Pemda NTT Dorong Warganya Menenun Demi Tingkatkan Ekonomi

Salah satu permasalahan di Indonesia adalah pemerataan kemajuan di daerah, khususnya untuk infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM). Pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki kabupaten baru sejak 2006, Nakegeo, merasa SDM adalah isu penting yang harus diperhatikan.

Jalan pertama yang bisa mencerdaskan manusia adalah membaca, sebagai gerbang untuk melihat dunia luar. Hal tersebut dijelaskan oleh Julie Laiskodat, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT yang juga merupakan istri dari Gubernur NTT saat ini, Viktor Laiskodat. Tak ayal, pemerintah sering memberikan bantuan buku untuk para warga.

Tak hanya itu, pemerintah NTT juga menginisiasi Festival Literasi Nagekeo 2019 sebagai upaya untuk memberikan sarana bagi rakyatnya agar bisa mendapat akses buku bacaan. Bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), program ini mengirimkan perpustakaan keliling ke Kabupaten Nagekeo.

“Niat membaca mereka tinggi, tapi fasilitasnya tidak ada. Makanya kami bekerja sama dengan Perpusnas yang bisa memfasilitasi kami dengan buku-buku yang ada, maupun di kemudian hari kami ingin memiliki e-perpustakaan,” ungkap Julie pada acara peluncuran program Festival Literasi Nagekeo 2019 di Jakarta, (10/4/2019).

Julie sendiri, sebagai pengusaha fashion, merupakan pelopor literasi tenun di daerah yang memiliki 22 kota dan kabupaten tersebut. Selama 7 tahun ia telah berkecimpung dengan tenun NTT yang hidup sebagai budaya setempat.

Julie memandang potensi tersebut bukan hanya sebagai budaya, tapi juga dapat meningkatkan perekonomian NTT. Pasalnya, NTT punya banyak sekali Ibu-ibu yang giat dan mau bekerja, namun tidak punya kesempatan.

Sebanyak 85-90 persen warga NTT berprofesi sebagai petani. Namun bercocok tanam hanya bisa dilakukan saat musim tertentu saja. Padahal, dapur dan sekolah anak harus terus berjalan di luar musim panen sekalipun.

“Jadi, pemerintah harus mencari pekerjaan yang bisa meningkatkan ekonomi dan tanpa musim. Salah satunya dengan menenun dan sedang kami kampanyekan supaya mereka tidak sekadar menjadikan ini pekerjaan sambilan,” ungkap Julie.

Menurutnya, ada dua masalah yang dihadapi warga yang ingin mulai menenun. Pertama, tidak adanya modal dan alat. Kedua, mereka tidak punya akses ke pasar. Oleh sebab itu, pemerintah memberikan warga NTT modal dan warga bisa menjual hasilnya melalui pemerintah NTT.

Julie menambahkan, “Setiap kabupaten kami memiliki motif dan arti filosofi kain yang berbeda-beda. Itu nilai jual kami dan tekniknya pun kami punya tenun ikat yang timbul. Kami lebih kaya dari tenun yang lain. Tapi, kami memang punya kendala bahwa motif kami di-printing yang mematikan mata pencaharian pengrajin di desa.”

Solusinya, pemerintah sedang mematenkan satu per satu motif tersebut agar tidak diambil orang dan keutuhan budaya bisa terjaga.

Saat ini, Kabupaten Nagekeo memiliki ratusan kelompok penenun. Setiap kelompok bisa terdiri dari 10-15 orang. Julie, melalui bisnisnya yang bertajuk Levico, telah menggandeng sekitar 23-24 kelompok pengrajin NTT sebagai mitra.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)