Sulsel Akan Jadi Lumbung Pangan Nasional

Untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 yang akan dipusatkan di Makassar pada Agustus 2017, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki rangkaian kegiatan untuk menggelorakan inovasi. Salah satunya kegiatan Bakti Teknologi untuk Negeri Tanam Serempak Padi Unggul di 22 titik di kabupaten/kota se-provinsi Sulawesi Selatan. Tujuannya, menjadikan provinsi ini menjadi lumbung pangan nasional.

Kemenristekdikti mengawalinya dengan program Training Of Trainer (TOT) Implementasi IPAT BO (Intesifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik) kepada para PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) dan kelompok tani se-provinsi Sulawesi Selatan.

"Inovasi akan menggerakkan ekonomi masyarakat dan tujuan dari inovasi ini untuk meningkatkan daya saing bangsa. Bagaimana memperkuat Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan sehingga kita bersama-sama memyusun program ini untuk membangun sinergi antara dunia perguruan tinggi, lembaga litbang, Pemerintah Daerah dan dunia usaha," ujar Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti, Ophirtus Sumule, saat membuka acara TOT mewakili Dirjen Penguatan Inovasi, Jumain Appe, di ruang Garuda Hotel La Macca, Makassar.

Ophirtus menambahkan, kegiatan ini tidak berhenti di sini saja, karena akan terus bergulir yang merupakan kontribusi dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.

Ketua Panitia Gunawan Wiebysana, mengatakan, program ini merupakan kegiatan tanam serentak benih unggul padi di 24 kabupaten Provinsi Selawesi Selatan, diawali dengan program TOT untuk melatih PPL dan kelompok tani untuk mengimplementasikan Teknologi IPAT BO yang memiliki berbagai keunggulan.

Sementara itu, Tualar Simarmata yang mengembangkan Teknologi IPAT BO sejak 2006, menjelaskan, ini merupakan kerja sama Universitas Padjajaran (Unpad) dengan Kemenristekdikti. Kemudian teknologi ini berkembang cepat dari tahun 2006 sampai sekarang, bisa dikatakan di seluruh Indonesia sudah menerapkan Teknologi IPAT BO. Teknik ini menurutnya akan menghemat bibit, menghemat penggunaan air, serta memanfaatkan pupuk berbasis organik dan hayati .

Hasil dari teknologi IPATBO ialah mampu mengurangi penggunaan air hingga 35%, mengurangi pemakaian pupuk anorganik sebesar 25%, serta menghemat bibit hingga 50%. IPAT BO juga mampu menaikkan produktivitas lahan sampai dua kali lipat.

"Nilai ekonomisnya jika menggunakan Teknologi IPAT BO ini jika dibandingkan dengan teknologi konvensional lainnya bisa menaikan hasil hingga 25 persen. Padahal, dari sisi inputnya tidak jauh berbeda hanya lebih hemat, misalkan yang menggunakan teknologi konvensional 40 kg, kami cukup 15 - 20 kg," jelas Tualar.

Panyuluh petani Kabupaten Goa Sulawesi Selatan, Mahsen Yahya, telah menerapkan Teknologi IPAT BO ini sejak tahun 2008, tepatnya di Kecamatan Sunggobu, Teknologi IPAT BO ini memiliki banyak manfaat untuk petani.

"Saat menerapkan teknologi ini dulu bisa mencapai 7 - 10 ton. Waktu penyuluhan, respons petani sangat bagus karena mereka sendiri merasakan keunggulan dari teknologi IPAT BO. Keunggulannya produksi bisa meningkat, namun kendala benihnya masih kurang. Harapan saya ke depan kesediaan benih dan pupuk perlu diperhatikan," jelasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)