Duet Eddy-Revano Sukses Melambungkan Livaza

Eddy Christian NgEddy Christian Ng bersama Revano Satria mendirikan PT Livaza Teknologi Indonesia di tahun 2015. Perusahaan ini mengembangkan Livaza.com sebagai marketplace produk furnitur dan interior. “Modal awal mendirikan Livaza mencapai US$ 100 ribu, digunakan untuk membiayai pengembangan teknologi, merekrut pegawai dan tenaga pemasaran,” ujar Eddy, CEO sekaligus co-founder Livaza. Eddy dan Revano berbagi tugas dalam membesarkan bisnis perusahaan mereka itu.

Tugas Eddy membangun jejaring bisnis, misalnya berjumpa dengan calon investor dan mitra bisnis. Sementara Revano, yang menjabat sebagai Chief Design Officer Livaza, menangani pemilihan produk furnitur dan desain interior. Fokus bisnis Livaza adalah mempromosikan produk furnitur buatan usaha kecil dan menengah lokal. Sekitar 300 UKM tercatat sebagai mitra di toko dalam jaringan (daring) ini. Model bisnis Livaza ini berdampak terhadap bisnis produsen furnitur, antara lain meningkatkan nilai penjualan dan volume penjualan, serta membangun merek (branding awareness). “Contohnya, salah satu UKM yang sebelum bergabung dengan Livaza tidak punya showroom, namun setelah bergabung dengan kami, UKM ini punya showroom,” tutur Eddy.

Mayoritas konsumen Liviza adalah pembeli di dalam negeri yang berkontribusi sebesar 90% dari total transaksi pembelian. Sisanya dikontribuskan dari pembelian konsumen di Korea Selatan dan Singapura. Pembayaran melalui payment gateway yang dikelola Midtrans dan rekening bank ternama. Rata-rata jumlah item produk yang terjual sebanyak 1.000 unit setiap bulan. Penjualan ritel dan grosir disediakan di Livaza.com. Umumnya, pengelola hotel, kafe, dan gedung perkantoran membeli furnitur dengan skema pembelian grosir. Selain menjual produk furnitur, Livaza menawarkan jasa desain interior gratis berdasarkan syarat tertentu, di antaranya harus memenuhi syarat jumlah minimum pembelian.

Nilai transaksi pembelian di Livaza di tahun ini menembus Rp 1 miliar per bulan. “Saat ini, nilai transaksi di Livaza berkisar US$ 100 ribu hingga US$ 500 ribu per bulan,” ungkap Eddy seraya menyebutkan, pengguna Livaza.com sebanyak 80 ribu user. Nilai transaksi di setiap bulan itu sebesar Rp 1,3 miliar hingga Rp 6,5 miliar jika mengacu asumsi kurs US$ 1 setara Rp 13 ribu. Livaza memperoleh komisi dari setiap transaksi. “Lalu, komisi tersebut kami putar untuk membiayai promosi dan marketing untuk menunjang peningkatan jumlah traffic pengunjung dan transaksi,” katar mantan bankir ini.

Eddy dkk. aktif menggencarkan pemasaran Livaza di media sosial dan mempromosikannya di berbagai acara, serta turut serta sebagai perusahaan sponsor di acara tertentu. Strategi lainnya adalah melakukan kurasi produk agar kualitas produk bikinan UKM itu sesuai standar sehingga bisa memuaskan konsumen, serta tepat waktu dalam mengirimkan produk ke konsumen. Livaza menerapkan sistem drop shipping, bekerjasama dengan pihak ketiga yang memiliki gudang di sistem pengiriman barang. “Cara kami bersaing adalah mencari klien yang loyal, memberikan pelayanan terbaik dan produk yang bagus agar konsumen kembali membeli di Livaza.com,” ungkap Eddy.

Untuk mencari produsen furnitur, manajemen Livaza berkeliling ke sentra produksi furnitur di Pulau Jawa untuk menjalin kemitraan dengan perajin furnitur lokal. “Latar belakang didirikannya Livaza, yaitu mempromosikan furnitur buatan UKM lokal. Produk mereka itu berkualitas dan kurang terekspos di market lokal. Inilah keunikan bisnis kami, yakni membantu perajin lokal,” ujar lulusan S-1 Ekonomi, Simon Fraser University, Kanada ini. PriaEddy Christian Ng bersama Revano Satria mendirikan PT Livaza Teknologi Indonesia kelahiran, 13 November 1982 ini turut menginisiasi perajin furnitur dalam mengembangkan desain produk yang modern. Baru-baru ini Livaza bekerjasama dengan beberapa instansi pemerintah untuk menjalin kemitraan dengan UKM di Pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Heru Sutadi, pengamat teknologi informasi, mengapresiasi model bisnis Eddy dan Revano dalam memuluskan laju bisnis Livaza.com. “Yang ditunjukkan Livaza adalah suatu terobosan, seperti menyediakan jasa desain interior yang memberikan nilai tambah,” ujar Heru. Kendati demikian, ia menyarankan agar manajemen Livaza pandai menempatkan posisinya agar bisa bersaing dengan martkeplace furnitur dan interior lainnya yang menawarkan harga produk yang kompetitif. Selain itu, lanjutnya, semakin menyempurnakan pengiriman barangnya dan memanjakan konsumen yang menggunakan jasa desain interiornya.

Agar bisnis Livaza berkesinambungan, menurut Heru, Eddy dkk. perlu meningkatkan promosi, rutin memublikasikan ulasan mengenai produk furnitur dan desain interior, serta konsisten mengirimkan barang sesuai jadwal. “Kalau itu semua dipertahankan, saya yakin akan bisa bertahan. Kalau ada satu komponen yang tidak dijalankan, saya rasa akan susah,” kata Heru. 

Reportase: Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)