Membisniskan Hobi ala Anita Briana Dewi

Kecintaan Anita Briana Dewi menjelajahi berbagai destinasi wisata berbuah hoki. Dia berhasil mendirikan agen perjalanan wisata Travellover Jogja yang bersitus di www.travelloverjogja.com. Bukan sembarang agen wisata yang dibesut dara 24 tahun kelahiran Ngawi, Jawa Timur, itu. Alumni Jurusan Manajemen Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengombinasikan agen wisatanya dengan program donasi kepada anak-anak di bantaran Kali Code, Yogyakarta.

Anita Briana DewiSelain itu, berbeda dengan biro wisata lainnya, Travellover mengandalkan para mahasiswa untuk menjadi pemandu wisatanya. Keunggulan lain, Travellover bersedia mengubah seketika destinasi wisata yang akan dikunjungi jika kliennya menghendaki, bahkan di hari H kunjungan sekalipun. Model bisnis yang dibesut Anita dua tahun silam ini pun sukses. Travellover yang beralamat di Jl. Lare Angon, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mampu menarik banyak kelompok wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara.

Travellover bukan bisnis pertama yang dibesut Anita. Penerima beasiswa Bidikmisi dan Mien R. Uno Foundation semasa kuliah di UGM itu telah berkali-kali membesut bisnis, meski semuanya berujung kebangkrutan. Titik terang baru ditemuinya ketika dia menekuni bisnis yang sejalan dengan hobinya: jalan-jalan. “Travellover ada karena hobi dan passion saya. Sejak sekolah saya sudah hobi naik gunung, jalan-jalan, adventure. Tapi baru di tahun 2015 ada website dan bisnis yang digarap dengan serius,” tutur CEO Travellover itu kepada SWA.

Selain itu, dia tergerak membesut bisnis agen wisata karena melihat sejumlah wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara, yang diperlakukan tidak semestinya oleh umumnya agen wisata. Keprihatinannya muncul seketika. “I feel something not right at that time. Tour organizer adalah garda depan yang mengenalkan Indonesia kepada wisatawan mancanegara. Kalau dalam pelayanannya banyak ‘penipuan’, pariwisata Indonesia tidak akan makin bagus dan maju,” kata Anita blakblakan.

Lambat laun bisnis yang digelutinya mulai tertata. Terlebih setelah mengikuti program beasiswa kewirausahaan dari Mien R. Uno Foundation selama satu tahun. Ditambah lagi, ia mendapat banyak dukungan dan bimbingan dari dosen-dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM. “Sejak itu saya yakin untuk fokus pada Travellover dan siap menikmati jatuh-bangunnya menjadi wirausaha muda,” katanya.

Agar dapat bersaing dengan agen wisata yang telah mapan, Anita mengkhususkan bisnisnya pada kelompok wisata kecil. Harga yang dibanderol mulai dari Rp 950 ribu per hari untuk paket dua wisatawan sampai Rp 2,5 juta untuk 7-9 orang untuk aktivitas treking alias menjelajah kawasan Gunung Merapi.

Destinasi wisata yang ditawarkan pun menarik. Antara lain, menikmati seluncur pasir, paralayang, meluncur di atas seutas tali di Pantai Timang, menikmati hutan pinus, menjelajah gua vertikal di Jomblang, berarung jeram untuk tingkat pemula sampai mahir, ‘terbang’ di arena flying fox sepanjang setengah kilometer lebih, serta menikmati keindahan matahari terbit dari Gunung Merapi.

Anita mengajak mahasiswa UGM dan kampus lain di Yogyakarta untuk menjadi pemandu wisata. Dengan bahasa Inggris yang cukup mumpuni, para mahasiswa yang masih muda dan energik itu dapat menjelaskan makna dan sejarah berbagai daerah yang dikunjungi. Resep itu terbukti cespleng dalam menjalin keakraban dengan tamu-tamunya. “Hubungan dengan tamu menjadi sangat akrab layaknya teman atau sahabat. Ini terbukti dari hubungan kami yang terus terjalin walau para wisatawan kami itu sudah balik ke negaranya,” dia menerangkan.

Uniknya, wisatawan pun diajak berkontribusi dalam kegiatan sosial di Yogyakarta. Travellover mengajak wisatawan mengunjungi anak-anak yang tergabung dalam program sosial Sekolah Sungai di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Travellover mendorong wisatawan memberikan donasi berupa buku, mainan, pakaian, dan sebagainya. Diberikan diskon bagi wisatawan yang menyumbang dalam program tersebut.

Meski niatnya sekadar mengajak berdonasi, Anita pernah dibuat kaget dengan nilai sumbangan dari sekelompok wisatawan yang mencapai Rp 10 juta. “Padahal, diskon yang diberikan sebagai imbalan donasi hanya Rp 200 ribu-400 ribu. Saat itu saya merasakan niat baik dalam social project kami mendapat dukungan yang positif dari customer. Dan, kami sangat terharu dan bersyukur akan hal itu,” ungkap Anita.

Dalam beroperasi, Travellover bekerjasama dengan para operator tempat wisata di Yogyakarta. Anita juga intens memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram serta sejumlah situs rekomendasi wisata seperti Tripadvisor dan Traveloka. “Terutama, kami mengandalkan website kami yang sangat update, banyak yang mendaftar langsung di situ,” kata Anita yang kini dibantu enam anggota tim inti.

Anita sadar, persaingan di bisnis agen wisata sangat keras. Karena itu, ia rutin berinovasi dengan terus memperbarui menu destinasinya. Pemesanan pun lebih mudah karena bisa dilakukan online alias daring. Plus, Travellover telah membuka cabang hingga ke Jawa Timur, tepatnya di Bromo dan Banyuwangi. Omsetnya kini Rp 60 juta-70 juta per bulan.

Saat ini, Anita tengah fokus menata sistem bisnisnya. Namun, sejumlah rencana pengembangan sudah ada pula di benaknya. “Selanjutnya, kami berencana membuka cabang Travellover Java, Borneo, dan lainnya,” ungkapnya.

Reportase: Yosa Maulana

Riset: Armiadi Murdiansyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)