Indosat Ooredoo Optimistis Hadapi Persaingan

Chris Kanter Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo (tengah)

Sejak Chris Kanter didaulat sebagai Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo pada 17 Oktober 2018, operator seluler ini terlihat kemajuannya. Pria yang sebelumnya dikenal sebagai pebisnis dan investor di berbagai usaha ini, mengungkapkan apa saja transformasi dan perubahan dalam acara Kumpul Media di Yogyakarta 28-29 Januari 2018.

Chris mengakui industri telko menghadapi tantangan berat dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan regulasi dan teknologi digital mendorong konsumen juga berubah perilakunya. Walau demikian, bukan sekadar tahun penuh tantngan, tapi sekaligus tahun yang menjanjikan.

“Kami meyakini bahwa perusahaan dan industri telekomunikasi secara umum akan bertumbuh sehat di tahun 2019. Situasi industri memang menurun akhir-akhir ini, namun pada saat yang sama kami memanfaatkannya untuk mengambil momentum ini melakukan transformasi secara menyeluruh, men-set up strategi bisnis, memperkuat pondasi perusahaan kembali serta mendapatkan komitmen baru dari pemegang saham untuk mendapatkan dukungan penuh untuk tahun bisnis 2019 ini,” paparnya.

Di 100 hari kepemimpinannya, ia menegaskan Indosat Ooredoo sebagai perusahaan yang sedang ekspansi, akan lebih fokus dalam ekspansinya dan tidak berlebihan. “Ekspansi jaringan ke 200  lokasi sebelumnya, sejak saya memimpin dipompa jadi 1.000 lokasi per minggu bisa dicapai,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa CK ini, berpendapat sebagai pemimpin yang sebelumnya terbiasa memiliki usaha sendiri, mindset dalam mengelola bisnis pun lebih sebagai pemilik bisnis. “Sangat berhitung efektivitas dalam setiap investasi. Maka itu saya selalu tekankan, setiap investasi harus jelas capaiannya kapan dan bagaimana hasilnya,” tandasnya.

Sepanjang kepemimpinannya, ia mengklaim transformasi Indosat Ooredoo dilakukan menyeluruh. Perubahan pun termasuk dalam hal penjualan, dari sebelumnya ke push factor menjadi pull factor. Ia optimis di 2019 ini Indonesia akan rebound dan tumbuh semakin sehat.

Pihaknya fokus pada permintaan layanan data, layanan video grade harus meningkat, fokus penetrasi layanan di luar Jawa dan tetap menjaga kualitas di Jawa. Dia yakin kompetisi lebih baik dengan pembatasan simcard. "Untuk kesiapan di 5G, kami justru lebih siap, mengingat Qatar negara pertama terapkan 5G, negara di mana pemegang saham kami berasal Ooreoo, membuat Indosat makin pede karena pemilik saham sudah berpengalaman,” terangnya.

Pergeseran ke dunia digital membuat layanan voice dan SMS menyusut, serta layanan data operator meningkat signifikan. Layanan data sudah membutuhkan akses internet dengan kualitas video-grade. Pergeseran ke digital ini tidak hanya berpusat di Jawa, namun ke luar pulau Jawa dan mulai merambah ke daerah pedalaman. Mengantisipasi hal ini, Indosat Ooredoo terus melakukan perubahan dan adaptasi yang diimplementasikan melalui program transformasi secara menyeluruh.

“Menegaskan visi perusahaan menjadi leading digital telco di Indonesia, kami mengimplementasikan transformasi ini secara menyeluruh di semua lini operasional bisnis melalui program yang kami namakan LEAD,” lanjut Chris.

Kepanjangan dari L (leaps towards an empowered high performance team), E (Established a competitive video-grade network), A (Accelerate of B2B as new engine of growth), D (Delivery value for money and earn customer trust). “Ini merupakan turunan dari LEADing Digital Telco in Indonesia, yang merupakan upaya kami dalam mengembalikan kejayaan perusahaan ini,” Chris menjelaskan.

LEAD juga merupakan arahan bagi semua unsur perusahaan tentang empat hal utama yang menjadi fokus perusahaan. Dari sisi SDM, perusahaan terus membangun tim SDM yang solid untuk membangun kinerja terbaik, menciptakan organisasi yang lincah dan berkinerja tinggi, serta kepemimpinan yang mendorong pertumbuhan talen masa depan.

