Starbucks Beri Bibit Kopi untuk Petani Lokal

Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia

Sektor pertanian menjadi penyokong perkembangan industri kopi di Indonesia. Kualitas biji kopi yang baik bila dioleh dengan maksimal akan menghasilkan kopi yang enak.

Mengingat pentingnya peran petani, Startbucks Indonesia menghadirkan kampanye Art in a Cup untuk membantu petani mengembangkan kualitas kopi yang dihasilkan. Program ini dimulai tahun 2018 melalui pemberian 330 ribu pohon kopi kepada petani kopi di Sumatera.

“Komitmen kami kepada petani kopi di Indonesia adalah dengan menanam 1 kopi dari setiap penjualan 10 minuman yang akan disumbangkan ke perkebunan kopi di bali,” ungkap Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Surip Mawardi, General Manager Starbucks Farmers Support Center (FSC) turut menyampaikan, “Mewakili teman-teman petani kopi di Sumatera, saya ingin mengucapkan terima kasih atas sumbangan 33 ribu benih kopi yang diberikan melalui Art in a Cup tahun lalu. Lebih dari 350 keluarga petani telah menerima manfaatnya. Pohon kopi ini ditanam sesuai dengan Coffee and Farming Equity (CAFE) Practice untuk memastikan pohon tersebut ditanam secara etis dan bertanggung jawab.”

Melalui Starbucks Farmers Support Center, petani lokal mendapatka pelatihan berupa bekal untuk menurunkan biaya produksi, pencegahan hama dan penyakit, meningkatkan kualitas kopi sesuai dengan standar CAFE dan meningkatkan hasil kopi yang premium.

Surip menjelaskan bahwa potensi tanaman kopi di daerah Sumatera pasca erupsi gunung Sinabung cukup besar. “Kopi adalah salah satu tanaman yang bertahan. Meski ia terkubur debu, bila tanaman dipotong, tunasnya akan tumbuh dengan subur," jelasnya.

Selain itu, harga kopi sumatera juga selalu bagus kendati harga kopi dunia turun. “Harga kopi di tanah Karo yang belum disortasi sekarang sekitar 5,7-5,8 kg,” ujar Surip.

Sementara itu, Liryawati, CMO Starbucks Indonesia, menjelaskan, perbedaan konsumen Starbucks di Indonesia dan Amerika Serikat, negara asalnya, adalah pada frekuensi pembelian. Ia mengklaim, konsumen Amerika Serikat sudah menjadikan Starbucks bagian dari rutinitas mereka.

“Sementara itu, di Indonesia, (Starbucks) masih dilihat sebagai brand berkualitas tinggi dan premium. Kami ingin terus mengatakan kepada mereka bahwa kopi tidak hanya sekadar kopi, tapi juga bahan yang berkualitas, hospitality yang bagus, komunitas; semua itu menjadi pengalaman yang holistik,” ujar Liryawati.

Dengan hadirnya beragam promosi untuk harga yang lebih murah, Liryawati menganggap Starbucks berusaha untuk masuk ke mass market, tidak hanya pasar premium. Saat ditanya apakah hal tersebut tidak ditakutkan akan mengubah citra brand, ia menjawab, “Kalau kita ingin membuat impact di Indonesia, kita harus mengambil risiko untuk berubah. Kami perlu melihat daya beli, kapabilitas, dan permintaan (pasar). Jadi, kami bukan sekadar menjual kopi tapi ingin memberikan dampak pada masyarakat.”

Per Januari 2018 Starbucks memiliki 2.084 gerai ritel di 71 kota di Indonesia yang dioperasikan oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP). Sementara itu, secara global label yang berdiri tahun 1971 ini memiliki lebih dari 25 ribu gerai.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)