Adam Makalani Kasali, Sang Penjepret Peluncuran Satelit BRI

Nama Adam Makalani Kasali mulai dikenal sebagai fotografer ketika berhasil mengabadikan momen peluncuran satelit BRI di Kourou, Guyana (koloni Prancis), beberapa waktu lalu. Bukan hanya hasil karya fotonya yang menarik masyarakat, perjuangan Adam untuk bisa hadir di sana tergolong tidak mudah.

Adam Makalani KasaliAnak kedua pakar manajemen terkenal Rhenald Kasali itu harus terbang dari Amerika Serikat, tempatnya menimba ilmu, ke Kourou tempat di mana satelit tersebut diluncurkan. Berbagai cara ia lakukan untuk menembus masuk Guyana Space Center agar mendapatkan lokasi ideal untuk menjepret. Pria kelahiran 1995 ini bahkan harus berpura-pura menjadi anak Swito, pria warga negara Suriname keturunan Jawa yang merupakan pegawai di Guyana Space Center.

Hasil jepretan Adam itu, yang diberi judul “Membawa Nusantara ke Luar Angkasa”, telah diperlihatkan dalam sebuah pameran foto. Karya tersebut membuat berbagai kalangan berdecak kagum. Selain foto peluncuran satelit, ia juga memamerkan hasil jepretannya mengenai potret orang Jawa di Suriname. “Saat itu memang sempat beberapa kali terjadi pembatalan peluncuran, akhirnya selama 2-3 minggu sambil menunggu peluncuran, saya berjalan-jalan ke Amazon, Suriname, dll.,” ungkapnya.

Meskipun kini namanya mulai dikenal, Adam mengaku tidak ingin menjadi fotografer yang sekadarnya saja. Ia bertekad bisa menjadi fotografer yang punya keunikan tersendiri. Ia melihat setiap orang bisa mengambil foto, tetapi hanya sedikit yang punya ciri khas. Karena itu, ia memfokuskan diri untuk membangun citra sebagai fotografer bergenre environmental portrait. “Melalui environmental protrait ini saya ingin menyampaikan cerita melalui foto,” ujarnya.

Beberapa objek foto telah diambilnya. Misalnya, pekerja di subway, petugas kebersihan atau petugas sanitasi. Ia juga tengah menggarap proyek environmental portrait yang mengambil angle di Jakarta, serta terlibat dalam proyek yang memberikan akses untuk menjepret proses kerja di Bandara SoekarnoHatta, “Proyek-proyek ini akan segera saya rampungkan,” ujarnya.

Kecintaan Adam terhadap fotografi bermula pada 2008. Ketika itu ia mulai belajar mengutakatik kamera untuk mendapatan hasil gambar yang bagus. Kamera pertama yang dimilikinya adalah Canon 400D. Ia juga pernah bekerja magang di Harian Kompas kurang-lebih enam bulan untuk meningkatkan kemampuan fotografinya. Beruntung, kala itu ia didampingi fotografer senior Kompas Agus Susanto. Adam mengaku, dari Agus ia banyak sekali belajar teknik mengambil foto dengan baik. “Banyak pengalaman yang saya dapat. Ketika harus meliput demo, sampai terkena gas air mata,” ungkapnya.

Untuk memperdalam keahlian fotografinya, kini Adam menimba ilmu di NY Film Academy, Amerika Serikat. Penyuka hasil foto karya Sebastiao Salgado, Jimmy Nelson dan Robert Cappa itu punya rencana tetap akan tinggal di AS untuk beberapa tahun ke depan. “Setelah lulus kuliah nanti, 23 tahun saya akan masih tinggal di New York,” ungkap mahasiswa semester ke-2 itu.

Bila kembali ke Tanah Air, Adam ingin menghasilkan environmental portrait dari berbagai daerah di Indonesia. Ia ingin lebih dalam membingkai sisisisi humanis masyarakat Indonesia lewat jepretan fotonya. “Belum banyak fotografer lokal yang menyentuh sisi humanisme ini. Justru banyak fotografer dari luar negeri yang mengambil foto humanisme di Indonesia. Ini peluang bagi saya, katanya.

Walaupun bisa dibilang lahir dari keluarga yang mapan, Adam tidak gemar mengoleksi berbagai jenis kamera. Ia memilih menggunakan kamera yang sama selama bertahun-tahun. “Hampir tidak pernah update kecuali sangat krusial,” kata dia. Dalam tujuh tahun belakangan ini ia selalu ditemani kamera Canon 1Ds Mark III kesayangannya. Sementara untuk proyek lain ia menggunakan Hasselblad H4D.

Rhenald Kasali, sebagai orang orang tua, mengaku membebaskan sepenuhnya Adam untuk memilih karier yang disukainya. Ia percaya orang tua sudah seharusnya membiarkan anaknya menjadi “pengemudi dalam hidupnya, walaupun diakuinya bisnis fotografi di Indonesia belum begitu berkembang. “Kami mendukung saja sebagai orang tua. Sebab, jika sudah menyukai, mereka akan belajar dengan sendirinya,” ujar Rhenald. (*)

Editor : Bernadeta Pintarti
Journalist : Tiffany Diahnisa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Sejumlah Merek Raih Indonesia Prestige Brand Award 2017

Menjadi perusahaan yang mempunyai brand ternama merupakan keinginan setiap perusahaan. Namun, untuk menjadi sebuah perusahaan dengan brand yang popular tidaklah...

Close