Upaya YDBA Menyiapkan UMKM Binaan Hadapi MEA 2015

20150305_093247

Menjalankan bisnis tidak bisa lagi hanya berbekal insting bisnis, menggunakan data kondisi makro ekonomi yang tepat merupakan cara untuk bisa melihat peluang pasar dan menggarap bisnis dengan lebih terarah.

YDBA (Yayasan Dharma Bakti Astra) dalam rangka memberikan bekal cukup bagi UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) binaannya menyelenggarakan seminar makro ekonomi yang bahannya dipaparkan oleh D. Aviliani SE, Msi., seorang pakar ekonomi yang kini banyak menjadi komisaris independen di berbagai perusahan besar itu.

Seminar yang dimoderatori Pengurus YDBA, Iwan Hadiantoro ini, dihadiri lebih dari 250 UMKM binaan YDBA. “Meski kondisi perekonomian Indonesia kini cukup bagus, bukan berarti sebagai pelaku bisnis tidak waspada. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang kini sudah didepan mata, kondisi perekonomian Eropa yang belum pulih benar, dan makin ketatnya persaingan, ini harus menjadikan kita lebih bersiap diri,” ujar FX. Sri Martono, Ketua Pengurus YDBA.

Sri Martono menambahkan, YDBA sebenarnya selalu memiliki program untuk memberikan bekal yang cukup bagi UMKM mitra binaannya, agar lebih siap dan maju dalam menjalankan bisnis. Selain pelatihan, pihaknya juga memberikan pendampingan agar skill pemilik bisnis terus terasah. “Salah satu yang kami lakukan adalah mengirim UMKM untuk magang di beberapa perusahaan di Jepang guna belajar tentang corporate management, yang tahun ini akan kami tingkatkan,” tuturnya. Di samping itu pihaknya juga memberikan fasilitas pasar melalui pameran, Galery YDBA, dan business matching. Serta tentunya, memberikan sarana pembiyaan dengan menggandeng Astra Modal Ventura (AMV) dan Bank Permata.

Tahun ini sebagai upaya mendukung UMKM binaannya lebih maju lagi dalam mengelola bisnis, YDBA menyelenggarakan Seminar Ekonomi Makro dengan tema “Kondisi, Peluang dan Tantangan Ekonomi 2015”. Dalam paparannya, Aviliani menyampaikan kepada para mitra binaan YDBA tersebut, bahwa saat ini Indonesia mengalami kondisi yang menguntungkan, yairtu bonus demografi. Dengan ditambah kekuatan pertumbuhan ekonomi 5 persen, Indonesia menjadi pasar yang cantik bagi produk-produk dunia.

“Sayangnya dari 250 juta penduduk kita, masih rendah pertumbuhan entrepreneurshipnya,” imbuhnya. Padahal jika digarap begitu banyak peluang bisnis bisa digarap. Aviliani menuturkan, bonus demografi tersebut menyebabkan peningkatan kelas menengah. Dari 250 juta penduduk, diungkapnya, 25 juta masuk golongan miskin, 75 juta jiwa masih rentan, sekitar 100 juta jiwa masuk dalam golongan ekonomi mengah, 50 juta jiwa masuk dalam golongan ekonomi atas.

Namun sayangnya, menurut wanita yang energik dan cantik ini, dari 50 juta mereka yang masuk dalam golongan ekonomi atas itu, belum semua menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik dengna membayar pajak. “Setoran Pph kita baru Rp 50 triliun, masih dibawah yang diharapkan,” imbuhnya.

Pertumbuhan kelas menengah ini, menurut Aviliani, mendorong pertumbuhan kendaraan yang luar biasa pesat, bisnis kuliner, hotel, pariwisata dan farmasi. Mengapa farmasi juga tumbuh? “Para kelas menengah ini mulai aware akan pentingnya menjaga kesehatan, maka itu produk-produk vitamin, gizi dan peningkatan daya tahan tubuh laris manis di pasar,” ujarnya.

Kondisi makro ekonomi Indonesia juga menunjukan masih terjadi suku bunga yang tinggi akibat inflasi yang tidak bisa ditekan. “Sulitnya inflasi ditekan karena 65 persen kontribusinya dari komoditas, terutama makanan, minuman dan rokok,” jelas Aviliani.

Maka itu kita harus memperkuat pasar domestik. “Para UMKM ini kuncinya, kita harus garap sendiri produk yang kita konsumsi sendiri. Kita harus kuat dalam menentukan pembeda produk, agar produk kita menjadi pilihan,” ujarnya. Untuk SDM, Aviliani menekankan pentingnya sertifikasi, terutama menghadapi MEA, agar ketika pemain dari luar masuk, SDM kita sudah siap. “Sekitar 118 juta angkatan kerja saat ini, hanya 50 persen yang sudah bersertifikat. Saya pikir YDBA harus mengfasilitasi UKM-UKM binaannya untuk mendapatkan serfitikasi ini terutama untuk meningkatkan skill mereka,” dia menguraikan.

Aviliani mengingatkan, betapa penting pelaku bisnis mempelajari pasar dan produk yang digarapnya dengan baik. Tidak bisa diserahkan begitu saja pada orang kepercayaannya. “Bisa dipastikan, mereka yang tidak serius mempelajari pasar dan produk yang digarapnya, lalu menyerahkan begitu saja pada orang kepercayaan, mereka akan ditipu,” tegasnya. Ia juga menyampaikan ke peserta seminar yang seluruhnya adalah pengusaha kecil untuk mulai melirik pasar diluar negara-negara Asean. Seperti Tiongkok, Timur Tengah, Afrika dan sebagainya.

Sri Martono juga berharap para UMKM Indonesia harus memiliki optimisme yang tinggi dalam menghadapi perekonomian 2015 yang bertepatan dengan dimulainya MEA yang dijadwalkan akan dimulai akhir tahun ini. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)