Transformasi Digital HR sebagai Strategi Pertahankan Talent

(ki-ka) Director HCM Solution Consulting Oracle Asean & Sage Harkanwal Virdi, Vice President Human Capital Bukalapak Gema Buana Putra, EVP Human Capital AXA Mandiri Irma Waruwu, Senior Director Applications PT Oracle Indonesia Iman Muhammad, dan Director People Change KPMG Joanna Yordan Seminar Human Capital Morning Talk 2018. (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

 

Di era disrupsi saat ini, banyak perusahaan dihadapkan dengan berbagai tantangan yang terus berkembang seperti kompetisi yang semakin ketat, teknologi yang semakin canggih, perebutan talent hingga perubahan demografi. Banyak dari tantangan ini memengaruhi orang-orang di tempat kerja, termasuk kebutuhan untuk melibatkan karyawan dalam tujuan bisnis.

Dalam menghadapi semua ini, fungsi human resources (HR) harus berperan sebagai value driver dan sumber competitive advantage dalam bisnis. Organisasi yang mengakui orang sebagai aset mereka yang paling berharga dalam mencapai keunggulan kompetitif dan mereka yang melihat fungsi SDM mereka sebagai aset strategis akan mampu mengakselerasi transormasi HR.

Menurut Senior Director Applications PT Oracle Indonesia, Iman Muhammad, isu transformasi sering diartikan sebagai business transformation. “Dalam melakukan transformasi, perusahaan lebih banyak fokus business transformation, baik itu kepada customer experience, business process dan sebagainya. Namun human resources umumnya ditempatkan pada prioritas kedua atau ketiga, padahal people adalah aset terbesar perusahaan yang menjadi the most important aspect,” ujar Iman dalam Seminar Human Capital Morning Talk 2018 bertajuk “Post-Talent War: What to do with our Talents?” di Hotel Shangri-La Jakarta, (13/9/2018).

Apabila perusahaan sudah memiliki talent terbaiknya, yang harus dilakukan dengan mereka menjadi hal yang penting untuk dipikirkan dari sudut pandang human resources. Talent terbaik di era saat ini tergolong ke dalam generasi milenial atau yang disebut sebagai digital workforce. Director People Change KPMG, Joanna Yordan, menjelaskan beberapa pandangan yang dimiliki oleh para digital workforce dalam berkarier profesional. “Mereka menginginkan perusahaan tempat bekerja menyediakan lingkungan yang membuat orang merasa dihargai, independen, tidak terlalu birokratis,” jelas Joanna.

Selain itu, digital workforce mengharapkan benefit yang sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Hal ini didukung dengan teknologi yang menjadi bagian dari proses kerja sehingga memungkinkan fleksibilitas bekerja seperti work remotely atau work from home agar tercipta work life balance. “Tidak hanya itu, mereka juga memerlukan transparansi dalam memberikan feedback terhadap kinerja mereka,” tambah Joanna.

Kunci untuk mempertahankan talent terbaik, kata Joanna, adalah dengan membuat lingkungan kerja yang atraktif dan sustainable yang lebih mengedepankan masa depan dibandingkan masa lalu menjadikan hal ini lebih bermakna bagi organisasi untuk menjaga karyawan terbaik dalam generasi milenial. “Ini lebih mudah diucapkan dibandingkan dilakukan. Karena perusahaan menghadapi dua tekanan di mana aspek future bukan hanya bagi ditujukan customer melainkan juga bagi karyawan,” ujarnya.

Digitalisasi adalah sesuatu yang tidak terelakkan. “Banyak perusahaan yang sudah digital kepada konsumennya, tetapi di dalam organisasinya masih manual atau tradisional. Perusahaan harus mampu menyeimbangkan dalam memenuhi kepuasan pelanggan dan kompetitif di pasar dan pada saat bersamaan mempertahankan talent,” ungkap Joanna.

Adapun sebagai perusahaan konsultan, KPMG menyediakan KPMG Powered HR enabled by Oracle yakni end-to-end solution HR technology yang dibangun di atas platform berbasis cloud. Ini dapat membantu memaksimalkan nilai fungsi HR yang dioptimalkan oleh teknologi cloud.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)