Jurus Jitu Verik Garap Bisnis Desain Interior dan Kontraktor

Verik Angerik, CEO Velospace & Co.

Perusahaan rintisan (startup) di Tanah Air berkembang pesat. Hingga Maret 2019, menurut laporan Startup Ranking, jumlahnya mencapai 2.076 perusahaan, yang menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia, di bawah Amerika Serikat yang memiliki 46.608 startup, India (6.179 startup), Inggris (4.079 startup), dan Kanada (2.485 startup).

Selain jumlahnya yang besar, jasa dan produk yang disediakan startup di Indonesia semakin bervariasi. Velospace & Co, misalnya, menawarkan sinergi antara jasa tata ruang interior (interior design) dan kontraktor bangunan untuk memenuhi tingginya kebutuhan konsumen akan rumah dan apartemen berdesain kontemporer. Tren ini membuka peluang bisnis yang ditangkap oleh Velospace.

Kami membantu konsumen membuatkan desain interior modern yang sesuai dengan selera anak muda. Kadang-kadang konsumen memiliki kemauan yang banyak, namun kemampuan finansialnya kurang. Velospace memberikan solusi dengan cara membuatkan desain terbaik, namun sesuai dengan selera dan kapasitas modal konsumen,” kata Verik Angerik, CEO Velospace & Co.

Perusahaan rintisan ini didirikan tahun 2015 sebagai perusahaan desain interior lokal yang membidik segmen konsumen dari generasi milenial, berusia 25-40 tahun. Verik merintis usahanya dari nol dengan cara menawarkan jasa desain, gambar, dan konsultasi rumah kepada pasangan keluarga muda yang akan membangun atau membeli rumah. Meski tawarannya kerapkali ditolak, ia tetap ulet menjalaninya sampai beberapa konsumen menggunakan jasa Verik untuk desain interior rumah.

Saat ia bekerja sendirian, seorang rekannya yang bekerja sebagai kontraktor diajak bergabung ke perusahaannya itu. Ajakan itu diterima, sehingga pada tahun itu juga Velospace melakukan rebranding, yakni menggabungkan jasa desain interior dan arsitek (build) sebagai bisnis intinya. Target pasar diperluas dengan menyasar segmen korporat. “Kami melayani jasa desain dan build interior untuk generasi milenial dan korporat dengan desain yang unik untuk hunian maupun komersial,” kata Verik, sarjana teknik sipil lulusan Universitas Sumatera Utara yang pernah bekerja sepuluh tahun di perusahaan distribusi dan ritel interior DIO International ini.

Langkah rebranding tersebut menjadi momentum pertumbuhan dan pengembangan bisnis Velospace. Langkah awalnya, menambah sumber daya manusia menjadi 15 orang, serta menjalin kemitraan dengan sejumlah kontraktor untuk jasa arsitektur. Kemudian, langkah pemasaran dilakukan secara digital melalui website dan media sosial. “Ini kami lakukan karena memang trennya ke arah sana. Kebetulan juga kami adalah perusahaan startup yang tentunya akan memaksimalkan penggunaan teknologi untuk program marketing,” ungkap Verik.

Di balik kesulitan ada kemudahan. Ungkapan ini agaknya berlaku pada Velospace. Verik mengalami beragam kesulitan ketika memulai bisnis, antara lain sulit menggaet klien lantaran bekerja seorang diri hingga persoalan layanan jasa yang dianggap kurang mumpuni. Kendati demikian, ia tetap gigih melihat peluang bisnis di ranah desain interior dan arsitektur.

Alhasil, bisnis Velospace akhirnya berkembang pesat berkat keberhasilannya menggaet klien individual dan korporat untuk mengerjakan proyek desain interior dan arsitektur. Sejumlah proyek berhasil ditangani Velospace, misalnya proyek galeri Yayasan Astra, kantor Bobobobo.com, salon dan spa Martha Tilaar, tiga properti milik selebriti Ruben Onsu, dan beberapa gerai waralaba Geprek Bensu.

Kisah menarik terjadi pada pihak Astra. Saat itu, kata Verik, dia sedang mengerjakan desain kantor Bobobobo.com. Desainnya dibuat unik karena memakai bahan transparan sebagai dinding agar sinar matahari dapat masuk dengan optimal sehingga mengurangi pemakaian listrik. Pihak Astra sempat meninjau proyek yang hampir selesai dikerjakan itu. Kebetulan, perwakilan Astra saat itu ingin membangun kantor startup dan sedang melakukan studi banding ke beberapa kantor startup. “Rupanya mereka terkesan dengan hasil kerja kami. Kemudian, kami diundang untuk pitching. Akhirnya, kami yang terpilih untuk mengerjakan proyek Astra Digital yang terdiri dari bangunan lima lantai dan satu rooftop,” tuturnya.

