OJK Fintech Days 2018 Bali,  Wujudkan Indonesia Digital Paradise

Melanjutkan kesuksesan tahun lalu, OJK dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), kembali mengadakan  “OJK Fintech Days 2018” di beberapa kota di Indonesia tahun ini. Setelah Medan, Manado, dan Batam, “OJK Fintech Days 2018” digelar di Bali, yang juga menjadi kota terakhir untuk rangkaian kegiatan tahun ini.

Semakin meningkatnya pertumbuhan industri fintech dan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan yang lebih bervariasi, memerlukan pemahaman mengenai produk-produk dan layanan keuangan berbasis teknologi.

OJK berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan industri fintech yang berkesinambungan dan berorientasi terhadap perlindungan konsumen seiring semakin meningkatnya pertumbuhan industri fintech dan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan yang lebih bervariasi,

memerlukan pemahaman mengenai produk-produk dan layanan keuangan berbasis teknologi. Selain meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai industri fintech, OJK juga menggunakan kegiatan ini sebagai ajang sosialisasi Peraturan OJK No. 77 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

“Selaku regulator, kami berkewajiban untuk selalu memberikan edukasi kepada masyarakat luas mengenai industri fintech dan berbagai macam produk serta layanannya, yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu kami juga tidak pernah bosan untuk selalu memberikan arahan kepada para pelaku fintech untuk menaati semua peraturan dan panduan yang berlaku, sehingga

keberadaan mereka dapat benar-benar memberikan dampak positif ke masyarakat luas dan ekonomi nasional,” ujar  Hendrikus Passagi, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK di Trans Resort Hotel Kuta, Jumat (26/10).

Dengan mengusung tema ‘Indonesia Digital Paradise’, kegiatan di Bali berlangsung selama tiga hari, 25 - 27 Oktober 2018. Sebanyak 60 perusahaan fintech dari 73 perusahaan penyelenggara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang tercatat di OJK ikut terlibat di dalam kegiatan ini, yang juga mendapat dukungan sponsor dari beberapa perusahaan fintech yaitu BNI, TunaiKita, KreditCepat, TokoModal, Maucash, Cashwagon, RupiahPlus, Kredit Pintar, ShopeePay dan AwanTunai.

OJK mengajak pelaku fintech untuk terlibat di berbagai macam kegiatan seperti sosialisasi fintech di pasar tradisional, workshop untuk pelaku dan penggiat startup (coaching clinic), diskusi panel dan CEO Summit untuk membahas; (1) fintech lending sebagai sebuah alternatif terhadap mekanisme pembiayaan untuk mendorong inklusi keuangan, terutama bagi lapisan masyarakat yang selama ini sulit mendapatkan akses ke sektor keuangan formal, (2) masa depan ekonomi digital dan ekosistemnya, (3) Mendekatkan masyarakat yang selama ini termasuk di dalam golongan “the unbanked” ke dalam sistem keuangan, dan (4) tantangan dan peluang bagi pelaku dan pendukung fintech.

Hendrikus mengungkapkan optimismenya terhadap pertumbuhan industri fintech di Indonesia di masa depan dan bagaimana industri fintech dapat berperan dalam mendorong laju ekonomi nasional dengan memberikan akses keuangan kepada segmen masyarakat yang selama ini tidak terlibat di dalam sektor keuangan formal. Hal ini selaras dengan 12 poin dari Bali Fintech Agenda yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo di sela-sela perhelatan akbar IMF – World Bank 2018 di Bali beberapa waktu yang lalu.

“Pada dasarnya kami di OJK sangat mendukung peran para pelaku fintech dalam memberikan produk dan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat jaman sekarang. Tugas kami hanyalah memastikan bahwa industri tumbuh dengan sehat dan mengedepankan perlindungan konsumen. Sebagai sebuah industri yang masih sangat baru, sangatlah penting untuk membangun kepercayaan konsumen,” tambah Hendrikus. Sebagai sektor keuangan berbasis teknologi, fintech diharapkan mampu memberikan solusi-solusi yang  dibutuhkan masyarakat Indonesia yang tersebar di 17.000 pulau.

Penelitian yang dikeluarkan oleh IMF dan Bank Dunia belum lama ini, misalnya, menemukan bahwa terdapat kebutuhan pembiayaan di sektor UMKM sebesar 165 miliar dolar (lending gap) di Indonesia yang belum dapat terpenuhi. Seperti yang sudah dicontohkan di banyak negara, industri fintech dapat menjadi sebuah solusi bagi berbagai tantangan di sektor keuangan karena dukungan teknologi canggih dan jangkauan yang tidak terbatas. Apabila hal tersebut dapat direalisasikan di Indonesia, maka peran fintech akan sangat penting dalam membantu tercapainya target inklusi keuangan pemerintah sebesar 75 persen di tahun 2019.

Kuseryansyah,  Ketua Harian AFTECH, mengungkapkan apresiasinya terhadap rangkaian acara “OJK Fintech Days 2018” yang diadakan di Bali. “Kami mewakili industri fintech sangat mendukung segala bentuk kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh OJK karena memang kita butuh untuk terus mengadakan sosialisasi mengenai produk-produk dan layanan fintech ke masyarakat luas. Masih banyak masyarakat kita yang belum terlalu paham mengenai fintech, padahal industri ini dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat,” kata Kuseryansyah.

OJK berharap kegiatan “OJK Fintech Days 2018” di Bali dapat  mempromosikan potensi fintech ke masyarakat luas, dan menjadi ajang bagi OJK, pelaku fintech dan penggiat fintech lainnya untuk dapat menghasilkan sebuah kesepakatan dan komitmen bersama untuk memajukan dan mengembangkan industri fintech secara bertanggung jawab demi memberikan dampak bagi Indonesia. “Dengan sinergi yang kuat antar semua pelaku kepentingan di sektor fintech, saya yakin kita bisa benar-benar mewujudkan Indonesia sebagai sebuah digital paradise,” tutur  Hendrikus.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)