Maria Debora, Fokus ke Bisnis Dulu

Maria Debora

Cantik, muda dan berani terjun ke bisnis. Itulah karakter yang menggambarkan sosok Maria Debora. Wanita berusia 21 tahun dan tinggal menunggu wisuda Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang ini sedang sibuk-sibuknya mengurusi bisnis. Maklum, bisnisnya terkait pengadaan Alat Pelindung Diri (APD), seperti masker, face shield, dan sarung tangan plastik erat kaitannya dengan pandemi Covid-19 saat ini yang masih merajalela penyebaran virusnya.

Tahun 2018 Debora, demikian pemilik rambut panjang ini biasa disapa mengibarkan bendera PT Sains Nutraceutikal Lab (SNL). Anak sulung dari 3 bersaudara ini berkongsi dengan adiknya dalam mengelola perusahaan SNL. Mereka berbagi tugas, Debora didapuk membawahi produk APD, sedangkan sang adik mengembangkan usaha alat-alat kesehatan dan obat.

Di saat banyak bidang usaha menjerit karena pasarnya lesu terdampak Covid-19, Debora justru mendapat rezeki nomplok karena produk-produknya dibutuhkan oleh pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19. Seperti kita ketahui anggaran pemerintah sangat besar untuk mengatasi pandemicCovid-19, totalnya mencapai Rp75 triliun.

Angka tersebut tentunya menjadi peluang bagi pengusaha UMKM seperti Debora. Pada April 2020 Debora berhasil memenangkan tender pengadaan masker di Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang, Banten. “Kami memasok masker ke 823 sekolah di 31 Kecamatan Pandeglang,” tandas Debora yang diwawancarai di rumahnya, kawasan TangSel, Banten.

Gadis berkulit putih ini menambahkan, sebanyak 100 ribu masker yang dipasok ke Dinkes Kabupaten Pandeglang merupakan masker anti air dan anti droplet, sehingga memenuhi standar pencegahan Covid-19. Dua bulan berselang, pada Juli 2020, Debora kembali memenangkan tender di KPU (Komisi Pemilihan Umum) Pandeglang. Kali ini tender pengadaan masker, sarung tangan plastik dan tisu. Pada tender ini, SNL selangkah lebih maju karena sudah menyematkan merek “Kaplok” pada produk tisu.

“Kami menggunakan merek Kaplok karena mudah diingat dan diucapkan, Selain itu, ingin melestarikan istilah atau kata-kata dalam bahasa Jawa yang berarti pukul, Kami tidak ingin ikut-ikutan pengusaha lain yang sering menggunakan istilah bahasa asing untuk merek,” tutur wanita kelahiran Semarang, 26 Oktober 1999, ini.

Debora mengaku belum tertarik masuk ke pasar ritel, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dia memberi contoh, untuk memasok tisu merek Kaplok ke cabang Indomaret dan Alfamart yang berjumlah puluhan ribu membutuhkan biaya sangat besar, meski hanya puluhan pieces tisu ke masing-masing cabang. “Perusahaan kecil seperti kami bisa langsung bangkrut. Sebab, mesti mengeluarkan uang miliran di muka untuk produksi tisu,” tutur Direktur Operasional Sains Nutraceutikal Lab ini.

Di sela kesibukan berbisnis sekarang, Debora juga menjalankan tugas KKN di Mahkamah Agung. Dia juga pernah ikut membintangi empat film layar lebar yakni “The Chocolate Chance” tahun 2016, “Posesif” tahun 2017, “Love Reborn” tahun 2018, dan “Pohon Terkenal” tahun 2019 . Prestasi lainnya, masuk final pemilihan pemuda-pemudi Duta Pariwisata Kota TangSel, “Kang None” di tahun 2015—semacam Abang None Jakarta.

Untuk mengisi watu senggang, Debora memiliki ketertarikan yang kuat pada seni musik. Dia menguasai dua alat musik, yakni piano dan saksofon. Usai wawancara Debora sempat unjuk kebolehan meniup saksofon, dengan memainkan intro lagu Careless Whisper dari George Michael.

Mengenai rencana ke depan, Debora akan lebih fokus berbisnis dan tidak tertarik untuk serius ke dunia seni peran. Bermain film baginya hanya untuk menambah dan memperkaya pengalaman hidup. “Karena papa kan pengusaha juga, saya lihat kerjanya fleksibel. Kalau karyawan harus bangun pagi dan pulang malam. Tapi jadi pengusaha juga tidak mudah, karena harus siap menanggung segala risikonya, termasuk rugi,” ujar Debora.

Sebagai pebisnis pemula dia mengidolakan pengusaha yang juga Menteri BUMN, Erick Thohir. Alasannya, karena Erick Thohir sukses menyelenggarakan perhelatan Asia Games 2018 Jakarta -Palembang dan berani membuat berbagai terobosan untuk memajukan BUMN.

Debora mengakui, dia harus meningkatkan kemampuannya untuk menjadi pengusaha sukses di kemudian hari, antara lain kemampuan public speaking dan marketing. “Tujuannya agar bisa berbicara di depan banyak orang dan mempromosikan perusahaan. Aku juga sudah ikut pendidikan Para Legal untuk bisa membuat draft legal dan contract drafting yang dibutuhkan dalam dunia bisnis,” tutur wanita yang juga sedang mengembangkan Law Firm Debora Skadden.

Kelak, Debora juga tergiur mengembangkan bisnis digital atau startup digital bidang penjualan APD, Alkes dan farmasi. Dia pun mengidolakan sejumlah tokoh pengusaha digital global yang sukses seperti Mark Zuckerberg Pendiri Facebook, Jack Ma Pendiri Alibaba, atau Nadiem Makarim Pendiri GoJek.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)