Wujud Improvement Tigaraksa untuk Lini Bisnisnya

President Director PT Tigaraksa Satria Tbk., Lianne Widjaja.

Berdiri sejak tahun 1919, awalnya PT Tigaraksa (Holding) bergerak sebagai trading company untuk komoditas karet. Perkembangan atas kebutuhan adaptasi dilakukan oleh perusahaan ini di tahun 1960 dengan impor susu Wyeth. Pada 1988 melakukan spin-off dari holding menjadi perusahaan yang terpisah yaitu PT Tigaraksa Satria (TRS), bergerak dalam bisnis distribusi sebagai core bisnisnya.

TRS berhasil menjadi perusahaan publik pada1990 dengan memfokuskan bisnisnya pada penjualan dan distribusi consumer goods. Pengembangan lini usaha dilakukan dengan membuka divisi baru yaitu manufacturing service pabrik pengolahan susu di Sleman, Jawa Tengah. Tujuannya untuk mengembangkan produk susu berkalsium dengan merek dagang Produgen.

Membangun positioning dengan melewati perkembangan zaman tidaklah mudah, TRS senantiasa menciptakan nilai tambah bagi semua stakeholder. Menurut Presiden Direktur PT Tigaraksa Satria Tbk., Lianne Widjaja, TRS berusaha menciptakan value added berupa jasa sales dan distribusi untuk pelanggan. Berupaya mengetahui kebutuhan dan keinginan pelanggan serta dapat memenuhinya sesuai ekspektasi mereka menjadi formula bisnisnya.

“Jika perusahaan dapat memenuhi kebutuhan mereka, otomatis para stakeholder lainnya akan terpenuhi juga,” tambahnya. Menjalin hubungan baik dengan outlet sebagai trade channel, mereka lakukan untuk menciptakan nilai tambah. “Pola kerja sama dengan outlet disesuaikan dengan perkembangan pasar yang terjadi saat ini. Ini menjadi landasan kuat untuk bisa melintasi satu dekade ke dekade berikutnya,” ujar Lianne.

Sejatinya bisnis trading & distribusi sudah dilakukan oleh pemilik TRS jauh sebelum resmi berdiri. Berbekal pengalaman tersebut, tahun 1988 dilakukan spin-off menjadi anak perusahaan yang fokus bergerak di bisnis ini. “Awalnya kami melakukan distribusi secara direct sehingga outlet masih sangat minim. Bergabungnya PT Sarihusada Generasi Mahardhika di pertengahan tahun 1995, akhirnya diterapkan sistem sub-distribusi dengan menunjuk sub-distributor di seluruh Indonesia untuk meningkatkan spreading,” ungkapnya. Namun di tahun 2007 dilakukan perubahan ke sistem direct cover, di mana pihaknya  mengambil alih peran sub-distributor hingga berkurang drastis tinggal 20%. Hal ini diikuti dengan pembenahan manajemen SDM, serta perbaikan infrastruktur sales dan distribusi.

Konsistensi TRS sehingga dapat bertahan hingga saat ini diwujudkan dengan memberikan delivery service yang baik. TRS telah memiliki 17 principal consumer products dan outlet yang tersebar hampir 200.000 di seluruh Indonesia. “Ini dibuktikan dengan beberapa prinsipal yang sudah lebih dari 20 tahun bersama kami, seperti PT Sarihusada Generasi Mahardhika, PT Wyeth Nutrition Sduaenam dan PT Suryajaya Abadi Perkasa,” ujarnya. TRS sadar betul untuk membangun supply chain yang efisien, biaya logistik merupakan salah satu pos biaya terbesar. Untuk menjamin hal itu, setiap bulan direksi mengadakan business review dengan jajaran supply chain management dan perbaikan proses kerja dan mengurangi defect.

Improvement pada sisi karyawan dilakukan secara seksama sekaligus berinovasi dalam business process antara lain meningkatkan akurasi target pada sales & operation system. Keberhasilan TRS ditandai sengan sales yang tumbuh 4 kali lipat dan peningkatan jumlah karyawan 2 kali lipat dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1.800 karyawan. Tercatat service level TRS meningkat 95% dan jumlah outlet yang dimiliki meningkat hingga 200.0000. Revenue TRS sekitar Rp9,5 triliun di tahun 2016, dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 10%.

Kesiapan perusahaan masuk dalam era disruptif dengan mempersiapkan channel e-commerce. “Dimulai 2015 akhir kami memiliki salesman untuk melayani e-commerce dan terbukti penjualan yang terus meningkat dan jumlah customer yang terus berkembang.

Tercatat hingga sekarang sudah ada 21 customer e-commerce misalnya Lazada, Tokopedia, JD.ID, Blibli.com, dengan komposisi yang terdiri 15 B2B dan 6 B2C,” ungkapnya. Tak sampai disitu saja, tahun 2017 TRS melakukan pilot project dengan sistem retail digitalization yang akan meningkatkan kecepatan dalam pengiriman barang.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)