Pelopor Snack Kulit Ayam Telur Asin Beromset Rp 6 Miliar

Ei Salted Egg adalah makanan ringan (snack) dari telur asin yang dibuat oleh Steven Kartono dan Leonardo Eton. Steven mengatakan, usaha Ei Salted Egg dimulai pada April 2017. “Modal awalnya Rp 70 juta untuk membeli bahan-bahan dan biaya branding seperti biaya packaging dan sticker,” kata pria berusia 27 tahun itu.

Leonardo Eton & Steven KartonoDia dan Leonardo berbagi tugas dalam membesarkan usahanya itu. Steven menangani manajemen dan keuangan, sedangkan Leonardo menukangi operasional serta pemasaran. Duet ini saling melengkapi. “Leonardo itu sangat konseptual dan detail,” ungkap Steven tentang kelebihan Leonardo. Latar belakang pendidikan Leonardo di bidang perhotelan dan Steven di bidang komunikasi pemasaran. “Saya selalu ingin menciptakan hal-hal baru,” kata Leonardo mengenai misinya berbisnis snack telur asin.

Mereka bersahabat lantaran sering berjumpa di berbagai pameran kuliner yang diikuti antara tahun 2010 dan 2013. Karena berbisnis makanan dan minuman, Steven dan Leonardo sering berpartisipasi dalam bazar. Perjumpaan ini kerap diselingi diskusi mengenai bisnis kuliner. Lama-kelamaan, mereka saling menemukan kecocokan visi dan ide. Mereka sepakat untuk memproduksi snack telur asin yang diberi merek Ei Salted Egg. “Ei artinya telur dalam bahasa Belanda dan sangat simpel diucapkan dan diingat,” kata Steven. Telur asin dipasok dari Brebes, Jawa Tengah. Steven menambahkan, pihaknya membeli 3 ton kentang dalam sebulan.

Varian rasa jajanan telur asin ini beragam, yaitu salted egg crispy chicken skin (kulit ayam telur asin), salted egg potato chips (keripik kentang telur asin), dan salted egg wonton chips (keripik pangsit telur asin). Sebungkus Ei Salted Egg dibanderol Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. Steven dan Leonardo mengklaim, pihaknya adalah produsen chicken skin salted egg dan salted egg wonton chips yang pertama di Indonesia.

Di tahap awal, duet ini mengembangkan pemasaran produknya dengan mengikuti pameran dan mempercantik pengemasan demi meningkatkan brand awareness Ei Salted Egg. Pengemasan Ei Salted Egg terdiri dari dua varian, yaitu kemasan yang berkonsep oleh-oleh dan yang memakai tas sling bag dengan tampilan unik. “Konsep sling bag itu untuk free marketing karena sling bag bisa digunakan konsumen untuk berjalan-jalan yang menarik perhatian orang-orang yang melihat tas itu,” tutur Steven.

Konsumen menyambut hangat jajanan telur asin ini. “Lalu, kami menjual di toko online. Untuk memperluas pasar, kami juga membuka offline store di pusat perbelanjaan Grand Indonesia dan Paskal 23 Bandung,” Steven menjelaskan. Strategi pemasaran di platform konvensional dan digital itu memperluas segmen konsumen berusia muda dan tua. Strategi pemasaran yang inovatif ini menuai hasil. Sebab, Ei Salted Egg laris manis dibeli konsumen. “Di tahap awal, rata-rata penjualannya 30 ribu pack per bulan. Saat ini, angka penjualannya stabil di kisaran 15 ribu-20 ribu pack setiap bulannya,” ujarnya. Apabila merujuk harga jual dan rata-rata penjualan di saat ini, omsetnya berkisar Rp 500-an juta setiap bulan, atau sekitar Rp 6 miliar setiap tahun.

Bisnis ini tak hanya memberikan keuntungan berlipat ganda, tetapi juga membuka lapangan pekerjaaan. Karyawan Steven dan Leonardo sebanyak 40 orang yang bertugas sebagai di staf bagian administrasi, gudang, atau produksi. Agar bisnis berkesinambungan, keduanya berencana meluncurkan varian rasa terbaru dan mengekspor Ai Salted Egg. “Cita-cita terbesar kami adalah ingin membawa snack Indonesia diekspor ke luar negeri,” Steven menegaskan. (*)

Reportase: Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)