Restorasi Lahan Gambut Buka Peluang Bisnis Baru

Hingga akhir tahun 2015 lalu, luas lahan gambut di Indonesia tercatat mencapai 27 juta ha dan tersebar di empat pulau besar yakni Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sebelumnya, lahan gambut dipandang sebagai lahan tidur dan kerap dibuka untuk perkebunan sawit dan HTI dengan jenis tanaman akasia. Tetapi tragedi kabut asap yang melanda sebagian besar lahan gambut pada tahun 2015 membuat pemerintah menghimbau agar lahan-lahan gambut yang diubah menjadi perkebunan dikembalikan ke kondisi semula alias restorasi.

Nyoman Suryadiputra dari Wetland Indonesia, mengungkapkan, kini saatnya bagi masyarakat bersama pengusaha yang memiliki lahan di sekitar gambut untuk melirik komoditas lainnya selain sawit dan akasia yang juga punya nilai ekonomi dan peluang bisnis yang prospektif.

"Contohnya tanaman sagu, kayu jelutung, kayu ramin dan budidaya ikan. Bahkan saat ini untuk ikan, hasilnya bisa dijual dengan harga lima puluh ribu rupiah per kilogram, lebih mahal dari harga sawit, “ ujarnya.

Jpeg

Komoditi sagu bisa menghasilkan sejumlah produk turunan yang juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, “Pasarnya pun sudah ada, misalnya tepung sagu banyak dibutuhkan industri olahan makanan,” ujar Nyoman.

Data Badan Restorasi Gambut menunjukkan, saat ini permintaan tepung sagu baik dari industri pangan maupun non pangan mencapai 5 juta ton per tahun, sedangkan produksi sagu di Indonesia, baru mencapai 3 juta ton per tahun. Padahal, potensinya masih ada 160 juta ton per tahun dari luas lahan sebesar 5,5 juta ha.

Kepada pihak swasta alias perusahaan pemilik perkebunan yang memiliki area berbatasan dengan lahan gambut, Nyoman menyarankan agar mengganti sawit atau akasianya secara bertahap, “Selain untuk suksesi, jika dilakukan bertahap pastinya tidak akan terlalu mengganggu laju produksi perkebunan,” jelas Nyoman.

Deputi Badan Restorasi Gambut Indonesia, Haris Gunawan, juga menyoroti hal sama dengan Nyoman. Menurut Haris, ada tiga langkah untuk mengembalikan lahan gambut yakni rewtting dengan membangun canal blocking, canal backfilling dan deep weells . Kedua, revegetasi, artinya mengembalikan vegetasi asli yang semula hidup dilahan tersebut. Dan ketiga adalah revitalitation livelihoods dengan melibatkan masyarakat setempat. Menurut Haris, tak hanya komoditi yang bepeluang jadi sumber ekonomi baru jika restorasi gambut dilakukan, “Ekowisata juga menjadi peluang lainnya, karena lahan yang sudah pulih ekosistemnya bisa menjadi daya tarik wisata alam,” jelasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)