Dari sisi jaringan, perusahaan terus berupaya membangun jaringan dengan kualitas video-grade yang kompetitif serta Membangun secara menyeluruh jaringan 4G, baik itu di Jawa dan luar pulau Jawa. B2B yang menjadi mesin baru pertumbuhan perusahaan juga terus dikembangkan dan pada saat yang sama terus memperkuat fundamental dalam layanan ICT. Tidak kalah pentingnya adalah terus berusaha mendapatkan kerpecayaan dan memberikan layanan terbaik dengan kualitas dan harga sepadan kepada pelanggan.

Berbagai pencapaian terkait dengan program transformasi perusahaan dalam 3 bulan pertama ini telah mulai dirasakan perusahaan. Di antaranya adalah program-program peningkatan SDM telah diprioritaskan menjadi fokus pertama di awal kepemimpinannya, yang diimplementasikan melalui Indikator Penilaian Kinerja yang menitikberatkan pada kinerja di semua lini organisasi. Pemetaan SDM berprestasi juga dilaksanakan di semua lini organisasi, termasuk pengembangan karir yang terintegrasi untuk SDM berprestasi.

Dari sisi bisnis, Chris juga telah berhasil membuat tren revenue secara stabil menguat dalam beberapa kuartal terakhir, perbaikan pada sistem distribusi layanan serta peluncuran beberapa produk baru yang lebih mengutamakan pull factor.  

Pembangunan infrastruktur jaringan juga dipercepat sejak awal kepemimpinannya, khususnya percepatan pembangunan 4G di seluruh Indonesia.
Hanya dalam waktu 4 bulan, jangkauan layanan 4G telah mencapai ~80% terhadap populasi nasional. Hal ini juga diikuti dengan peningkatan kualitas layanan Data untuk meningkatkan kualitas pelanggan dalam penggunaan video

Meyakini bahwa industri telekomunikasi di tahun 2019 akan menguat dan tumbuh dengan sehat sejalan dengan ekspektasi pasar, Indosat Ooredoo berkomitmen untuk terus meningkatkan penetrasi di pasar luar Jawa yang
mana ini akan membantu pertumbuhan perusahaan secara keseluruhan.

Perusahaan memprediksi bahwa permintaan terhadap jaringan video-grade 4G akan tetap tinggi di tahun 2019, menggantikan penurunan layanan voice dan sms. Sementara kompetisi akan tetap agresif tetapi dengan adanya peraturan pemerintah yang membatasi kepemilikan SIM untuk setiap pelanggan akan
merubah dinamika industry ke arah yang lebih baik

Untuk mendukung kerjanya, ia menunjuk direktur khusus menangani digital dan investasi dalam menghadapi perubahan industri telko ini.  Serta menunjuk direktur baru yang bisa mengakselerasi pendapatan B2B sebagai mesin pertumbuhan baru Indosat Ooredoo. Mereka adalah Arief Mustaim sebagai Direktur Inovasi dan Digital serta Intan Abdams Katoppo sebagai Chief Business Officer. Arief berpengalaman Telkom selama 25 tahun dan Intan seperti diketahui berpengalaman di banyak industri mulai dari FMCG, asuransi dan perhotelan.

Arief mengatakan di acara yang sama bahwa dalam menghadapi perubahan yang cepat di industri telko, penting diperhatikan membangun open ecosystem, memberikan tantangan bukan cara terutama saat ini 60% lebih pekerja didominasi generasi milenial, dan tentu saja ini untuk mendorong budaya inovasi di Indosat Ooredoo.

Intan mengatakan, saat ini Indosat Ooredoo tidak bisa lagi mengandalkan pednapatannya dari pulsa saja. “Lonjakan bisnis hanya bisa didorong dan dicapai dari B2B. Kami menargetkan pednapatan dari B2B mencapai 25% dari total revenue di 2019, tahun lalu masih di bawah 20%,” ungkapnya. Dua di antara yang potensial menyumbang pendaptan adalah dari proyek-proyek di bandara baru dan LRT.

Menanggapi dorongan buyback saham Indosat oleh pemerintah, Chris mengungkapkan bahwa upaya tersebut sudah dilakukan sejak tahun lalu.

Terakhir terkait CSR atau tanggung jawab sosial yang dilakukan Indosat Ooredoo, ia menjelaskan bahwa pihaknya kini pun makin fokus dalam menggelontorkan dana. Yaitu pada dua hal yaitu fokus tangani bencana dan pendidikan. “Kami memiliki jalur tugas dan kepimpinan langsung, misal dalam menangani bencana di Anyer dan Sulser,” ujarnya.  

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)