Resep Sunarso Memuluskan Digitalisasi di Pegadaian

Sunarso Sunarso, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero)

PT Pegadaian (Persero) sejak Oktober 2017 dipimpin oleh Sunarso. Dia diangkat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno sebagai Dirut Pegadaian. Sunarso yang berpengalaman di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. lebih dari dua dasawarsa diyakini pemegang saham sebagai sosok yang tepat untuk membesarkan bisnis Pegadaian. Usai dilantik, Sunarso segera bergerak lincah mewujudkan cetak biru dan rencana bisnis Pegadaian.

Guna memuluskan cetak biru itu, Sunarso melakukan transformasi digital, di antaranya membenahi produk, layanan, dan proses kerja, serta melakukan tranformasi budaya kerja yang berbasis tata kelola perusahaan yang baik (GCG/good corporate governance). “Kami akan bertransformasi, melakukan digitalisasi di business process dan business model serta kultur kerja digital untuk mengubah mindset pegawai. Untuk itu, dibutuhkan gaya kepemimpinan yang inspiratif, memotivasi dan menjalin komunikasi yang baik,” tutur Sunarso mengenai program transformasi di Pegadaian.

Dia berkomitmen untuk menyuntikkan ide-ide segar, mencontohkan kepemimpinan yang menginspirasi dan memotivasi awak Pegadaian. Tujuannya, meningkatkan daya saing perusahaan ke depannya. Dia mewanti-wanti, persaingan bisnis di era disrupsi digital ini sangat ketat sehingga perusahaan yang relatif baru bisa menggeser perusahaan mapan.

Peringatan Sunarso ini bukan isapan jempol jika mencermati kiprah perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech) yang dalam 3-5 tahun terakhir ini mengusik kenyamanan perusahaan jasa keuangan yang sudah mapan. Tentu, ia tidak menginginkan Pegadaian tersungkur gara-gara tidak peka dalam menindaklanjuti perubahan lanskap bisnis tersebut. “Transformasi kultur diarahkan untuk menggugah kami tentang kekuatan Pegadaian yang disesuaikan dengan kekuatan digital,” katanya.

Langkah konkretnya, antara lain, menyempurnakan sistem keuangan dan pelaporan online, serta merancang sistem dan aplikasi digital yang memudahkan nasabah menggadaikan barang, misalnya emas, melalui kanal online. “Yang akan datang, nasabah yang menggadaikan emas tidak perlu mendatangi gerai Pegadaian, tetapi melalui aplikasi Gadai Online. Fitur-fiturnya, seperti proses verifikasi dilakukan, lalu petugas Pegadaian ke lokasi nasabah menaksir emas atau barang yang digadai. Tidak perlu kasir, setelah ditaksir nilainya, dana ditransfer melalui aplikasi di ponsel dengan cukup, misalnya, menempelkan QR code Pegadaian,” dia menjelaskan tahapan gadai emas online.

Gadai digital ini diharapkan akan tersedia tahun depan. Rencana ini merupakan bagian dari program perseroan membudayakan proses digital, mengedukasi nasabah dalam meningkatkan literasi keuangan, dan menarik minat nasabah dari kalangan laki-laki untuk tidak sungkan-sungkan menggadaikan barang ke Pegadaian. “Sekitar 72% nasabah kami adalah perempuan yang mayoritas ibu rumah tangga berusia 25-45 tahun. Nasabah laki-laki sepertinya enggan dan malu ke Pegadaian. Dengan Gadai Online ini, kami berharap bisa meningkatkan porsi laki-laki di demografi nasabah Pegadaian. Ini peluang bisnis,” ia menambahkan. Sunarso optimistis layanan digital itu akan menyedot minat nasabah.Sunarso

Indikasinya, lanjut dia, tampak dari jumlah nasabah di Pulau Sumatera yang sebagian berasal dari kalangan mahasiswa. “Mereka membutuhkan proses yang sederhana dan fleksibel. Transformasi kami ke depannya adalah menghadirkan Pegadaian di kafe dan transaksinya harus digital,” ujar pria kelahiran 7 November 1963 itu. Langkah selanjutnya, menyiapkan kolaborasi antara Pegadaian dan perusahaan fintech, yang salah satu targetnya menggeser pola transaksi nasabah konvensional ke layanan digital. Sebanyak 6 juta nasabah dari 9,5 juta nasabah Pegadaian tercatat masih melakukan transaksi konvensional.

Tak hanya itu, Pegadaian bakal memperluas basis produk non-gadai. Barang gadai itu, kata Sunarso, bukan hanya emas, tetapi juga lahan produktif, seperti lahan pertanian. Rencananya, Pegadaian pada awal 2018 meluncurkan gadai syariah untuk tanah sebagai barang gadai bagi nasabah yang membutuhkan modal kerja. Pengembangan produk dibarengi rencana optimalisasi SDM dan jaringan. Jumlah pegawai Pegadaian sebanyak 13 ribu orang, sekitar 70%-nya adalah generasi milenial. Lalu, kantor cabangnya ada 4.319 unit. Inilah kekuatan Pegadaian yang akan terus dimaksimalkan oleh Sunarso. “Saya berpengalaman melakukan transformasi dan dijuluki Bapak BRIVolution ketika di BRI menjadi chief transformation,” katanya optimistis.

Pegadaian memproyeksikan pada 2018 laba usaha naik menjadi Rp 3,7 triliun, tumbuh 8,19% dibandingkan target laba usaha di 2017 senilai Rp 3,42 triliun. Pendapatan perseroan per Oktober 2017 sebesar Rp 101 triliun, laba bersih Rp 2,1 triliun, dan aset Rp 48 triliun.(*)

Reportase: Herning Banirestu/Riset: Irvan Sebastian

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)