Clarissa Anugrah Lim | SWA.co.id

Clarissa Anugrah Lim

Saat ini bekerja di perusahaan startup masih dipandang sebelah mata oleh para pencari kerja. Namun, Clarissa Anugrah Lim berani memulainya dan bertahan hingga sekarang. Setelah wisuda sarjana pada 2014, dia bergabung dengan Tokopedia selama dua tahun. Lalu, pada November 2016 dia pindah ke blanja.com sebagai manajer brand.

Clarissa Anugrah LimSebenarnya, sebelum bekerja di startup, saya sempat mengawali karier profesional sebagai public relations consultant di Ego Media Communication,” tutur kelahiran 11 Oktober 1992 ini tentang perjalanan kariernya.

Sebagai Manajer Brand blanja.com sejak empat bulan lalu, tugas dan tanggung jawab Clarissa adalah membangun strategi brand. Pekerjaan yang hampir mirip dilakoni ketika wanita 24 tahun ini menjabat sebagai Spesialis Brand di Tokopedia.

Karena saya bekerja di bagian branding, job desk saya adalah membuat dan membangun core value perusahaan. Saya dan tim memikirkan apa yang menjadi diferensiasi produk kami dari yang lain, membuat mapping target audience dan kompetitor, serta bagaimana mengomunikasikan produk ke khalayak. Saya juga ikut terlibat dalam marketing research & campaign,” kata lulusan S-1 Komunikasi Pemasaran Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Komunikasi, Universitas Atma Jaya, Jakarta ini.

Bagi Clarissa, dunia e-commerce yang digelutinya saat ini banyak tantangannya. Pertama, dunia e-commerce memiliki perkembangan yang dinamis dan cepat, jadi kita harus bisa mengejar itu. Kedua, bagaimana membuat orang lain paham dengan apa yang dikerjakan oleh tim pelaku bisnis e-commerce. Ketiga, bagaimana mengenalkan apa itu blanja.com sebagai satu-satunya e-commerce milik BUMN. Alhasil, harus bisa menginformasikan ke masyarakat bahwa Indonesia akan masuk ke era digitalisasi dan bangsa ini punya akses power dari seluruh dunia yang terintegrasi dengan Ebay.

Di dunia e-commerce, menurut Clarissa, juga dituntut banyak mencari ilmu. Caranya, banyak membaca, bertanya atau berdiskusi dengan orang yang lebih paham tentang industri e-commerce. Selain itu, dituntut pula kemampuan membangun kepercayaan dari mitra bisnis seperti Facebook dan Google.

Untuk menghadapi tantangan itu, Clarissa mengaku strateginya berkolaborasi. “Sejak pertama kali bekerja, saya tidak bisa melakukannya seorang diri, terus-menerus belajar dari semua orang, rajin bekerja, serta haus akan pengetahuan. Lalu, sering membaca dan memanusiakan buku,” tutur pehobi membaca ini.

Impiannya adalah mendapat kesempatan mengajar. Dia ingin menjadi guru yang mengombinasikan antara praktik dan teori, karena selama ini sering terjadi antara praktik dan teori tidak seimbang.

Kalau sekarang, saya ingin sosialisasi ke anak-anak muda agar tidak takut bekerja di startup. Sebab, apabila kita sudah bekerja di startup, itu akan baik di masa mendatang. Mengapa? Di startup, kita digembleng dari awal. Lalu, jangan takut untuk gagal di awal dan setia dengan apa yang kita kerjakan,” ungkap Clarissa yang masuk finalis 10 besar kompetisi Hitachi Young Leader Initiative. (*)

Reportase: Anastasia Anggoro

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
IIMS
IIMS 2017 Targetkan Transaksi Rp 3,1 Triliun

Gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) tahun ini siap digelar 27 April sampai 7 Mei 2017, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta...

Close