Kesuksesan Ekspor Seafood BMI di Kancah Dunia

Direktur Marketing PT Bumi Menara Internusa, Aris Utama.

Mengekspor produk unggulannya, seafood, mampu memberikan kontribusi besar PT Bumi Menara Internusa (BMI) pada devisa negara. Ekspornya berupa udang, rajungan, dan ikan itu mampu mencetak triliunan rupiah setiap tahunnya dari segi penjualan perusahaan asal Surabaya ini. Prestasinya ini diiiringi dengan diraihnya penghargaan Primaniyarta Award 2017 kategori Eksportir Berkinerja dari Kementrian Perdangangan RI.

BMI menyiapkan berbagai bentuk produk ekspor, dari bahan mentah hingga makanan siap saji yang menjadi fokus utamanya. Pasar utamanya antara lain Amerika Serikat, negara-negara Eropa, australia, China dana beberapa negara Asia lainnya. Menurut Direktur Marketing PT Bumi Menara Internusa, Aris Utama, penjualan terbesar disumbang oleh produk udang yang mencapai 70%. “Dari segi volume, trend pendapatan ekspor BMI mengalami kenaikan terus. Terkadang kenaikannya memang tidak terlalu signifikan, namun secara garis besar gradual kita naik terus. Kami menargetkan setiap tahunnya peningkatan ekspor adalah 10%,” tambanhnya.

Di pasar ekspor, BMI memiliki merek dagang sendiri yaitu Ocean Ruby. Sedangkan produk udang yang menjadi primadona menggunakan merek Java Base dan Menara Seafood. Tahun 2016, ekspor BMI sebesar US$ 250 juta, dan untuk ekspor di 2017 ditagetkan tumbuh 5% hingga 10%. Menjadi eksportir baginya harus fleksibel dengan peraturan di setiap negara. “Negara-negara importir tidak memberlakukan aturan-aturan atau regulasi yang memberatkan bagi kami eksportir. Namun untuk Eropa agak berbeda, persyaratan ketat diberlakukan bagi pemerintah bukan untuk eksportir langsung. Mereka yang akan menyeleksi apakah layak makanan ekspor masuk,” ujarnya.

BMI senantiasa menjaga kepuasan pelanggan dan pasokan bahan baku sebagai kunci persaingan dalam bisnisnya. Fokus menangkap pelanggan besar pada negara tujuan ekspor menjadi strategi yang dilakukannya. “Di Amerika kami memegang customer besar terlebih dahulu. Oaman menjadi ritel yang kami pegang dan untuk food service Sysco. Penjualannya mencapai US$ 50 juta untuk direct dengan pengembangan produk langsung ke mereka,” dia menjelaskan.

Bahan baku sebagai komoditi ekspor mereka ditangani BMI dengan dua cara. Pertama, manajemen produksi yang baik dan benar harus dijalankan. Tata cara pengelolaan tambak, penebaran benih, serta kemampuan menjaga kelangsungan panen harus diperhatikan terlebih pada musim yang sedang tidak menguntungkan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan konsumen. “Menjaga kesinambungan pasokan itu sangat krusial,” ujarnya. Kedua adalah program kemitraan sebagai lokasi produksi di Indonesia, antara lain Surabaya, Lampung, Malang, Lamongan, Medan, dan Makassar.

Keamanan pangan juga menjadi perhatian dengan mengikuti persyaratan yang diajukan negara tujuan ekspor. Contohnya, pemerintah Eropa memberikan regulasi tentang residu yang ada di udang dan dianjurkan memiliki antiresidu, antibiotika, dan anti logam berat yang kecil. “Sistem ini diterapkan pemerintah dengan mengeluarkan sertifikat kelayakan proses yang memiliki tingkatan-tingkatan berlapis. Maka dari itu, jika ingin masuk dan tembus pasar ekspor Eropa harus berada di grade atau tingkatan sertifikasi yang paling tinggi,” ungkapnya.

Tak berhenti disitu, BMI menjalin kerjasama dengan Universitas Brawijaya dalam melakukan penelitian dampak lingkungan dari proses produksinya. “Kami juga memikirkan hewan apa saja yang ada di lingkungan kami, apakah mereka tercemar atau tidak. Kami keluarkan cost sangat tinggi untuk kerjasama ini demi penelitian terkait dampak lingkungan,” ungkap Aris. Hal ini menjadi perhatian karena isu lingkungan dipandang sangat penting bagi negara-negara maju seperti AS dan Eropa.

Reportase: Akbar Kemas

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)