. Yang pertama adalah memastikan bahwa start up yang ingin diajukan memiliki struktur keuangan yang tertib dan rapi, serta jelas pemetaannya. Selain itu, juga perlu diback-up dengan team yang solid, sehingga sebuah start up bisa yakin bisa menjawab kepercayaan para investor.

Pendapat ini juga sejalan dengan yang dituturkan Khailee Ng, Technopreuner yang juga menjabat sebagai Founder Says.com, bahwa dengan menunjukkan attitude positif dari para founder start up-nya, maka itu merupakan sebuah step-up untuk menjaring mereka (investor).

“Biasanya orang berpikir bahwa dengan menampilkan performa yang baik saat mempresentasikan konsep startupnya, maka investor langsung jatuh hati. Itu saja tidak cukup, investor juga perlu melihat bagaimana attitude start up, di mana direpresentasikan dengan apakah mereka sudah cukup baik dalam menjalankan setiap perannya,” jelas Khailee. Ia juga menambahkan, untuk melihat seberapa baik attitude tersebut bisa saja ditinjau dari sepak terjang mereka selama beberapa waktu ke belakang, seperti GPA, pengalaman kerja, dan segala pencapaian positif.

Berbicara soal investor, merujuk pada apa yang disampaikan oleh David, startup juga perlu mengenal jenis – jenis investor berdasarkan sifatnya. “Ada yang delutive, seperti teman, atau keluarga, ada juga less delutive, seperti strategic investors, dan venture debt, dan non-delutive biasanya dari lembaga seperti perbankan yang menuntut jaminan,”

Ini artinya, lagi – lagi kemampuan memetakan pola keuangan sebuah start up merupakan hal yang sangat penting. Dituturkan David, apabila sebuah start up bisa melakukan pitching yang disertai dengan pemetaan keuangan yang terstruktur akan memperbesar investor dapat terlibat.

Hanya saja, kemungkinan untuk gagal, dalam hal ini tidak sesuai ekspektasi itu selalu ada. Anthony Liem, CEO Merah Putih Incubator,mengatakan,  jika memang start up tidak perform dengan baik, maka perlu ada tindakan cekatan dari founder untuk melakukan aktivitas yang bisa menyelamatkan start up tersebut, misalnya merger dengan start up lain. “Upaya ini dilakukan agar perusahaan bisa lebih dikembangkan,” tuturnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)