Ini yang Bikin Fintech Melesat

Industri Financial Technology (Fintech) berkembang pesat di Indonesia. Ratusan bank yang ada tak mampu menyelesaikan masalah klasik, yaitu rendahnya akses perbankan di Tanah Air. Dari sekitar 240 juta masyarakat, baru sekitar 20% yang mau menggunakan layanan bank.

“Artinya, masih ada sekitar 80% penduduk yang belum berhubungan dengan bank. Ini adalah pasar yang potensial untuk bisnis Fintech,” kata Hermawan Thendean, Executive Vice President PT Bank Central Asia Tbk.

Hermawan Thendean, VP Eksekutif Bank BCA Hermawan Thendean, VP Eksekutif Bank BCA

Tergiur dengan fulus bejibun, deretan startup Fintech pun lahir bak cendawan di musim hujan. Semuanya menawarkan layanan yang mirip dengan perbankan. Bedanya, mereka tak perlu repot membuat rekening atau mengunjungi kantor cabang bank.

Bank-bank di Tanah Air pun dibuat ketakutan dengan banyaknya startup Fintech yang bermunculan. Mereka pun tak tinggal diam dengan juga melahirkan layanan serupa. Layanan itu haruslah mudah diakses lewat smartphone.

“Harga smartphone makin murah dan terjangkau. Jumlah pengguna internet pun sudah mencapai sekitar 82 juta orang atau sepertiga dari populasi Indonesia dan akan terus bertambah. Perilaku konsumen yang berubah mendukung perkembangan Fintech,” katanya.

Menurut dia, BCA sendiri telah memiliki Sakuku yang didesain untuk mereka yang belum memiliki rekening di bank. Dengan produk tersebut, nomor ponsel bisa menjadi nomor rekening. Masyarakat juga mudah mendaftar karena prosesnya yang sederhana ketimbang membuka rekening di bank.

“Mereka bisa melakukan banyak transaksi, seperti membayar, membeli pulsa. Keunggulannya, pengguna Sakuku bisa meminta pulsa atau meminta uang kepada sesama pengguna Sakuku selama mereka saling kenal,” katanya.

Dia menyarankan perbankan dan institusi keuangan yang lain tidak melihat kehadiran Fintech sebagai ancaman. Tetapi, peluang untuk bekerja sama di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Kolaborasi keduanya bisa berdampak positif, yakni mendorong roda ekonomi berputar lebih kencang.

“BCA sendiri, selain Sakuku, ada MyBCA, digital banking yang mengambil lokasi di mall. Dengan jam buka yang fleksibel. MyBCA mengikuti jam operasional mall dari jam 10 pagi sampai 10 malam, 7 hari seminggu,” katanya.

Bank milik Grup Djarum ini juga tak ingin ketinggalan membangun negeri dengan menggelar kompetisi Financial Technology Hackaton (Finhacks), yang berkolaborasi dengan industri dan pengembang aplikasi untuk bersama-sama membangun inovasi sistem pembayaran digital di Indonesia. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)