Resep Antimo Jadi Market Leader Obat Antimabuk

Direktur Utama PT Phapros, Barokah Sri Utami.

Berangkat dari permasalahan yang dihadapi masyarakat, Phapros berinisiatif memproduksi obat antimabuk perjalanan. Antimo menjadi jawaban atas masalah tersebut. Diproduksi sejak 1971, Antimo menjadi obat atas kekhawatiran mobilitas darat sebagai antimabuk dan mual.

Menjadi produk lokal pertama anti mabuk yang muncul di Indonesia, Antimo berhasil melihat pasar dalam timing yang tepat. Phapros berhasil membentuk market untuk obat jenis ini yang pertama kali sebagai obat generik branded berjenis dimenhydrinate. “Antimo langsung menguasai pasar saat itu di tahun 1971 karena belum adanya obat jenis dimenhydrinate bermerek. Antimo kini telah menjadi legenda hidup,” ujar Direktur Utama PT Phapros, Barokah Sri Utami.

Jenis Antimo sangatlah spesifik, dengan segmen yang tidak begitu besar, secara nasional market size-nya sekitar Rp148 miliar dan berhasil menguasai pasar sebesar 98%. Keberadaan kompetitor dihadapi Antimo dengan terus melakukan awareness dan komunikasi yang kuat pada masyarakat atas produk ini. Elemen “klasik” yang dimiliki Antimo tetap dipertahankan untuk menjaga otensitasnya seperti gambar di kemasannya dan jingle lagu Antimo yang begitu melegenda.

Target pasar Antimo kini bertambah dengan keberadaan jenis baru yaitu sirup. Jenis ini diciptakan karena melihat yang terjadi di masyarakat sekarang bahwa banyak anak-anak yang telah melakukan travel bersama orang tuanya. “Target pasar Antimo berubah dan bertambah. Kini tak hanya tablet yang diperuntukkan bagi dewasa saat berpergian. Tapi kami kembangkan ke target yang lebih spesifik lagi dengan menghadirkan jenis sirup untuk anak-anak,” ungkap Sri Utami.

Sebagai market leader, Antimo senantiasa mengomunikasikan terus-menerus melalui kampanye  below the line seperti reklame dan spanduk. Saat peak season, Antimo aktif kampanye above the line melalui media televisi. Menghadapi digitalisasi, Antimo bergerak melalui YouTube Channel, Instagram, dan Facebook sebagai media yang menjangkau kaum Millenial untuk creating awareness mereka. “Pelebaran segmen ini juga melihat karena generasi sekarang memiliki kecenderungan travelling yang meningkat,” ujarnya.

Antimo tablet yang begitu melegenda kini tak sendiri lagi. Jenis lain sebagai pengembangan produk Antimo tanpa meninggalkan khasiat utamanya. Kini telah tersedia Antimo herbal dan varian rasa untuk anak-anak yaitu jeruk dan strawberry dalam bentuk sirup. Selain itu yang terbaru adalah Antimo minyak kayu putih. Tidak tertutup ke depannya akan dibuat tablet kunyah dan jenis lainnya untuk menambah varian produk Antimo di pasaran yang akan disesuaikan permintaan pasar. “Antimo tablet masih memberikan kontribusi terbesar sekitar 80% di Phapros. Tak heran jika Antimo jenis ini menjadi market leader diantara lainnya. Keberadaan Antimo tablet menjadi umbrella brand untuk produk Antimo jenis lainnya.

Secara umum pertumbuhan profit mencapai dua digit, sekitar 18-20% pertumbuhannya. Revenue dan omzet Antimo juga berhasil mencapai dua digit dan tahun ini Antimo menargetkan minimal 15%. Kini, Phapros telah memiliki 1.200 karyawan. Distribusi Antimo dilakukan oleh PT Rajawali Nusindo. Keduanya adalah anak perusahaan dari PT Rajawali Nusantara Indonesia..

 

Reportase: Yosa Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)