Pentingnya Keterlibatan Perempuan dalam Pengelolaan SDA yang Setara

Para local champion Papua & Papua Barat dalam acara temu nasional.

Untuk mengapresiasi perempuan dalam menjaga hutan dan lahan, sekaligus memperingati hari perempuan internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret. The Asia Foundation (TAF) menggelar acara forum pertemuan tahunan dengan para pemimpin lokal Papua dan Papua Barat, pada 14 Maret – 15 Maret 2019 di Jayapura. Forum ini digagas untuk saling berbagi mengenai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan SDA seperti, penegakan hukum di sektor hutan lahan, penataan perizinan industri berbasis lahan di sektor perkebunan, pertambangan dan kehutanan, serta memastikan pelibatan komunitas yang hidupnya tergantung pada hutan termasuk kelompok perempuan.

Sebelumnya, TAF melalui program tata kelola hutan dan lahan telah dilakukan di wilayah Papua dan Papua barat sejak tahun 2017, dengan melibatkan kelompok perempuan di provinsi tersebut.

Lili Hasanuddin, Director Environmental Program The Asia Foundation mengatakan selama proses kegiatan, telah muncul calon-calon pemimpin perempuan untuk lebih memperkuat kapasitas perempuan lokal dalam keterlibatannya di gerakan. "Program yang dilakukan misalnya meningkatkan kapasitas dalam memahami regulasi untuk mendorong penetapan hutan adat termasuk melakukan pemetaan partisipatif, memahami tentang review perizinan, melakukan permintaan informasi public serta melakukan penguatan perekonomian lokal hingga membuka pasar,” kata dia

melalui program ini, telah muncul banyak pejuang lokal misalnya, di Kabupaten Manokwari Selatan, Mama Ester Dimara yang bekerja sama dengan mitra CSO-Paradisea untuk memastikan pengakuan wilayah adat kampungnya melalui skema hutan adat. Dari Papua, Mama Rosita Tecuari bersama lembaga Pt.PPMA yang telah mendorong perempuan-perempuan di kabupaten Jayapura untuk bisa lebih waspada atas kekerasan domestik yang menimpa mereka. Di Kabupaten Fak-Fak, ada sejumlah perempuan yang terlibat dalam penyusunan draft Peraturan Bupati (Perbup) pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam yang lebih partisipatif dan memastikan bahwa regulasi tersebut memberikan mandat keterlibatan perempuan dalam pengelolaan SDA.

Lebih jauh, Margaretha Tri Wahyuningsih,
Gender Focal Point The Asia Foundation mengatakan,
pertemuan ini diharapkan akan
menjadi forum bagi pemimpin perempuan untuk berbagi tantangan dalam
pengelolaan SDA. Pertemuan ini
juga digelar untuk mendengar masukan dari pihak pemerintah untuk
mengatasi permasalahan yang ada dan mendorong percepatan pengelolaan
SDA yang setara
di wilayah mereka. “Selain itu, pertemuan ini juga menjadi
forum refleksi dan berbagi pengalaman antar pemimpin perempuan di
tingkat lokal untuk mendorong keadilan dan kesetaraan dalam
pengelolaan ruang dan SDA di provinsi Papua dan Papua Barat,” kata
Margaretha.

Pada tahun sebelumnya, acara serupa diadakan di Jakarta dengan mengumpulkan local champion dari Aceh, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua yang memiliki komitmen utnuk menciptakan pengelolaan hutan dan lahan yang adil dan setara.

Selama dua hari, forum ini akan membagikan pengalaman para kelompok perempuan dan local champion yang mendorong pengakuan hak adat, advokasi tata ruang dan wilayah, penganggaran yang memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender. Forum ini juga direncanakan akan membahas masalah yang dialami perempuan di bidang pertanian, terutama dalam mengelola hasil menjadi produk, dan membuka akses pasar untuk mendorong produktivitas komunitas.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)