Jurus Memahat Citra Diri di Abad Digital

Seiring berkembangnya dunia digital dan teknologi, berkembang pula kesempatan sekaligus tantangan untuk memunculkan diri sebagai pribadi yang percaya diri baik di dunia maya maupun dunia nyata. Banyak sekali pribadi di seluruh dunia yang berhasil mencapai kesuksesannya dengan cara memanfaatkan dunia digital secara maksimal. Akan tetapi, tidak sedikit pula pribadi yang justru mengalami masalah karena berita yang menjadi viral di dunia digital.

Karena itu, membangun citra diri yang positif di dunia maya sangat penting demi kesuksesan hidup dan karir. Seperti yang disampaikan oleh Andrew Ardianto dan Denny Santoso dalam seminar Personal Branding in Digital Era yang diselenggarakan oleh institut pengembangan kepribadian John Robert Powers (JRP) bersama DigitalMarketer.id di Mercantile Athletic Club, Gedung WTC I, Jl Jend. Sudirman, Jakarta kemarin (2/3).

Andrew Ardianto Presiden Direktur JRP yang menyampaikan materi pada sesi pertama memaparkan, kesempatan atau tantangan yang muncul di abad digital ini sangat tergantung dari sikap kita. “Bila kita menyikapinya dengan tepat, maka penggunaan dunia digital akan menjadi sebuah sarana yang sangat jitu untuk meningkatkan personal branding kita. Tetapi bila kita salah menyikapinya, maka dunia digital dapat menjadi sebuah pedang bermata dua yang justru dapat menjatuhkan reputasi kita,” papar Andrew.

Ki-ka: Denny Santoso dan Andrew Ardianto

Lebih lanjut Andrew mengungkapkan, di dalam membangun personal branding terdapat 5 elemen yang harus di perhatikan. Pertama adalah values, yaitu nilai-nilai yang dipegang teguh sebagai integritas diri dalam berperilaku. Kedua attitude, sikap diri dalam menyikapi sesuatu hal atau permasalahan dan empati terhadap orang lain. Ketiga, passion, hal-hal yang membuat diri bersemangat saat melakukannya. Selanjutnya goals, tujuan atau visi pribadi dan terakhir perspectives, sudut pandang terhadap sesuatu, dan bagaimana kita menyesuaikannya dengan sudut pandang orang lain terhadap hal tersebut.

Kelima elemen tersebut menurut Andrew tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena pada akhirnya hal tersebut akan menunjukkan bagaimana level of respect atau rasa hormat yang muncul dari seberapa besar kita menghargai diri sendiri dan orang lain. Rasa hormat tersebut kemudian banyak terlihat dari bagaimana kita berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal, dalam hal ini secara digital. “Sebagai contoh, di hari-hari ini kita sangat sering melihat orang yang mencaci maki orang lain melalui media sosial yang mereka gunakan, bahkan tidak jarang mereka menggunakan kata-kata yang sangat tidak pantas untuk diucapkan. Mengapa hal demikian terjadi? Karena mereka melihat ada banyak sekali public figure yang tidak memberikan contoh yang positif dalam penggunaan dunia digital,” Andrew menjelaskan.

Pun demikian, sebagaimana halnya di dunia nyata, bersosialisasi di dunia maya pun tidak lepas dari etika. Sopan santun, pemilihan kata dan pola pikir dalam berinteraksi pun perlu diperhatikan. Dan yang lebih penting lagi yang perlu diingat baik-baik adalah, ‘ingatan’ terhadap perilaku di dunia maya lebih susah untuk dihapus.

Sementara justru warga dunia maya, atau yang sering disebut netizen, sebagian besar adalah orang-orang yang tidak mengenal siapa diri kita sesungguhnya, sehingga dapat menimbulkan persepsi yang beragam. “Untuk itu, citra diri atau personal branding perlu dibangun baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pada akhirnya, sikap, perilaku dan komunikasi kita harus dapat membawa dampak yang positif bagi setiap orang” ujar Andrew.

Andrew pun memaparkan lima sikap yang harus dihindari jika ingin selamat dalam berinteraksi di dunia digital. Kelimanya yakni jangan menjadi individu yang tidak memiliki kepedulian, jangan menghakimi orang lain dengan mudah, jangan kasar, jangan terbutakan oleh fanatisme sempit, dan terakhir jangan terlalu cepat membagikan informasi yang didapat di media sosial tanpa terlebih dulu mengecek kebenarannya.  “Saya sendiri dikenal oleh teman-teman saya sebagai hoax filter. Karena saya suka memverifikasi kebenaran informasi yang dishare teman-teman saya. Ini penting jika kita ingin menjadikan kehidupan di dunia nyata dan digital lebih sehat,” terangnya.

Suasana seminar Personal Branding in Digital Era

Sementara Denny Santoso, pengusaha dan pakar pemasaran digital yang berbicara di sesi kedua seminar menyebutkan sejumlah taktik dalam membangun personal branding melalui media sosial. Denny memaparkan, untuk bisa mendapat manfaat dari dunia maya maka orang harus membangun personal branding yang sesuai dengan passionnya yang bernilai positif.

Selain itu berbagai media sosial seperti Twitter, Facebook, Youtube, Instagram, Pinterest, Linkedin dan Slideshare harus diberdayakan agar bisa memberi manfaat kepada orang lain yang pada akhirnya akan mendatangkan manfaat positif bagi diri sendiri.

Adapun untuk membangun basis audiens maka orang harus menciptakan konten yang sesuai dengan kebutuhan audiens yang disasarnya. “Personal branding bukan membicarakan tentang diri kita, tapi memberikan yang dibutuhkan oleh audiens kita. Untuk itu kita harus menciptakan konten yang berbeda dan membangun audiens yang bisa diaktivasi kelak,” terang Denny.

Pada pengujung acara, Andrew pun berharap agar seminar yang dibawakan oleh dirinya dan rekannya itu dapat menjadi acuan untuk para pengguna media digital, sehingga dapat menjadi insan bangsa yang lebih berbudaya dan beradab.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)