Pameran Paviliun Indonesia di Kanada Capai Transaksi Jutaan US$

Dari sisi jarak, Indonesia-Kanada memang terbilang jauh. Tetapi, masalah itu tak menyurutkan langkah pemerintah menjajakan produk-produk buatan anak negeri. Selama tanggal 30 April-2 Mei lalu, negara republik ini berpartisipasi dalam pameran Salon International de l'Alimentation (SIAL) Canada, di Toronto, Kanada.

Hasilnya? Jutaan US$ berhasil diraup oleh sejumlah perusahaan yang diboyong dari Tanah Air. “Selama pameran berlangsung serta tindak lanjut dari kegiatan forum bisnis diikuti one on one business matching, telah terjadi transaksi dagang dengan estimasi senilai US$ 4.504.000 dan lebih dari 300 inquiries yang diperoleh peserta Indonesia,” terang Pradnyawati, Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Kementerian Perdagangan.

Menurut Pradnyawati, Misi Penjualan Indonesia ke Kanada dimaksudkan untuk mempertemukan dan mendekatkan pelaku industri makanan dan minuman Indonesia ke pasar Kanada.  Tentu saja, strategi melihat langsung pasar Kanada lebih efektif ketimbang pebisnis tahu dari informasi-informasi sekunder. Berinteraksi secara langsung dengan pengusaha dan konsumen setempat menjadi salah satu cara perusahaan untuk mengetahui produk seperti apa yang disukai dan dibutuhkan oleh mereka.

“Jarak antara Indonesia dengan Kanada seharusnya tidak menjadi hambatan karena beberapa importir Kanada terbukti telah berhasil menjalin hubungan bisnis dengan eksportir Indonesia,” ujarnya.

Duta Besar LBBP RI untuk Kanada, Dienne Hardianti Moehario, menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia dalam SIAL Canada menjadi bukti keinginan Indonesia untuk meningkatkan hubungan perdagangan dengan Kanada yang pada 2012 mencapai nilai US$ 2,9 miliar. “Pemerintah RI di pusat dan perwakilan di luar negeri senantiasa memberikan dukungan dan fasilitasi penuh pada setiap upaya peningkakan kerja sama perdagangan Indonesia-Kanada,” terang Dienne.

Pada pameran SIAL Canada ini, Indonesia kembali menampilkan paviliun dengan konsep “Trade with Remarkable Indonesia”. Paviliun Indonesia bersaing dengan 758 peserta pameran dari 45 negara seperti Maroko, Italia, Amerika Serikat, Perancis, China, Aljazair, dan Meksiko.

Paviliun Indonesia yang menampilkan produk makanan dan minuman dari sebelas perusahaan, diantaranya Niramas Utama yang hadir dengan produk nata de coco, lidah buaya, dan agar-agar, lalu ada Aksara Kencana Putra (madu segar alami, gula aren, teh hijau), dan Indofood (mie). Adapun produk-produk yang banyak menarik minat buyer Kanada, antara lain madu kualitas premium, makanan organik, nata de coco, lidah buaya, kopi, produk horeka, dan kelapa kering.

Selama berlangsungnya pameran dagang, Paviliun Indonesia juga mendapat kunjungan dari Direktur Trade Facilitation Office of Canada (TFO), yaitu lembaga non pemerintah dan non profit telah berdiri sejak tahun 1980. Lembaga ini berafiliasi dengan Canadian International Development Agency (CIDA), sebuah badan yang membantu negara-negara berkembang di dunia untuk mengembangkan kemampuan ekspor memasuki pasar Kanada.

Pada kesempatan tersebut, Direktur TFO menyampaikan akan memberikan bantuan jasa dan kegiatan kepada Indonesia, seperti informasi pasar Kanada dalam website www.tfocanada.ca, bantuan program pelatihan dan pengenalan pasar Kanada bagi perwakilan perdagangan di luar negeri wakil negara-negara berkembang yang ada di Kanada, bantuan riset pasar bagi program MBA, serta pelatihan dan pengembangan ekspor.

Bahkan, salah satu peserta pameran yaitu Aksara Kencana Putra akan menerima bantuan teknis dari TFO mengenai peningkatan kemampuan ekspor ke Kanada. Perusahaan tersebut akan menjadi subyek studi mahasiswa S2 dari University of Ottawa untuk program 2013-2014. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)