Tas Kulit Pepari, Kolaborasi Ajib Peppy dan Ariani

Ariani Luluh Gendrosari

The Power of Family Jangan sepelekan kekuatan ikatan keluarga. Lihatlah bisnis yang lahir dari tangan Peppy Megawati (33 tahun) dan Ariani Luluh Gendrosari (47 tahun). Peppy adalah keponakan Ariani. Berkat kolaborasi yang apik dan ajib antara tante dan keponakan, bisnis tas kulit mereka sukses berkembang dengan omset tak kurang dari Rp 500 juta/bulan. “Laba kami kurang-lebih 30% dari omset penjualan tiap bulan,” ungkap Peppy yang mengurusi pemasaran dan penjualan.

Usaha bersama tas dan dompet dimulai tahun 2013. Menurut Peppy, awalnya karena ketidaksengajaan. “Pada waktu itu saya masih bekerja dan Tante sedang berlibur ke rumah saya di Bogor setelah beliau resign dari pekerjaan,” ia mengenang kejadian tujuh tahun lalu. Sang tante rupanya sedang mencari-cari usaha dan tertarik menjual tas-tas hasil desainnya.

Karena memiliki latar belakang pendidikan Desain Produk dari Institut Teknologi Bandung, serta suka mendesain, merancang, sekaligus berjualan, Peppy pun bersedia dan senang membantu menciptakan nama merek, membuat akun Instagram dan Facebook, serta memfoto produk dan memasarkannya. “Jadi, saya memasarkan tas sambil bekerja. Bisa dibilang saya menjadi marketing-nya waktu itu,” cerita Peppy yang kemudian memutuskan berhenti bekerja dan fokus berkolaborasi dengan sang tante.

Mula-mula nama merek yang digunakan adalah De Culture. Ketika awal produksi, mereka lebih banyak menggunakan bahan kulit sintetis, walaupun sesekali juga memakai bahan kulit asli. Dalam perjalanannya, ternyata banyak pelanggan yang lebih menyukai tas dari bahan kulit asli. Titik balik terjadi saat mengikuti event Inacraft 2015 sebagai peserta dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor. Dalam event itu, tas dari bahan kulit asli justru lebih mudah dijual dan banyak diminati.

Semenjak itu, kami memutuskan untuk memproduksi tas dari bahan kulit asli lebih banyak lagi,” kata Peppy. Demi memenuhi keinginan pelanggan, pada 2015, De Culture dilahirkan kembali dengan nama baru, Pepari --gabungan dari nama Peppy dan Ariani-- yang khusus memproduksi kerajinan tas dan dompet dari kulit sintetis serta kulit asli.

Peppy Megawati

Keputusan beralih menggarap tas dan dompet menggunakan bahan kulit asli sebenarnya merupakan langkah nekat dan berani. Pasalnya, harga bahan baku mahal sekali. “Satu lembar kulit asli ukurannya cuma 15-27 feet, harganya hampir Rp 700 ribu. Jumlah yang dihasilkan dari satu lembar kulit asli tidak banyak. Hanya tiga atau empat tas,” kata Ariani.

Lalu, bahan baku juga menuntut modal lebih besar. Untuk menjalankan Pepari, menurut Peppy, dibutuhkan modal sekitar Rp 25 juta. “Kami pinjam uang di bank. Kami ikut Kredit Usaha Rakyat selama dua tahun dengan menjaminkan tiga sepeda motor,” tutur Peppy yang mendapat pinjaman dari bank sebesar Rp 100 juta.

Harga bahan baku yang mahal berimbas pada harga tas dan dompet Pepari di pasar. “Tas kulit sintetis dijual dengan harga Rp 130 ribu-190 ribu. Sementara tas kulit asli dilabeli Rp 400 ribu-1,7 juta,” kata Peppy.

Meski demikian, respons pasar sangat menggembirakan. Pembeli cenderung melirik tas kulit asli ketimbang yang sintetis. Bahkan untuk memenuhi permintaan pasar, kini Peppy dan Ariani membeli lebih dari 6.000 feet kulit sapi dari sekitar lima pemasok untuk memproduksi 800-1.000 tas serta 400-600 dompet setiap bulan.

Selain produk tersebut, Pepari juga menjual tempat ID card, gantungan kunci mobil, ikat pinggang, dsb. “Rencananya, kami juga akan merambah alas kaki, sekarang masih mencari tim produksinya,” ungkap Peppy.

Kini, dengan 17 pengrajin, Peppy optimistis dapat terus mengembangkan usaha. Kendati bagian produksi ditinggalkan tantenya yang untuk sementara bermukim di Texas, Amerika Serikat, ia tak khawatir. “Beliau masih tetap mengontrol dan memantau produksi dari jarak jauh, sementara untuk desain kami bisa mengerjakan bersama-sama,” ungkap Peppy yang kini juga dibantu sang adik membereskan bagian keuangan.

Produk Pepari dapat diperoleh secara online dan offline. Secara offline Pepari dapat diperoleh di rumah produksi Bogor, Dewan Kerajinan Nasional Kota Bogor, serta Dewan Kerajinan Nasional Jawa Barat. Adapun untuk online, Pepari dijual lewat Instagram dan Facebook.

Seorang penggemar berat Pepari yang bernama Adinda mengaku mendapatkan produk Pepari dari online. Pegawai swasta di Jakarta ini langsung jatuh cinta dengan produk tas dan dompet yang dibelinya dua tahun lalu. “Produknya sangat bagus dan affordable, warnanya juga bagus,” ujarnya. Adinda membuktikan tas dan dompet yang dibelinya awet dan tahan lama.

Pepari memang belum menjalankan strategi pemasaran secara khusus. “Kami hanya mencoba tetap konsisten untuk mengeluarkan model baru setiap bulan dengan membuat inovasi agar konsumen tidak bosan,” kata Peppy menegaskan. Selain itu, ia yakin, dengan meningkatkan pelayanan sebaik mungkin, pelanggan pasti akan datang. Bagi Pepari, pelanggan setia adalah aset, sehingga pelayanan yang dilakukan harus sebaik mungkin. Misalnya, pelayanan pascapenjualan. Pihaknya juga berusaha menjaga kualitas produk.

Diakui Peppy, mempertahankan kualitas tidaklah mudah. Karena, setiap ada pergantian tukang, produk yang dihasilkan pun akan berbeda. Tingkat kecacatan (defects) dan penolakan (rejection) harus dibenahi. “Semua itu harus kami hadapi sebagai tantangan untuk menjadi lebih baik. Itu tekad kami,” kata Peppy yang belum berencana ekspor karena pasar dalam negeri masih menjanjikan. (*)

Dyah Hasto Palupi/ Anastasia AS; Riset: Hendi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)