Proyek AREH Bangun Transmisi Listrik Bawah Laut

The Asian Renewable Energy Hub (AREH) adalah suatu usulan untuk proyek pembangkit tenaga angin dan matahari berkapasitas hingga 6 gigawatt di wilayah Pilbara, Australia Barat yang bisa memasok produksi tenaga listrik energi ke Indonesia melalui kabel elektrik bawah laut.

Saat ini, proyek AREH ini sedang dikembangkan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa perusahaan, yaitu CWP Energy Asia dan InterContinental Energy (pengembang proyek energi terbarukan) dan Vestas (perusahaan solusi energi berkelanjutan dunia).

Meskipun listrik yang dihasilkan akan berasal dari Australia, tetapi peralatan yang akan menghasilkan sumber daya angin dan matahari akan dikembangkan di Indonesia. Oleh karena itu, proyek ini bisa menciptakan pekerjaan terampil terbaru, teknologi tinggi dan terbaru, memperbaharui rantai pasokan lokal dan teknologi serta transfer ilmu pengetahuan.

Proyek ini berada di lokasi yang memiliki sumber daya angin dan matahari yang luar biasa sehingga mampu menghasilkan energi terbarukan dengan daya dan volume besar, secara stabil dan dengan biaya yang kompetitif.

Lokasi proyek AREH yang berdekatan dengan Indonesia, dikombinasikan dengan kemajuan teknologi kabel bawah laut yang memungkinkan transmisi listrik dengan jarak jauh secara hemat biaya. Dengan demikian, ada kesempatan terciptanya jaringan energi terbarukan untuk kawasan Asia Tenggara. Fase pertama proyek AREH diperkirakan memerlukan biaya awal sebesar US$ 10 trilliun, dengan fase selanjutnya yang akan memasok energi terbarukan ke negara-negara lain di Asia Tenggara.

Ukuran turbin angin, panel surya beserta peralatan lain yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek ini sangatlah cukup untuk mengakomodasi pembangunan infrastruktur baru di Indonesia, sehingga menciptakan energi terbarukan berbasis industri yang dapat mengurangi biaya pengeluaran energi di seluruh Indonesia, dan membuka ribuan kesempatan kerja.

Setelah selama tiga tahun mengembangkan ide strategis ini, serta memperhitungkan kelayakan proyek, tim proyek AREH kini sedang dalam proses mencari mitra di Indonesia untuk melakukan investasi, konstruksi dan produksi peralatan terkait.

Saat ini, studi terkait pengembangan AREH sedang dilakukan oleh tim yang terdiri dari para mitra dan investor, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, Australia dan Denmark, sebuah negara yang memiliki pengalaman banyak dalam mengembangkan energi terbarukan. Saat ini, laporan kajian lingkungan proyek ini sedang dikaji di Australia.

Mitra teknologi yang terdiri dari Prysmian dan Swire Pacific Offshore membantu pelaksanaan kajian kelayakan proyek, dan akan terus terlibat dalam proyek ini. Prysmian adalah pemimpin dalam hal teknologi kabel bawah air, sedangkan Swire Pacific Offshore kontraktor lepas pantai.

“Langkah paling penting dalam pengembangan suatu proyek adalah menemukan lokasi yang tepat,” ujar Alexander Tancock, Managing Director InterContinental Energy. Lebih lanjut kata Tancock menjelaskan pihaknya menghabiskan dua tahun untuk mengeksplorasi kondisi pantai di Barat laut Australia, dan menemukan lokasi yang sangat baik.

Menurut Tancock sumber daya angin dan matahari juga saling melengkapi, dengan banyaknya matahari di siang hari dan angin kencang di pagi, sore, dan malam hari dapat menghasilkan energi di Indonesia dengan harga yang sangat bersaing.

“Sumber daya angin dan matahari, jika disinergikan, mempunyai potensi yang sangat besar untuk menyediakan energi terbarukan yang dapat diandalkan dan dengan harga yang bersaing lintas daerah,” ucap Alexander Hewitt, Managing Director CWP Energy Asia.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)