Go... Let's Go Chicken... Go! Lari Kencang Bisnis Wika Saputra

Wika Saputra, owner Let's Go Chicken

Meski masih terbilang muda, lahir di Jakarta, 29 Oktober 1986, jatuh-bangun dalam mendirikan berbagai bisnis telah sering dialami Wika Saputra. Mulai dari bisnis sendal, bawang merah, hingga warung sate telah dijajalnya, tetapi semua gagal. Hingga akhirnya, pria yang pernah kuliah di Australia ini membuat bisnis olahan ayam goreng tepung atau fried chiken bernama Let's Go Chicken sejak Mei 2015 di bawah bendera PT Inspirasi Kuliner Indonesia (IKI).

Kali ini keberuntungan pun menghampirinya. Bahkan, Let's Go Chicken tergolong ekspansif. Kini telah ada sekitar 200 gerai yang tersebar di Jabodetabek dan Jawa Timur dengan omset miliran rupiah per bulan. Rincian gerainya: di Jabodetabek ada 158 gerai dan di Ja-Tim ada 42 gerai. Di Ja-Tim, di antaranya ada di Surabaya, Gresik, Malang, Sidoarjo, dan Pasuruan. Hingga saat ini Wika belum berencana ekspansi ke luar Jabodetabek karena pasar Jabodetabek pun masih besar. “Jabodetabek saja tahun ini akan ada 80 titik yang mau dibuka. Mudah-mudahan tahun ini sampai 300 titik, karena Jawa Timur juga nambah,” katanya optimistis.

Let’s Go Chicken yang menyasar pasar kelas C atau menengah-bawah hadir dengan konsep kontainer, sehingga pelanggan tidak perlu menunggu waktu lama saat memesannya. “Waktu itu, nyari kios sangat susah, ada tempat ramai tetapi biasanya justru tidak ada tempat kosongnya,” ujar Wika. Akhirnya yang gampang adalah mencari lahan parkir yang disewakan oleh minimarket Alfamart dan Indomaret. Tempat tersebut cukup strategis untuk mendatangkan pelanggan. Terlebih, tampilan gerai kontainer Let’s Go Chicken dibuat menarik dengan balutan warna merah yang ngejreng sehingga menarik minat calon pembeli. “Tampilan kami juga mewah tetapi harga kami murah. Orang gak perlu jalan ke KFC untuk dapat packaging kayak kami. Itu value added yang kami ambil,” ucapnya berpromosi.

Memang, kendati menyasar kelas C, Let’s Go Chicken sangat menjaga kualias produk. “Kalau fried chicken di gerobak masaknya pakai tungku, kalau kami pakai deep fryer dan itu sudah ada otomatis suhunya, suhunya tetap terjaga dan itu proper-nya. Dapur kami open kitchen. Jadi, kalau jorok, customer bisa langsung lihat dan bisa langsung komplain, itu kelebihan kami,” kata Wika.

Diakui Wika, membuat nama Let’s Go Chicken karena awalnya ia tidak yakin untuk berbisnis dengan merek sendiri. Pasalnya, saat itu ia tengah menjadi pewaralaba (franchisee) sebuah merek. “Saat itu, saya berpikir, sudahlah let’s go saja. Di balik nama itu sebenarnya pecutan, ‘bismillah’ istilahnya, sudah let’s go saja, daripada ragu-ragu, sudah let’s go,” katanya mengenang. Pertama kali Let’s Go Chicken hadir, juga diakuinya rasa produknya masih tidak karuan. “Jadi, masih ngaco lah. Namun, seiring perjalanan waktu, ada perubahan sampai diterima masyarakat. Kami mulai tumbuh dan berkembang di 2017-2018 dan alhamdulillah sekarang sudah 200 outlet,” katanya bersyukur.

Saat pertama membuka gerai Let’s Go Chicken di Kompleks Taman Asri, Ciledug, Tangerang, Wika pun harus rela rumahnya dijadikan sebagai gudang untuk meminimalkan biaya logistik karena rumahnya di belakang gerai Let’s Go Chicken. “Semua rumah jadi gudang sehingga saya tidak punya tempat tidur. Tempat tidur saya isinya tumpukan kardus. Jadi, mengolah ayamnya di rumah dan tinggal anterin ke toko. Nah, begitu kami punya outlet agak jauh, baru saya beli mobil,” ungkap Wika.

