Kappa Carrageenan Nusantara, Riset Berkesinambungan Hasilkan Produk Bernilai Tambah

Pontas Tambunan, pendiri dan CEO PT Kappa Carrageenan Nusantara (KCN)
Pontas Tambunan, pendiri dan CEO PT Kappa Carrageenan Nusantara (KCN), produsen tepung karagenan (refined carrageenan) dan agar-agar

Perusahaan makanan dan minuman melakukan riset berkesinambungan untuk menghasilkan produk inovatif. Biasanya, manajemen perusahaan ini memiliki tim di divisi riset dan pengembangan (R&D) untuk melakukan hal tersebut. Hal seperti itu pun dipraktikkan oleh PT Kappa Carrageenan Nusantara (KCN), produsen tepung karagenan (refined carrageenan) dan agar-agar.

KCN adalah produsen makanan berbasis rumput laut. Perusahaan yang relatif baru di industri rumput laut (berdiri sejak 2012) ini memiliki pabrik di Pasuruan, Jawa Timur, yang kapasitas produksinya 15 ton per bulan. Pabrik ini mengolah rumput laut, yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi beberapa varian produk. Sebut saja, ekstraksi gracillaria, yang menghasilkan alkali treated gracillaria, bahan baku agar-agar; dan ekstraksi cottonii, yang menghasilkan alkali treated cottonii untuk bahan baku tepung atau semi refined carrageenan.

Keunggulan produk KCN, seperti disebutkan Pontas Tambunan, pendiri dan CEO-nya, diakui salah satu produsen terbesar di Tiongkok. “Itu testimoni mereka di tahun 2018,” ujar Pontas. KCN memasok produk-produk berbasis rumput laut ke beberapa perusahaan makanan dan minuman kelas kakap di dalam negeri, yaitu Garudafood, Grup Orang Tua, Swallow, dan Ajinomoto. Di Indonesia, menurut Pontas, sebagian besar perusahaan yang bergerak di industri rumput laut tergolong trader.

Tantangan kami sebagai produsen adalah kesulitan untuk mendapatkan raw material. Perusahaan trader lebih cepat mendapatkannya. Bisnis ini bagus, asalkan bisa mengelola sumber bahan baku dan ekosistem pendukungnya,” kata Pontas tatkala dijumpai SWA di Kantor KCN, Bekasi, Jawa Barat, akhir Juli lalu. Potensi industri rumput laut ditaksir senilai US$ 34 miliar atau setara Rp 459 triliun (kurs Rp 13.500/US$).

Di pasar global, karagenan merupakan produk yang bernilai ekonomi tinggi. KCN menjadi salah satu dari 30 perusahaan di Indonesia yang menggarap bisnis ini. Pontas menyebutkan, rumput laut merupakan kebutuhan global untuk membuat sosis. “Sekitar 80% rumput laut untuk produksi sosis tersebut berasal dari Indonesia,” ujar Pontas. Sayangnya, Indonesia cenderung mengekspor rumput laut sebagai bahan mentah. Ekspor rumput laut Indonesia dalam setahun belakangan ini mencapai Rp 16 triliun dalam bentuk bahan baku. Di sisi lain, permintaan konsumen di Eropa dan Amerika Serikat adalah produk olahan rumput laut. Saat ini, menurut Pontas, beberapa perusahaan di Indonesia mengekspor produk olahan rumput laut ke Eropa.

Mempertimbangkan hal seperti itu, Pontas menegaskan, pihaknya konsisten mengembangkan program R&D. “Backbone perusahaan kami adalah riset. Awalnya, kami menggunakan teknologi bekas, bukan new technology. Setelah itu, kami terus melakukan pengembangan,” katanya menerangkan. Divisi R&D di pabrik KCN, Pasuruan, telah menghasilkan beberapa produk inovatif berbasis rumput laut. “Contohnya, kapsul obat, plastik, bata ringan, dan pupuk yang based-nya rumput laut. Kapsul obat sudah berjalan, namun untuk plastik masih dalam tahap pengembangan. Kami membuat plastik yang 20% bahannya dari rumput laut,” tutur Pontas. Kapsul obat buatan KCN sudah teruji. “Dan, bisa bersaing dengan kapsul obat rumput laut buatan perusahaan lain,” tambahnya.

