Kota Denpasar, Fokus Ekonomi Kreatif

Kota Denpasar resmi berdiri tahun 1992 setelah sebelumnya merupakan Ibukota Kabupaten Badung. Dengan luas 127,78 km2 atau 2,27% dari total wilayah Provinsi Bali, Kota Denpasar menjadi daerah tingkat II terkecil di Bali yang terbagi menjadi 4 kecamatan dengan 43 desa/kelurahan.

Sebagai kota yang miskin sumber daya alam namun mempunyai interaksi sosial ekonomi yang lebih tinggi daripada 8 daerah tingkat dua yang lain, Denpasar menjelma menjadi kota kreatif namun tak meninggalkan kearifan lokal.

“Kami concern pada penguatan ekonomi kerakyatan yang berlandaskan ekonomi kreatif. Saya memang senang dalam tatanan mikro menengah, bagaimana membuat penguatan-penguatan yang dilandasi kreativitas,” ujar Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, yang dilantik 11 Agustus 2010 silam.

Rai Mantra, panggilan akrabnya, mengakui sejak awal memang merancang dan menggerakkan pembangunan kota Denpasar dengan kreativitas sebagai landasan utama. Dalam dua tahun pertama, mantan Ketua Hipmi Bali itu berhasil membawa Kota Denpasar meraih berbagai penghargaan tingkat Nasional.

Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra

Penghargaan baginya bukan tujuan. Namun, menjadikan warga Denpasar mandiri dengan daya kreasi, inovasi, dan jiwa kewirausahaan adalah tujuan utama hingga akhir masa jabatannya 11 Agustus 2015 lalu.

Dia memulai gerakan ekonomi kreatif dengan menjabarkan apa itu kreatif, kreativitas, dan bagaimana cara membangkitkannya. Kemudian, memetakan potensi kreatif yang ada dan mengaplikasikannya di masyarakat.

“Untuk mempercepat tingkat pertumbuhan, kita harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Semua orang harus kreatif agar bisa kuat dalam iklim persaingan dunia yang semakin ketat ini, tidak hanya pemerintah yang kreatif, masyarakat pun harus kreatif.”

Lewat British Council yang memberi masukan tentang konsep ekonomi kreatif dan bagaimana membangun sebuah creative city, dari sebuah kota yang tidak mempunyai value menjadi punya value berharga, Rai Mantra berhasil menghidupkan kembali kawasan jalan Gajah Mada yang sudah lama “mati suri” menjadi heritage city.

Caranya, dengan membangkitkan kembali sejarah kawasan yang berkaitan erat dengan Puputan Badung dan pernah menjadi pusat interaksi antara masyarakat Bali dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

Ekonomi kreatif menurut dia tidak hanya mencakup sektor ekonomi, tapi lebih luas dari itu. Sektor pertanian dan perikanan dengan kreativitas tinggi bisa dikembangkan sehingga memiliki daya saing dan merebut perhatian, serta bahkan menguasai pasar.

Menjadikan Denpasar kota kreatif berwawasan budaya dalam keseimbangan menuju keharmonisan, menurut Rai Mantra lalu ditetapkan menjadi visi Denpasar. Kreativitas bisa lebih dipahami jika ada satu landasan filosofi yang berakar dari kultur yang mereka kenal, bukan dari kultur baru.

“Bagaimana kita secara kreatif mengeksploitasi kearifan lokal dan mensinergikannya dengan perangkat modern untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan diterima oleh orang banyak,” katanya. (Reportase: Silawati)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)