Glodok Terus Berkibar Sebagai Pusat Perdagangan Barang Industrial

Matahari siang bersinar terik di pusat niaga Glodok Jaya, Tamansari Jakarta Barat pada Selasa 29 Agustus silam. Lalu lalang pengunjung, kendaraan bermotor roda dua, roda empat dan troli kecil sampai besar untuk mengangkut barang menambah hiruk pikuk kawasan niaga yang menjadi rujukan penjualan barang industrial tersebut. Meski sejumlah pemberitaan sebelumnya menyebut sejumlah mal di sekitar Glodok nampak sepi pengunjung, tapi kondisi itu tidak terasa di kawasan Glodok Jaya siang itu.

Hiruk pikuk keramaian pengunjung dan pedagang di Glodok tak pernah surut sejak puluhan tahun silam.

Sekilas info, Glodok Jaya merupakan pusat penjualan perkakas, sparepart yang terkenal ke seantero Indonesia sejak puluhan tahun silam. Rupa-rupa peralatan dan perlengkapan industri seperti mur-baut, sekrup, pengait, tali baja, rantai, pemotong keramik, gergaji listrik, genset, kompresor, alat pemadam kebakaran dan berbagai perlengkapan pengamanan dan keselamatan lainnya tersedia lengkap di sana.

Seperti yang dipaparkan Christine (72 tahun) generasi kedua pemilik toko Dunia Baru di Glodok Jaya, kawasan ini sejak dulu sudah menjadi pusat penjualan peralatan perkakas rumah tangga, pabrik dan industri.  “Toko saya ini sudah 100 tahun di sini dan bapak saya yang mengelola dari awal. Saya sendiri generasi ke dua karena bapak baru meninggal. Kami menjual mesin penggilingan tahu, batu gurinda dan lain-lain,” ujar Christine.

Pelanggan toko Christine banyak berasal dari kalangan produsen tahu, tukang bubut, bengkel dan lain sebagainya. Rata-rata mereka merupakan pelanggan lama dan loyal di tokonya. “ Mereka ada yang dari Tangerang, Bogor, macam-macam,” ungkap Christine seraya menyebut dalam sehari bisa menjual 20-an unit barang.

Sementara itu, Wawan Sugiarto, sales toko Mega Elektronik yang menjual perkakas untuk rumah tangga dan industri mengatakan, pelanggan tokonya berasal dari perorangan hingga kontraktor besar. Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia. “Adapun saat ini omset toko kami sehari Rp10 juta hingga Rp20 juta,” ungkapnya.

Kios-kios pedagang di Glodok terus diramaikan para pelanggan.

 

Memang, sampai kini, pamor Glodok sebagai pusat niaga produk industrial terlihat masih sangat tersohor. Seperti yang dipaparkan Hendry Trie Asmono, Manajer Periklanan dan Promosi LTC Glodok, Agung Podomoro Group, sampai sekarang kawasan Glodok masih menjadi primadona para pencari peralatan dan sparepart dari berbagai daerah di Indonesia. Meskipun saat ini penjualan online (daring) telah marak, namun tetap untuk kebutuhan industrial para pembelinya merasa wajib untuk datang langsung ke toko penjual. “Untuk beli sparepart dan perkakas orang lebih senang datang langsung dan melihat barangnya daripada beli di online. Sulit juga beli online, kan ada barang-barang yang ukurannya besar dan berat,” katanya.

 

Lanjut Hendry, harganya yang ditawarkan disini juga lebih murah jika dibandingkan dengan di tempat lain. Pemaparan Hendry bisa jadi ada benarnya. Pasalnya, Edy Sutrisno, pegawai bagian pembelian dari Taman Safari Indonesia, Cisarua, Puncak, Jawa Barat pun mengungkapkan hal serupa. Edy yang ketika ditemui tengah mengamati sepatu keamanan yang sedang diobral di salah satu toko mengaku rutin menyambangi Glodok Jaya. “Kita rutin ke Glodok, dua minggu sekali. Ini lagi mencari kompresor untuk mengisi angin di kolam renang, untuk ban berenang dan sebagainya,” jelas pria berseragam hijau pupus yang sudah 15 tahun bekerja di TSI itu.

Para pedagang di Glodok terus disibukkan dengan permintaan pelanggan.

 

Faktor harga yang miring dan kelengkapan produk pun menjadi alasan utama Edy dan rekannya bersedia membelah jalanan sejauh nyaris 100 kilometer dari Puncak, Bogor hingga ke Jakarta Barat itu. Selain itu perusahaannya memiliki kebijakan untuk mengecek langsung barang-barang yang akan dibeli, khususnya yang berharga cukup tinggi. “Kita tidak bisa kalau beli di online. Harus datang langsung, bandingkan harga, bandingkan barang, cek kualitas. Semua itu bisa di Glodok, karena barangnya lengkap,” papar Edy seraya pamit dengan memboyong sepatu keamanan yang tengah didiskon sepertiga harga itu.

Hendry lebih lanjut menjelaskan, dirinya tak memungkiri bahwa ada sebagian mal yang menjadi sepi karena penjualan daring. Tapi menurutnya itu karena produk yang dijual di mal-mal tersebut memang mudah dijual online dan relatif seragam. “Kalau alat industrial masih harus belanja langsung,” urainya.

Potensi perdagangan perkakas dan alat industrial yang masih terus bersinar terang di Glodok itu juga yang menyebabkan Agung Podomoro Group menambah propertinya sana. Ya, setelah sebelumnya setelah sukses dengan trade mall Lindetevees Trade Center (LTC Glodok) dan Plaza Kenari Mas, Agung Podomoro akan segera meluncurkan trade mall terbarunya di Glodok, yakni Harco Glodok.

Hendry memaparkan, mal terbaru Agung Podomoro yang telah rampung konstruksinya dan akan diluncurkan pada awal tahun depan itu berisi dua ribu unit kios dengan dua ribu tempat parkir mobil. "Sampai saat ini Harco Glodok sudah terjual 70%-nya . Bahkan 30%-nya sudah serah terima kunci dan mulai diisi. Tapi memang, grand launchingnya baru awal tahun depan,” urai Hendry.

Hendry meyakini kawasan Glodok yang dikenal sebagai pusat perniagaan untuk perkakas dan alat industrial masih sangat prospektif ke depannya. Itu juga sebabnya mayoritas kios di Harco Glodok telah terjual dengan cepat. Ditambah lagi Harco Glodok adalah lahan terakhir yang dimiliki Agung Podomoro di Glodok. “Jadi memang ini adalah last piece of land yang dimiliki Agung Podomoro di Glodok. Jadi ini adalah kesempatan terakhir untuk berinvestasi di kawasan yang telah terbukti sebagai pusat bisnis yang menguntungkan,” tegas Hendry.

 

Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)