Untuk pengembangan teknologi, KCN bekerjasama dengan perguruan tinggi. Pontas mengatakan, teknologi yang diaplikasikan di perusahaannya pada 2012-2014 itu menggunakan teknologi dari Tiongkok. Selanjutnya, pada 2015 perusahaan ini mengubah haluan. Mereka mengembangkan teknologi yang dikembangkan oleh tenaga ahli dari internal KCN. Fase trial and error dialaminya ketika mengembangkan beragam metode di masa itu. Saran dari pelanggan dipertimbangkan untuk menyempurnakan teknologi.

Pada 2019, mereka mempraktikkan pengembangan metode terbaru dalam meningkatkan kualitas operasional serta efisiensi biaya operasional di pabrik sebesar 20%. Inilah salah satu hasil manis pengembangan teknologi yang dihasilkan KCN. Apabila menengok ke belakang, hasil seperti ini merupakan proses pengembangan teknologi yang berkesinambungan.

Menurut Pontas, Divisi R&D berkolaborasi dengan beberapa akademisi perguruan tinggi di Jawa Timur, yakni Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan Universitas Negeri Malang, serta memberikan bimbingan teknis kepada mahasiswa yang sedang menulis skripsi dalam mengembangkan gagasan inovatif atau mengaplikasikan ide tim riset KCN di pabrik KCN. Selanjutnya, KCN bekerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Kemitraan ini memudahkannya berkolaborasi dengan petani rumput laut di pedesaan.

Caranya, petani rumput laut diberi bimbingan mengenai budidaya rumput laut yang berkesinambungan, menekan ongkos produksi, menjembatani petani dengan industri, serta membuka akses pendanaan petani dengan bank BUMN, swasta, atau financial technology (fintech). KCN berencana mengembangkan program itu di 26 kabupaten di Ja-Tim dan Maluku. “Saat ini kami fokus di pengembangan riset, berekspansi ke desa-desa dalam bentuk transfer ilmu dan manajemen. Masyarakat harus memiliki visi untuk memasok bahan baku ke produsen dalam negeri. Program ini akan di-launching pada 30 Agustus. Rencananya, kami akan membuat mini plan di setiap desa yang ditopang aplikasi digital,” kata Pontas.

KCN juga menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk mengaplikasikan Internet of Things (IoT), guna membantu nelayan mengakses informasi cuaca, mencegah penyakit rumput laut, dll. KCN menyiapkan blockchain di kapal agar bisa diaplikasikan nelayan untuk mengatur jadwal penggunaan kapal untuk mengelola rumput laut. “Harga kapal sekitar Rp 15 juta per unit dan hanya dipakai selama 3-4 jam. Jika menggunakan blockchain, kapal tersebut bisa digunakan dan dimiliki bersama. Teknologi yang akan mengatur jadwalnya dan masyarakat yang akan mengoperasikannya. Jadi, tidak perlu memiliki banyak kapal karena mereka harus bayar kredit ke bank, memelihara, dan lain-lain,” tutur pria yang pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan Kementerian BUMN di tahun 2015 ini.

Agar programnya tepat sasaran, KCN berpartisipasi aktif melatih nelayan dan petani rumput laut supaya kompetensi mereka kian meningkat. “Selain itu, kami membangun marketplace bernama Jaring Laut untuk memangkas alur rantai pasok penjualan hasil laut dan fintech Dana Laut untuk mendanai para petani dan pedagang,” Pontas menjelaskan. Fintech ini mulai beroperasi pada Juni 2018 dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Lender (investor/pemberi pinjaman) di Dana Laut mencapai 6 ribu. Pengembangan digitalisasi ini dikerjakan oleh tim digital KCN yang beranggotakan 10 orang. (*)

Anastasia Anggoro Suksmonowati & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)