XL Fasilitasi Risk & Control Forum 2017

Pada Mei lalu, dunia digital dikagetkan dengan serangan virus Ransomware Wanna Decriptor atau lebih dikenal dengan Wanna Cry. Kepanikan terjadi terutama pada bisnis-bisnis yang rentan dibobol datanya. Waktu itu ada dua rumah sakit besar yang terancam keamanan data pasien dan layanannya karena serangan virus ini. Melihat ancaman cyber crime yang terus meningkat dari tahun ke tahun PT XL Axiata Tbk berinisiatif mengadakan Risk & Control Forum 2017.

Forum ini akan diadakan XL melihat kondisi perilaku masyarakat yang makin lekat dengan digital. Makin melekatnya masyarakat dengan dunia digital ini membuat risiko tercurinya data pun makin tinggi karena semua terkonsolidasi. Hal ini disampaikan Yessie D. Yosetya, Direktur Manajemen Layanan XL di Menara Prima, Jakarta,  (12/09/2017).

Ia menjelaskan, sumber ancaman cyber crime sebenarnya berasal dari karyawan dan ex karyawan, karena mereka yang paling paham isi dalam perusahaan. GM Audit & Risk Management XL, I Gde Wiyadnya, menambahkan, bisnis telekomunikasi diakui sangat rentan ancaman cyber crime karena lingkungan digital mendorong ke arah sana: market competition, cyber risk, new techlonogy, dan social political risk. “Kami perlu mengelola risiko ini, kita harus hadapi bersama-sama untuk memperkuat cyber security protection,” terangnya.

Jessy mengatakan, untuk menjaga bisnis dari ancaman cyber crime dilakukan berbagai langkah strategis. Caranya natara lain meningkatkan governance sistem IT melalui sertifikat ISO 27001,  data private act (sangat menjaga mana data yang bisa dibagikan, mana yang tidak), enkripsi menjadi mandatori dan mendorong keamanan sebagai bagian dari modern license.

“Paradigma juga harus berubah bahwa cyber security merupakan tanggung jawab semua, bukan satu-satu pihak. Harus diingat para hecker ini kumpulan para orang ‘kreatif’ yang akan terus menerus melakukan upaya menembus keamanan perusahaan yang diincarnya. Maka itu harus rajin adjustment. Kasus Ransomeware Wanna Cry mengingatkan hal ini,” terangnya.

Jessy meyakinkan, makin tahun serangan hecker makin tinggi dan canggih, ordernya bisa ratusan hingga jutaan. Tahun ini bahkan XL mencatat kenaikan serangan 20-30 persen dibanding tahun lalu. Intensitas tinggi serangan hecker ini mendorong XL untuk membuat unit sendiri untuk menangani cyber crime ini.

Ada Risk & Control 2017 nanti akan diikuti 95 peserta yang terdiri dari perusahaan telko. Selain XL, ada Telkomsel, Indosat, Hutchison, juga beberapa mitra perusahaan telko seperti Ericsson, BT, HTI, perusahaan audit PWC dan EY, pelaku industri lain, internal auditor dan manajemen risiko serta para fintech. XL pernah mengadakan forum yang sama tahun lalu, diharapkan ini bisa makin menguatkan pelaku bisnis dalam menghadapi cyber crime.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)