Jurus Imajin Eksis di Marketplace 3D

Stefanus Hodir, co-founder & CMO Imajin.id.
Stefanus Hodir, co-founder & CMO Imajin.id

Kesempatan bagi kalangan anak muda untuk merintis tech startup memang terbuka di banyak bidang, tak harus dalam bentuk platform jualan barang yang sifatnya barang komoditas umum. Chendy Jaya dan Stefanus Hodir melihat peluang itu dengan mendirikan platform marketplace dan komunitas 3D (Tiga Dimensi), Imajin.id, pada 2014.

Imajin.id merupakan platform marketplace dan komunitas 3D pertama di Indonesia, yang menawarkan layanan koneksi antara insan kreatif, khususnya desainer 3D, dengan industri dan kalangan individu. Ia menghubungkan para pengguna untuk dapat mengakses kebutuhan konsep bisnis manufaktur, seperti desain produk, percetakan 3D, dan produksi massal dalam satu website.

“Kami ingin mengembangkan teknologi 3D di Indonesia yang sekarang belum banyak terekspose oleh publik. Padahal, kami melihat banyak potensi seniman 3D di Indonesia, dari 3D modeling design, animasi, sampai toys making yang kualitasnya tidak kalah dengan luar negeri,” ungkap Stefanus Hodir, co-founder & CMO Imajin.id.

Di platform ini, karya-karya 3D dijual dalam bentuk file dan bentuk nyata dengan dicetak menggunakan 3D printer. Maklum, Imajin telah bekerjasama dengan channel partner, yakni mereka yang mempunyai 3D printer (printer warehouse).

Imajin sudah berjalan lebih dari lima tahun (sejak 2014) di bidang manufaktur B2B, tetapi mulai bergerak di B2C baru pada awal 2018, dengan membuat platform online Imajin.id. Saat ini Imajin sudah hadir di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya, tetapi untuk online platform sudah seluruh Indonesia. “Sejak awal kami memang bergerak di bidang industri manufaktur dan software. Karena banyak melihat potensi 3D di Indonesia, kami coba kembangkan Imajin,” Stefanus menjelaskan.

Target pasar Imajin cukup beragam: kalangan industri manufaktur, pehobi, medis, otomotif, arsitektur, dan industri lain. Imajin diciptakan untuk membantu siapa pun memproduksi barang yang mereka impikan. Contohnya, bila ada yang ingin menciptakan casing ponsel yang berbeda dari yang lain, Imajin bisa membantu mulai dari desain hingga produksi besar.

Saat ini teknologi 3D sudah umum digunakan di dunia manufaktur, mulai dari 3D design, 3D scanning, reverse engineering, 3D printing, CNC manufacture, bahkan sampai ke 3D metal. Sejauh ini, Imajin sudah menghasilkan beberapa karya menggunakan 3D design, mulai dari otomotif, furnitur, cenderamata, hingga perhiasan.

Mengenai fitur di marketplace Imajin, pengguna dapat langsung melihat model atau desain produk 3D melalui 3D View. Jika ingin memproduksi 3D printing, pengguna dapat langsung mengunggah desain, memilih material, kemudian mendapatkan harga yang sesuai. Fitur 3D View diharapkan memberikan pengalaman yang berbeda yang tidak ditemui di marketplace lain. “Saat ini online user kami sudah lebih dari 2.000 active user. Sudah bermitra dengan lima 3D printing partner dan 17 CNC machine partner,” kata Stefanus seraya menyebutkan, kini usahanya digawangi 20 orang.

Imajin menyediakan banyak layanan, mulai dari 3D printing services, 3D design services, penjualan 3D printer, sampai ke jasa finishing dan painting. Untuk 3D printer pihaknya start dari Rp 3,5 juta. Untuk harga layanan, rentangnya bisa sangat berbeda, dari 3D design model dan 3D printed model yang paling murah sampai yang mahal dengan harga ratusan juta.

“Kami sulit untuk bilang paling murah dan mahal. Karena, jasa ini sangat costumized sesuai dengan kebutuhan klien. Jadi, kalau ada yang order sampai ratusan juta, belum tentu itu terbilang mahal, karena pasarannya memang segitu,” kata Stefanus. Kini, dalam sebulan pihaknya bisa menghasilkan lebih dari lima 3D design model dan lebih dari 15 3D printed model.

Menurutnya, keunikan Imajin.id ialah bisa memberikan one stop solution untuk kebutuhan 3D. Kebanyakan pemain lain hanya menyediakan freelance designer atau penyewaan 3D printer konvensional. “Di Imajin, klien bisa membuat sesuatu dari ide sampai barang jadi di satu tempat,” ujarnya tandas.

Namun Stefanus mengakui, pengetahuan masyarakat mengenai teknologi 3D memang masih kurang. Maka, selain aktif memasarkan produk di media sosial, pihaknya juga memberikan edukasi mengenai teknologi ini. “Kami buka banyak kelas workshop dan training untuk orang yang mau belajar lebih mengenai 3D industry dan banyak terlibat di komunitas-komunitas 3D Indonesia,” kata Stefanus.

Ke depan, pihaknya punya target untuk mengembangkan pengetahuan tentang dunia 3D ke masyarakat, baik secara online ataupun offline. Selain itu, juga akan membuka banyak ministore Imajin di pusat perbelanjaan agar lebih banyak masyarakat yang tahu tentang 3D printing. Imajin saat ini sudah memiliki satu store di The Breeze, L63C, BSD City yang buka sejak Agustus 2019. (*)

Sudarmadi & Vina Anggita; Riset: Armiadi Murdiansah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)