Menurut Wiwie Yudiantyo, Direktur PT Astra Digital International, pihaknya menggunakan jasa Velospace untuk pengerjaan kantor startup-nya karena konsep desainnya sesuai dengan keinginan manajemen Astra Digital. “Meskipun mereka masih baru dalam menangani korporasi besar, mereka mau belajar dan beradaptasi dengan apa yang kami persyaratkan, misalnya dokumen dan update progress renovasi. Dari tahapan desain hingga implementasi, semuanya berjalan sesuai schedule dan saya senang dengan hasilnya,” ungkap Wiwie.

Kendati tergolong pemain baru, Velospace dipercaya klien menangani berbagai proyek. Total proyek yang ditanganinya saat ini sekitar 150. Proyeknya tersebar di beberapa kota, antara lain Bandung, Magelang, dan Batam.

Tahun 2018 menjadi tahun pencapaian prestasi bagi Velospace lantaran sukses menangani sejumlah proyek besar. Total omsetnya mencapai Rp 20 miliar sepanjang tahun itu, meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar Rp 14 miliar. “Yang pasti, desain yang kami buat adalah yang modern dan sesuai dengan selera anak muda. Anak muda sekarang biasanya memilih desain yang unik atau desain ala Skandinavia, maupun desain minimalis yang masih digandrungi hingga sekarang. Namun, kami selalu memberikan masukan agar desainnya tetap memiliki cirikhas yang berasal dari Velospace,” Verik memaparkan.

Langkah Velospace tidak berhenti sampai di sini. Kecenderungan masyarakat mencari harga murah merupakan tantangan, meskipun desain yang baik akan memberikan kualitas hidup yang baik pula. Masyarakat (end user) tidak mau mengeluarkan uang banyak untuk itu. Untuk menjawab kebutuhan konsumen yang memiliki dana terbatas, Velospace meluncurkan platform digital Persegi.co. di tahun ini. Alasan membangun unit bisnis ini, menurut Verik, untuk sebagian orang harga yang ditawarkan Velospace terlalu mahal.

Persegi hadir sebagai startup e-commerce yang bermitra dengan arsitek dan kontraktor, serta bekerjasama dengan 60 lebih merek produk interior lokal dengan tawaran harga yang lebih ekonomis. “Rata-rata penawaran harga untuk Velospace berada di atas Rp 100 juta dan untuk Persegi di bawah Rp 100 juta. Semuanya sudah design and build,” Verik menjelaskan.

Melalui platformnya tersebut, Verik mengumpulkan para desainer dan kontraktor interior untuk menjadi mitra dan menawarkan jasanya ke perusahaan properti dan pengguna akhir. Baginya, model bisnis kemitraan memberikan banyak benefit. Selain memberi mitra kesempatan untuk menangani proyek, memiliki mitra di kota lain jelas sangat menguntungkan karena tidak harus menyuntikkan modal baru untuk membuka kantor cabang. Begitu pula untuk proyek di suatu kota, pengerjaannya akan dilakukan oleh mitra di kota tersebut sehingga lebih efektif.

Dengan kerjasama tersebut, pihaknya mencoba menjaring penyedia jasa desain interior di berbagai kota untuk bergabung dalam satu bendera yang sama. Karena itu, revenue stream yang diperoleh berasal dari model bisnis kemitraan (profit sharing). Pihaknya mengecek profil mitra, melihat sejauh mana kapasitas mereka, juga kualitas pengerjaan dan portofolio mereka.

Saat ini, Velospace sudah menjalin kemitraan dengan 10 perusahaan pengembang untuk jasa arsitektur, seperti Grup LiMa yang didirikan Surachmat Sunjoto dan Grup Cempaka. Terkait rencana menggaet investor atau venture capital, pihaknya akan melakukan fund raising pada Mei-Juli 2019. Selain itu, Velospace telah menetapkan target jangka pendek dan jangka panjang untuk mengedukasi pasar mengenai jasa desain interior yang tarifnya kompetitif, mengajak konsumen menggunakan produk lokal, dan menjadikan Velospace sebagai one stop solution di jasa mendesain interior dan membangun.

Chandra Maulana & Vicky Rachman; Riset: Armiadi Murdiansyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)