Saatnya Revolusi Branding Lewat Instagram?

Brand image sebuah perusahaan sangat ditentukan oleh pendekatan brandingnya. Agar senantiasa diminati dan menarik hati para konsumennya, sebuah brand perlu pendekatan yang revolusioner di era digital dan internet saat ini. Di antara tool yang cukup efektif untuk mengampanyekan brand adalah lewat platform sosial Instagram.

Menurut Paul Webster, Brand Development Lead Instagram Asia Pasific, jumlah pengguna Instagram terus mengalami kenaikan yang signifikan sejak hadir pada 2010. Hanya dalam 9 bulan jumlah pengguna aktif naik dari 300 juta menjadi 400 juta. Sebanyak 100 juta pengguna terakhir lebih dari setengahnya tinggal di Asia dan Eropa. Dan Indonesia adalah salah satu negara pengguna Instagram yang signifikan banyaknya di dunia.

Penelitian Nielson: ad recall pada postingan berbayar di Instagram 2,8 kali lebih tinggi. (Foto: Ali/SWA) Penelitian Nielson: ad recall pada postingan berbayar di Instagram 2,8 kali lebih tinggi. (Foto: Ali/SWA)

Sedangkan pengguna Instagram di Indonesia didominasi oleh wanita. Mereka dari kalangan generasi millenial, yaitu antara 18-34 tahun. Menarikanya, lewat Instagram 49% pengguna, membeli broduk dari brand yang mereka ikuti di akun mereka. 55% mengetahui brand dan produk terbaru juga dari perusahaan. Dan 43% lainnya mengunjungi situs sebuah brand setelah melihat aktivitas brand di Instagram.

“Masyarakat Indonesia menggunakan Instagram untuk berbagai hal, yang paling utama adalah mencari inspirasi, membangi pengalaman traveling dan mencari informasi dan tren terbaru,” jelas Paul.

Pada September 2015 lalu, Instagram membuka platformnya kepada bisnis skala besar maupun kecil di seluruh dunia dengan menawarkan solusi advertising. Yaitu dengan meningaktkan opsi target dan pembelian di akun Instagram yang diklaim mampu membantu pengiklan mencapai hasil yang maksimal. Baik edukasi maupun aksi pada pembelian produk.

Di Indonesia sendiri, Travelo menjadi klien solusi advertising pertama Instagram untuk kategori travel. Namun, saat ditanya investasi yang dikeluarkan, Dannis Muhammad Head of Marketing Traveloka tidak menerangkan jumlahnya. “Saya lupa persis berapa investasi kami, tapi kami yang perdana untuk kategori travel,” ujar Dannis.

Dalam laporan temuannya tentang pengguna Instagram di Indonesia lewat TNS, Paul menjelaskan bahwa 56% responden yang juga pengguna Instagram tidak keberatan jika Instagram dipakai untuk platform iklan. Sebanyak 41% lainnya menyukai jenis iklan video pendek dengan teks.

Dengan catatan, iklan tersebut harus tetap memperhatikan daya kreatifitas dengan memiliki kualitas visual yang tinggi. Setidaknya ada beberapa pilar agar branding di Instagram dapat dinikmati dan menarik hati pelanggan. Pertama daya kreatifitas yang tinggi pada foto atupun video yang diposting, kedua konten yang disajikan relevan dengan target pasar. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)