Revolusi Industri 4.0 di Indonesia Harus Dimulai dari Sekarang

Pemerintah telah menetapkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai salah satu dari lima sektor prioritas program Industri 4.0.

Bersama industri makanan dan minuman, otomotif, elektronika, dan kimia, TPT dinilai perlu memiliki peta jalan yang jelas untuk bisa memanfaatkan teknologi demi mengoptimalkan bisnisnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pada 2019, nilai ekspor TPT bisa menembus angka US$ 15 miliar dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3,11 juta orang. Target tersebut ditetapkan berdasarkan proyeksi pada tahun depan, terjadi penambahan kapasitas produksi sebesar 1.638 ribu ton dengan nilai investasi Rp81,45 triliun di industri tersebut.

Revolusi industri generasi keempat ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

"88Spares bermain di pasar yang hyper niche, kami ini pionir marketplace bahan baku dan mesin yang dibutuhkan industri TPT di Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0," tegas CEO & Co-founder 88Spares.com Hartmut Molzahn kala menjadi pembicara di salah satu diskusi IndoIntertex 2018, the 16th International Textile and Garment Machinery & Accessories Exhibition, di JIExpo Kemayoran, Jakarta (04/04/2018).

Menurut Hartmut, aplikasi ini bisa memangkas rantai distribusi pembelian bahan baku dan mesin tekstil, karena langsung mempertemukan penjual dan pembeli di satu marketplace.

Ia menuturkan, selama ini dalam mencari mesin dan bahan baku kain dari luar negeri, pabrikan harus membeli barang tersebut melalui minimal dua distributor atau agen. Panjangnya mata rantai jual beli tersebut membuat harga akhir yang harus ditebus pembeli lebih mahal 60% dari harga aslinya.

"Agen pertama biasanya mengambil margin 40% dari penjual, kemudian agen berikutnya memasang margin 20%. Akibatnya pembeli di Indonesia membeli jauh lebih mahal dari harga asli mesin atau kain tersebut," kata Hartmut.

Ujungnya, biaya produksi yang harus dikeluarkan pabrikan TPT menjadi tinggi yang membuat harga produk TPT Indonesia lebih mahal dibandingkan negara lain.

"88Spares.com menghubungkan langsung penjual dan pembeli tanpa perantara pihak ketiga. Sehingga penjual bisa dapat margin 25% lebih tinggi, sementara pembeli bisa mendapat harga 25% lebih murah yang membuat semuanya diuntungkan," jelasnya.

Dikatakannya, jika beban produksi bisa ditekan, produktivitas dan efisiensi pabrikan TPT bisa meningkat. Sehingga nilai ekspor industri TPT Indonesia bisa memenuhi ekspektasi pemerintah.

"Jika pabrikan lebih efisien dalam mencari bahan baku dan mesin, maka modal perusahaan bisa dialihkan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas produksi. Dengan semakin banyak produksi, maka semakin banyak tenaga kerja yang bisa diserap oleh industri ini," kata Hartmut.

CMO & Co-Founder 88Spares.com, Rosari Soendjoto, menyebut perusahaannya sudah bermitra dengan 98 perusahaan penyedia mesin dan bahan baku tekstil dari seluruh dunia.

"Saat kami melakukan ujicoba platform di awal tahun ini, ada pabrikan TPT asal Solo dan Bandung yang melakukan transaksi senilai US$ 1.600. Karena kami bukan hanya bisa menekan biaya produksi, tetapi juga bisa membantu proses impor bagi pabrikan skala kecil dan menengah dalam mendatangkan mesin dan bahan baku yang dibutuhkannya," kata wanita yang akrab disapa Ocha itu.

Ocha yakin dengan menjadi pionir niche marketplace, 88Spares.com akan menjadi pilihan pertama bagi pelaku industri TPT dalam mencari kebutuhannya ke depan. "Status hyper niche marketplace juga membuat kami bisa mengetahui apa yang dibutuhkan pembeli, dan memberikan added value bagi pengguna jasa kami," katanya.

Pada kesempatan sama,  Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kemenperin Muhdori meminta pelaku industri TPT untuk mulai memanfaatkan teknologi sehingga bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas pabriknya.

"Industri manufaktur akan menghadapi revolusi 4.0 yang mengintegrasikan seluruh lini produksi. Otomatisasi teknologi dan komunikasi pemasaran merupakan bagian dari revolusi yang tidak bisa dihindarkan dan harus jadi peluang baru perusahaan tekstil Indonesia," kata Muhdori.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!