Fine Choice, Biskuit Indonesia Laris Manis di Rusia

Irawati Lukito, Direktur Pemasaran PT Choice Plus Makmur
Irawati Lukito, Direktur Pemasaran PT Choice Plus Makmur

Barangkali nama biskuit ini terdengar asing di telinga konsumen Indonesia. Siapa sangka, Fine Choice asli buatan Indonesia. Medio Agustus tahun lalu, ketika mengikuti acara Festival Indonesia Moskow di Taman Krasnaya Presnya, Moskow, Rusia, Fine Choice membuat debut menarik karena diserbu pengunjung hingga ludes. Bahkan karena kejadian itu, seorang buyer berani memesan seketika tiga kontainer senilai Rp 1,5 miliar. ”Kami dapat order tiga kontainer dengan nilai per kontainernya Rp 500 juta,“ Direktur Pemasaran PT Choice Plus Makmur, Irawati Lukito, menceritakan dengan bangga.

Pengalaman menggembirakan itu alat pacu bagi Arifin Susilo Adiasa, pemilik Fine Choice, untuk membesarkan bisnisnya. Sebagai pendatang baru, mulanya Arifin memang tidak terlampau agresif menggarap pasar. Ia bersama tim cenderung berhati-hati, mengingat persaingan biskuit di dalam negeri sangat ketat. Banyak pemain besar dan lama yang bercokol di Indonesia.

Agar terhindar dari persaingan keras, Arifin memilih medan pertempuran baru, dengan menggarap pasar luar negeri dan menjual melalui e-commerce. Cara itu terbukti ampuh. Perlahan-lahan Fine Choice yang mulai dikembangkan pada 2010 sudah merambah pasar China, Hong Kong, Taiwan, Namibia, Gabon, Ghana, dan Rusia.

Dari awal kami berdiri, kami langsung ekspor karena izinnya lebih mudah,” ujar Arifin berterus terang. “Istilahnya, kami ISO, kami halal, kami bisa berangkat. Kalau untuk ke pasar lokal, kami harus BPOM dulu, daftar segala macam, dan penetrasi pasar. Akhirnya, owner memutuskan ekspor terlebih dahulu,” katanya.

Apalagi, di Indonesia sudah banyak perusahaan biskuit. Menurut Arifin, pihaknya tidak mungkin bersaing dengan harga mereka, dan mereka pun bisa promo besar-besaran. “Kami betul-betul harus menghitung dan menjaga bujet apabila ingin mengadakan promo,” ujarnya.

Tentu saja, bukan hanya karena taktik yang membawa Fine Choice berkembang. Arifin mengatakan, keberhasilan Fine Choice juga berkat usaha keras, tidak mudah menyerah, dan selalu berinovasi dengan melihat tren pasar yang sedang berkembang. Hal itu ditunjukkan dengan kesediaannya mengikuti pameran demi pameran.

Pameran, bagi Arifin, adalah cara yang sederhana dan murah untuk memperkenalkan diri. Dan sebagai pemain baru, ia memilih cara tersebut. Ia membangun awareness dari pameran ke pameran. “Kami rutin mengkuti pameran, baik program pemerintah maupun program internal,” ujarnya. Ada dua pameran besar yang wajib diikutinya: SIAL InterFood Shanghai dan SIAL InterFood Jakarta.

Kehadiran Choice Plus kini menarik banyak pihak. Perusahaan yang bersedia mengerjakan maklun dari luar ini sekarang berkembang pesat dengan unggulan biskuit wafer, kopi instan 3in1, biji kopi Indonesia, serta distribusi produk makanan dan minuman lainnya.

Arifin sangat serius mengembangkan bisnis. “Dengan produk unggulan potato cracker dan milk biscuit, kami memiliki standar kualitas rasa yang sangat terjaga,” ungkapnya. Ia menyadari, persaingan di industri makanan, terutama biskuit, sangat ketat dan sangat kompetitif. Bahkan, kesediaannya menggarap pasar luar adalah bagian dari strategi. “Kami memilih tidak bersaing dengan mereka, para pemain lama yang sudah besar namanya,” ujarnya.

Selain menggarap pasar luar negeri, pihaknya juga terus berinovasi mengikuti tren milenial, baik dari segi kemasan maupun rasa. “Kami sedang menyiapkan beberapa merek baru untuk masuk ke pasar milenial dan anak-anak, serta melakukan beberapa kerjasama juga dengan coffee shop/industri minuman yang sedang tren saat ini,” Arifin mengungkap rencana ke depan.

Menurutnya, untuk menjadi seperti sekarang, banyak jalan berliku yang harus ditempuh. Pabrik pertama sebenarnya dibangun di Jakarta tahun 2010. Empat tahun kemudian, mendirikan pabrik di Semarang. Itu pun masih dikerjakan berbarengan dengan pabrik lain yang bukan memproduksi biskuit.

Masuk ke pasar mancanegara, Arifin mengakui, awalnya sebagai siasat saja. yaitu untuk menghindari persaingan dengan banyak produk dari Indonesia atau negara lain yang bertempur di pasar ritel. Ternyata, langkah perusahaannya diikuti banyak pemain lain. “Sekarang hampir semua perusahaan/industri makanan sedang giat-giatnya melakukan ekspor,“ kata Arifin yang optimistis tetap bisa eksis. “Selama ini kami selalu berinovasi, agar terus dapat melakukan rejuvenasi,” ungkapnya.

Menurutnya, tujuan ekspor itu bukan hanya semata-mata untuk memenuhi produk di pasaran, tetapi juga persentase repeat order dari pembeli dan ketika mereka menyukai produk. “Itulah goal sebenarnya dari Fine Choice,” ujar Arifin yang juga membuka pabrik di Hong Kong dan gudang di Shenzhen, China, untuk wilayah Asia.

Nilai ekspor, baginya, tidak terlalu penting. Yang penting, mempertahankan buyer yang sudah setia bekerjasama dalam kurun waktu sekitar lima tahun, sehingga repeat order yang diterima pahaknya juga dapat dikatakan stabil. “Pertumbuhan yang kami dapatkan sejauh ini kurang-lebih di angka US$ 100.000/bulan,” ungkapnya.

Ke depan, Arifin berencana tetap memenetrasi negara lain, seperti negara-negara Timur Tengah dan sekitarnya. Menurutnya, tugas dan tanggung jawab perusahaan untuk kemajuan ekspor adalah memajukan produk Indonesia agar bisa diterima di negara lain, dan produk Indonesia pun tidak kalah dengan negara-negara lain. “Kami yakin, produk kami siap bersaing di kancah internasional,” katanya tandas.

Berbekal keyakinan dan tenaga kerja sebanyak 300 orang, Arifin yakin dapat membawa bisnisnya ke puncak tangga. (*)

Dyah Hasto Palupi/Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)