Kisah Sukses Dua Bersaudara Berbisnis Sepatu Kulit

Sudah 12 tahun lamanya kakak beradik, Aditya Danandayu dan Aditi Erlangi, menggeluti bisnis sepatu kulit. Tepatnya sejak tahun 2004. Pada awalnya, mereka hanya coba-coba peruntungan dengan cara menjual sepatu kulit custom. Tidak disangka, justru dari coba-coba itu, mereka bisa menghasilkan omset ratusan juta per tahun.

Aditya Danandayu dan Aditi Erlangi Aditya Danandayu dan Aditi Erlangi

Berbekal hobinya sedari kecil, Aditya dan Aditi, memang sudah terbius dengan sepatu kulit. Semenjak kecil keduanya punya ketertarikan tersendiri atas barang-barang yang berasal dari kulit. Sampai suatu saat muncul ide membuat produk untuk dikonsumsi sendiri, lantaran sulit mendapatkan jenis produk yang sesuai dengan keinginan. “Ternyata hasilnya banyak juga yang melirik,” kata Aditya.

Dari situ, ia kemudian berpikir bahwa bisnis sepatu kulit termasuk prospektif. Ia punya optimisme bahwa produk kulit punya penggemar yang segmented. Meski harganya tergolong lebih mahal, pasarnya tetap menjanjikan seiring pertumbuhan kelas menengah yang cukup signifikan. Tinggal bagaimana mengemas produk tersebut agar lebih trendi dan bisa menarik minat konsumen. “Memang banyak pesaingnya di bisnis ini, tapi kami punya keunggulan lebih bergaya anak muda,” ujar Aditya.

Sampai sekarang, setidaknya sudah dua merek dimiliki oleh kakak beradik ini. Satu merek premium bernama Bergh & Ozil, dan satu lagi untuk menengah-bawah dengan nama Cajsa. Kendati dimiliki orang yang sama, keduanya punya target pasar yang berbeda. Bergh & Ozil diperuntukkan bagi lelaki, sedangkan Cajsa untuk wanita dan anak-anak. Mereka punya tugas masing-masing dalam pengembangan setiap mereknya. “Saya megang sepatu cowok, adik saya megang sepatu cewek,” Aditya menambahkan.

Walau awalnya hanya menjual produk sepatu kustomisasi, lama-kelamaan bisnis mereka mulai berkembang. Mereka memiliki pabrik atau workshop tersendiri di Bandung yang berkapasitas hingga 2 ribu pasang sepatu per bulan. Dari kapasitas itu, sebanyak 800 pasang sepatu biasanya diproduksi untuk merek sendiri, sisanya dibuka untuk produsen lain, yang ingin menumpang. “Sistemnya mereka datang lalu produksi di sini. Saat ini workshop kami memproduksi untuk 8 merek termasuk kami sendiri. Tiga di antaranya merek luar negeri – dua dari Australia, satu lagi dari Belanda,” Aditya menjelaskan.

Resep sukses dari keduanya, lanjut Aditya, tak terlepas dari ketekunan menjalankan bisnis ini. Aditi bahkan sempat pergi ke Italia untuk belajar desain sepatu dan pembuatan pola di Ars Sutoria, Milan tahun 2009. Berbagai tantangan pernah dirasakan sejak merintis usaha, mulai dari masalah tenaga kerja hingga ketersediaan bahan. Namun, hal itu tak lantas membuat keduanya cepat menyerah. Sejak kecil mereka dididik untuk menjadi wirausaha yang tangguh oleh kedua orang tuanya, Benny Bayu dan Ida Ridhawati yang juga punya latar belakang profesi sebagai pengusaha. “Mereka (orang tua) lebih mendukung usaha daripada kerja kantoran,” Aditya menegaskan.

Maka, semua kendala dicarikan solusinya agar bisa diatasi. Termasuk mengimpor bahan kulit dari luar negeri untuk jenis kulit yang sukar didapat di dalam negeri. Rata-rata harga produk mereka dibanderol sesuai dengan bahan. Merek Bergh & Ozil misalnya, untuk sepatu dengan bahan kulit impor dibanderol seharga Rp 5-6 juta, sedangkan sepatu berbahan kulit biasa sekitar Rp 800 ribu. “Kalau Cajsa, tidak semahal itu, lebih terjangkau dengan kisaran Rp 300 ribu, karena tidak murni kulit. Pertimbangannya karena kalau perempuan kan lebih sering ganti-ganti sepatu dibanding laki-laki,” ujar Aditi.

Saat ini, setidaknya banyak orang telah menjadi pelanggan tetap sepatu buatan mereka. Tak hanya masyarakat biasa, beberapa orang ternama seperti Ayushita, Barli Asmara, Sarah Sechan pernah mencicipi mengenakan sepatu Bergh & Ozil. “Klien kami sudah banyak, tapi kalau yang loyal bisa lebih dari 50 orang,” ungkap Aditya.

Aditya dan Aditi lebih banyak menggunakan media online sebagai sarana pemasaran seperti Instagram, Twitter, Facebook dan website, selain juga punya offline store di Jl. Taman Cibeunying Utara 2A, Bandung. Dalam setahun biasanya mereka aktif ikut bazar empat sampai lima kali untuk menciptakan brand awareness atas kedua mereknya. Meskipun merupakan produk asli lokal, branding Bergh & Ozil sengaja dibuat lebih internasional. Bila kita mencoba mengunjungi laman berghozil.com, mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai tampilan, dan mencantumkan harga dalam bentuk dolar AS. “Kami ingin menyasar pasar internasional karena peluangnya ada dan cukup bagus. Sekarang juga sudah ada pembelian dari luar negeri dan mau dikembangkan ke sana,” ujar Aditi

Lucky, salah satu pengguna setia merek besutan dua bersaudara tersebut, mengaku puas dengan produk Bergh & Ozil dan Cajsa. Ia telah 2,5 tahun berlangganan Bergh & Ozil dan aktif membeli sepatu wanita besutan Aditi. “Sepatu pria Bergh & Ozil untuk saya pakai sendiri, kalau sepatu Aditi yang ceweknya untuk klien saya, karena pekerjaan saya stylish,” ujarnya.

Ia pertama kali kenal dengan produk tersebut melalui kakak dan ibunya yang telah lebih dulu berlangganan. Baginya, kedua merek tersebut menawarkan model yang sangat mengikuti perkembangan tren saat ini. “Walau tidak murah harganya, masih masuk akal,” ujarnya.

Profil Bergh & Ozil

Nama pendiri: Aditya Danandayu (13 November 1982)

& Aditi Erlangi (2 Maret 1985)

Fokus bisnis: Sepatu kulit

Toko offline: Jl. Taman Cibeunying Utara 2A Bandung

Merek & harga: Bergh& Ozil (Rp 800 ribu-6 juta) dan

Cajsa (sekitar Rp 300 ribu)

Strategi pemasaran: online, bazar, kolaborasi dengan

desainer dalam ajang IFW dan JFW

Produksi: 800 pasang per bulan (untuk merek sendiri)

Omset: di bawah Rp 500 juta per tahun

Jumlah karyawan: sekitar 35 orang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)