Perusahaan-Perusahaan Indonesia Mesti Segera Beradaptasi Dan Bertransformasi

 

Tahun 2018 merupakan tahun bisnis yang sangat menantang. Banyak peluang bisnis baru yang bisa digarap, namun juga ada sejumlah pekerjaan rumah yang mesti dibereskan para pelaku bisnis di Indonesia agar bisa survive dan bisnisnya berkembang. Akan banyak terjadi perubahan tak terduga di pasar sehingga butuh antisipasi strategi yang tepat dari kalangan pelaku bisnis.

 

Reporter SWA, Yosa Maulana, berkesempatan mewawancarai Irhoan Tanudiredja, pakar manajemen strategis yang juga Territory Senior Partner PricewaterhouseCoopers Indonesia (PWC), tentang dinamika bisnis 2018 dan hal-hal yang mesti dipersiapkan kalangan pebisnis di Indonesia agar tetap survive kedepan. Berikut ini petikan wawancaranya:

 

Bagaimana tantangan dunia bisnis di tahun 2018?

 

Dilihat dari indikator ekonomi global maupun Indonesia, seharusnya  pada tahun 2018 ini, momentum perbaikan ekonomi yang sudah terjadi di Indonesia akan berlanjut. Momentum perbaikan sudah dimulai pada 2016, dan mulai membaik pada 2017. Apabila pemerintah konsisten melaksanakan kebijaksanaannya, maka momentum ini akan terus berlanjut pada 2018. Apakah berarti ada panen besar? Ini tentu butuh waktu karena pekerjaan rumahnya cukup banyak. Melakukan sesuatu yang besar maka perlu waktu yang cukup panjang. Sekarang baru masuk  tahun ketiga, mungkin dua tahun lagi lebih bia dirasakan. Kita sudah melihat ada perbaikan. Faktor ekonomi makro Indonesia juga membaik.

 

Ada temuan baru PWC?

 

Dari proyeksi PWC, kemampuan daya beli Indonesia pada 2030 sebesar US$ 5.434 triliun, berada di peringkat 5 dunia. Ini tentunya dengan beberapa parameter yang harus dijaga secara konsisten oleh pemerintah. Untuk bisa menjaga momentum pertumbuhan ini pemerinth perlu memperkuat sumber penerimaan negara tanpa mengurangi iklim investasi yang ada. Iklim investasi harus dipertahankan dan efisiensi birokrasi terus ditingkatkan.

 

Apa saja driver pertumbuhan bisnis saat ini dan apa yang mesti dilakukan oleh para pelaku bisnis?

 

Yang pasti sekarang ada perubahan teknologi, perusahaan harus beradaptasi dengan melakukan transformasi. Kalau menjalankan bisnis model lama mungkin untuk bertahan akan lebih sulit. Harus berubah, harus menerapkan teknologi yang lebih pas. Banyak hal yang mesti ditinjau kembali pada bisnis model yang ada sekarang. Contoh yang paling klasik, salah satu perusahaan taksi sekarang mesti berusaha menerapkan aplikasi teknologi yang lebih terkini untuk merespons kepuasan pelanggan. Kalau mereka tidak mengubah tentu mereka akan tertinggal.

Tentu tiap industri harus berbeda cara meresponsnya. Akan terlalu panjang untuk dijelaskan masing-masing, tapi secara umum harus ada fokus bagaimana melihat model bisnis yang ada sekarang, apakah sudah sejalan dengan keinginan konsumen era sekarang atau belum. Bila perusahaan semakin mengerti penerapan teknologi di dalam bisnis modelnya, menurut saya mereka akan mempunyai kesempatan untuk bertahan lebih kuat.

 

Apa saja sektor bisnis yang 1-2 tahun kedepan akan tumbuh baik?

Saya sejalan dengan pandangan BPS. Ada beberapa sektor yang pertumbuhannya akan berlanjut, contohnya konstruksi dan infrastruktur. Bisnis asuransi juga akan tumbuh. Maklum tingkat literasi finansial masyarakat Indonesia masih rendah, jadi dari segi keuangan seperti asuransi bisa tumbuh. Demikian juga sektor informasi dan komunikasi, akan berlanjut tumbuh cukup tinggi.

 

Apa saja peluang-peluang bisnis baru yang bisa digarap ?

Bisnis untuk ceruk-ceruk baru bisa digarap dengan pola online startup. Kita sedang berada dalam masa transisi dari ekonomi tradisional menjadi ekonomi data. Ekonomi yang berdasarkan shared economy akan meningkat pesat dibanding yangberdasarkan basis produksi seperti sektor manufaktur. Jasa disini termasuk transportasi, keuangan, dan travelling. Peluang baru bisa dilihat dari pergeseran pola konsumsi di masyarakat.

 

Dari sektor keuangan, apa saja inovasi model pengelolaan keuangan yang bisa diterapkan?

Inovasi terbaru adalah munculnya fintech company, crowd funding, dan sejenisnya. Bank harus bisa melihat tantangan di area tersebut dan mesti bisa melihat apa yang diinginkan konsumen. Mengapa fintech tumbuh, karena banyak keinginan konsumen yang bisa terpenuhi oleh bank konvensonal. Untuk itu harus melihat model bisnisnya apakah ada yang perlu diubah.

 

Bagaimana dengan strategi PWC sendiri?

Kami juga berusaha beradaptasi. Dari sisi internal, secara proses kami harus lebih efisien, menerapkan teknologi, menerapkan servis yang lebih relevan ke consumer. Juga menyelaraskan dengan fokus pemerintah yang banyak mengembangkan infrastruktur. Dari segi sumber daya, kami juga menjaga organisasi dan bidang konsultan ini tetap terlihat atraktif bagi generasi muda.Contohnya melalui penerapan teknologi mobility. Kami menerapkan teknologi komunikasi dengan klien dan komunikasi internal. Sekarang lebih paperless dan akan segera dikembangkan sistem berbasis cloud.

 

Sudarmadi & Yosa Maulana

 

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)