Sejatinya Wika tak sendiri dalam mendirikan Let’s Go Chicken. Ia menggandeng teman saat kuliah, yaitu Nayanto Subagyo. “Jadi, saya mengajak dia. Dia kan di Yogya dan kebetulan pandangan hidup kami sama dari zaman kuliah itu sudah membicarakan bisnis dan bisnis, tetapi dia di Yogya dan saya di Jakarta. Kami akhirnya membuat Go Chicken berdua. Pembagian peran, dia lebih mengurus keuangan, saya lebih ke operasional. Dia orang yang saya percaya untuk memegang keuangan,” kata Wika yang saat kuliah di Australia pernah bekerja serabutan sebagai cleaning service, memetik stroberi, menjadi karyawan McDonald’s (McD), juga bekerja di kantin kampus.

Diakui Wika, saat di Negeri Kanguru, ia lebih banyak bekerja dibanding kuliah. Pasalnya, kendati biaya sekolah dikirim oleh orang tuanya, biaya hidup harus mencari sendiri. “Alasan ini yang membuat saya lama menyelesaikan kuliah,” ujarnya. “Makanya, sebenarnya kuliah saya di Australia itu belum selesai. Saya pulang ke Indonesia hanya membawa ijazah Diploma, karena saya bercita-cita ketika pulang ke Indonesia ingin jadi pengusaha,” lanjutnya.

Pengalaman hidup di Australia sangat berharga bagi Wika. Bahkan, itu yang membentuk mentalnya jadi tangguh. “Pengalaman di Australia itu lebih mahal dibandingkan biaya kuliah saya. Pengalaman yang saya dapat selama hidup itu yang tidak diajarkan di tempat kuliah,” ungkapnya. Bahkan, pengalaman bekerja di McD atau di kantin kampus membuat dirinya menyukai dunia kuliner yang mengantarkannya bisa membesut Let’s Go Chicken.

Agar bisnis Let’s Go Chicken terus berkelanjutan, Wika akan mengembangkan peternakan ayam di Gunung Kidul, Jawa Tengah, di bawah perusahaan yang berbeda, tetapi sahamnya masih di bawah IKI, masih satu grup. “Kami sudah panen, tapi kapasitas kandangnya masih kecil, hanya sekitar 4 ton, dan akan dibesarkan perlahan. Sampai akhir tahun 2019 ini target kapasitasnya 100 ton. Kebutuhan ayam kami sebulan 200 ton,” katanya penuh semangat.

Dalam pandangan Yuswohady, pengamat pemasaran, peternakan yang dimiliki Let’s Go Chicken bisa menjadi kelebihannya karena ia bisa mengontrol kualitas ayamnya. “Kuncinya itu kan freshness, sumber ayamnya fresh, dan bisa cutting cost sehingga secara harga bisa di bawah yang mainstream. Kemudian, dari sisi packaging tidak masalah, asalkan modern,” katanya.

Bisnis fried chicken ini permintaannya juga besar karena menjadi basic need sehingga pasarnya tetap akan besar. Walaupun tokonya kecil-kecil, ia harus mengambil area yang tidak digarap oleh pemain yang mainstream. KFC dan McD itu jangkauannya sudah diperhitungkan dan pasti lebih luas karena pertimbangan cost dan tokonya tidak mungkin kecil.

Karena itu, pemain baru sebaiknya bermain guerilla marketing. Artinya, mengambil area yang tidak digarap oleh yang mainstream, sebab fried chicken ini diferensiasi produknya tidak begitu berbeda, antara KFC dan McD tidak ada bedanya, bahkan dengan lokal pun sama. “Lokal itu kuncinya: asalkan bisa fresh, karena terkadang kelemahan lokal itu tidak fresh seperti fast food asing. Dan, membuat fresh itu tidak mudah,” kata Yuswohady menandaskan.(*)

Dede Suryadi dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)