Martha Tilaar, Konsisten Junjung Kearifan Lokal

Beberapa waktu lalu (14/1), SWA online mendapat kesempatan berbincang secara khusus dengan seorang pemain lama dalam industri kosmetik, Martha Tilaar. Alih-alih tergesa di tengah ketatnya jadwal sebagaimana dikira SWA, perempuan yang masih anggun meski sudah berkepala 7 ini justru bertutur tentang kearifan lokal yang jadi inti bisnisnya. Bagi pebisnis yang dikejar-kejar target tahun 2013, tuturan Martha pasti dinilai kuno. Tapi, mereka yang berbisnis karena passion akan diteguhkan sebab Martha sudah lebih dulu merasakan susahnya merintis usaha. Luangkan waktu sejenak membaca percakapan SWA Online dengan wanita kelahiran Gombong, Jawa Tengah itu.

Sejak dulu, bisnis Anda lekat dengan kesan kearifan lokal. Mengapa Anda begitu konsisten dengan hal itu?

Ceritanya begini. Setelah 15 tahun menikah, baru saya punya anak. Saya sudah berobat ke Swiss, Belanda, ke mana-mana. Tapi, semua dokter berkata saya mandul, termasuk dokter Indonesia. Maka, saya pun menekuni kearifan bangsa, yaitu jamu, bersama nenek saya. Dan ternyata saya hamil. Menjelang melahirkan,

Martha Tilaar

dokter memperingatkan, “Kalau anakmu cacat, itu bukan salah saya, tapi karena kamu minum banyak jamu.” Ternyata 2 dari 4 anak saya lulus cum laude dari perguruan tinggi. Ini meyakinkan saya untuk melestarikan kearifan bangsa. Heran, mengapa dokter-dokter kita alergi pada kebudayaan sendiri?

Tentunya butuh lebih dari sekadar keyakinan buat menguasai wawasan tentang jamu dan bahan-bahan tradisional lainnya sampai sejauh ini.

Saya ini “bonek” alias bermodalkan nekat. Jadi, saya nekat melestarikan, tapi tidak mudah karena pada tahun '70-an, saya tidak punya akses pengetahuan tentang jamu. Berbeda dengan sekarang, sudah banyak majalah. Jadi, saya harus pergi ke dukun beranak dan penyembuh (healer) untuk belajar. Tapi, saya dianggap gila, padahal saya belajar dari dukun yang mengobati, bukan dukun klenik. “Martha Tilaar itu dari Amerika, tapi pergi ke dukun,” cibir orang-orang. Saya sedih sekali, tapi suami mendukung. “Teruskan. Sebab kalau 1 dukun meninggal, 1 perpustakaan terbakar,” katanya.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)