Penurunan Suku Bunga Acuan BI Sinyal Positif?

Priasto Aji, Ekonom Asian Development Bank memberikan keterangan pers usai acara peluncuran Asian Development Outlook Update 2017 (foto: Arie Liliyah/SWA)

Bank Indonesia kembali mengeluarkan kebijakan memangkas suku bunga acuan, BI 7-day Reverse Repo Rate.

Selama periode Januari 2016 – September 2017, BI tecatat sudah menurunkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin (bps). Kebijakan ini tentu bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit di Indonesia.

Menurut catatan BI sendiri, pertumbuhan kredit Juli 2017 masih rendah yaitu tercatat 8,2 persen (yoy), sedikit membaik dari bulan sebelumnya 7,8 persen (yoy). Pertumbuhan kredit yang tinggi hanya terjadi pada sektor konstruksi, listrik, jasa dan pertanian, sedangkan sektor-sektor yang lain masih rendah.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juli 2017 tercatat 9,7 persen (yoy), menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya 10,3 persen (yoy), terutama pada DPK valas.  Ke depan, intermediasi perbankan diperkirakan akan membaik sejalan dengan penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran kebijakan makroprudensial oleh Bank Indonesia, serta kemajuan dalam konsolidasi perbankan dan korporasi.

Lalu pertanda baik atau buruk terhadap likuiditas global? Ekonom Asian Development Bank, Priasto Aji, mengatakan ,kebijakan yang diambil BI kemungkinan tidak akan berdampak ke likuiditas global. Kenapa?

Menurutnya, karena likuiditas global akan cukup stabil hingga beberapa tahun ke depan. Priasto mengacu pada balance sheet negara-negara yang tergabung dalam G4, “ Kami perkirakan itu akan diklaim gradually top di tahun 2018, US$ 25 triliun, kemudian akan turun, tapi tidak akan berdampak terlalu besar terhadap likuiditas global,” jelasnya.

Priasto mengungkapkan, ada beberapa asumsi. Pertama Jeoang yang akan tetap melakukan buying karena inflasinya cukup rendah. Kedua, uang cash yang dipegang oleh individu non-bank atau entitas non-bank cukup besar, ada ekses sebesar US$ 5 triliun.

Jadi dengan BI mengumumkan rencana untuk normalisasi, menurut Priasto efeknya masih dibisa di tata dan dikendalikan, “Makanya BI berani, dan sekarang ini memang waktunya untuk menorong pertumbuhan kredit, ini (penurunan suku bunga acuan) sangat tepat karena memang kita butuh,” ujar Priasto.

Menurut Priasto, hal tersebut juga perlu didukung dengan kebijakan fiskal. Strategi pemerintah yang mendorong capital project harus dilakukan oleh pemerintah daerah dan swasta lokal,  menjadi salah satu pendukung untuk menggerakkan konsumsi dan daya beli di daerah.

Kemudian dari sisi penataan proyek infrastruktur pun sudah cukup bagus, meski reformasi kebijakan fiskal yang dilakukan Kementerian Keuangan mengakibatkan beberapa proyek infrastruktur menjadi prioritas dan sisa yang lainnya menjadi urutan kebelakang. “Semua demi mendorong konsumsi karena memang itu sangat-sangat dibutuhkan, kalau melihat kedepan ini memang butuh insentif untuk masyarakat, “ungkapnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)