Rio Darmawan dkk. Membidik Bisnis Iklan di Mobil

Kegigihan I Gede Rio Harta Darmawan menempuh jalur kewirausahaan patut diacungi jempol. Dia terus mengikuti kata hatinya meski telah berkali-kali gagal berbisnis. Kegigihan itu membuahkan hasil. Bisnis terakhir yang dibesutnya, Sticar, terbilang sukses. Sticar menawarkan iklan di mobil berbasis aplikasi. Saat ini, puluhan ribu mitra pengemudi bergabung dan puluhan klien aktif mengiklankan produknya di Sticar.

I Gede Rio Harta DarmawanKepada SWA, lelaki yang akrab disapa Rio ini mengungkapkan, Sticar dibesut setelah berulang kali dia gagal berbisnis kala masih kuliah di Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Indonesia (UI). Bisnis pertama yang dibesut bersama rekan-rekanya, berupa portal daring (online) pencari tenaga kerja di industri kreatif, tak membuahkan hasil. Padahal, bisnis ini hasil menang kontes inkubator bisnis di kampus, tetapi eksekusinya di lapangan ternyata tak mudah.

Meski demikian, bersama kawan-kawannya, lulusan UI tahun 2015 ini pantang menyerah. Mereka membidik bisnis baru. Kali ini berupa platform iklan bergerak yang terintegrasi dengan berbagai pusat keramaian seperti rumah makan, kedai kopi, dan hotel. Namun, keberuntungan belum juga berpihak padanya.

Selanjutnya, berkat kucuran dana dari investor lokal, Rio dkk. membesut bisnis baru lagi. Belajar dari dua kegagalan sebelumnya, kali ini mereka menempuh strategi berbeda. Mereka membagi investasi dalam beberapa keranjang bisnis. Pembagiannya mencakup lini bisnis solusi teknologi informasi, media daring, mesin pencari sosial, sampai modal ventura. Rio memimpin unit bisnis tersendiri, yakni jasa iklan di mobil dengan merek Sticar, dengan modal Rp 2 miliar.

Sticar kami rancang bulan Juni 2016, launch Oktober 2016. Yang tebersit di pikiran kami waktu itu hanya fast to market, karena kami lumayan banyak belajar dari kegagalan sebelumnya,” tutur Rio yang kini menjabat sebagai CEO Sticar.

Rio mengaku konsep Sticar diadopsi dari bisnis sejenis di Amerika Serikat. Intinya, Sticar yang bernaung di bawah PT Optimal Digital Solusi menghubungkan pemilik mobil yang disebut mitra pengemudi dengan perusahaan pemilik merek yang ingin beriklan di mobil mitra. Sticar memberikan insentif uang berdasarkan kilometer yang telah ditempuh mobil mitra yang telah ditempel iklan pemilik merek.

Sticar memantau mitra pengemudi dan memberikan laporan kepada pengiklan melalui aplikasinya yang bisa diunduh di Google Play. Melalui aplikasi di ponsel pintar ini, Sticar memantau kinerja jelajah harian mobil mitra pengemudinya dan memberikan hasilnya secara real-time ke pengiklan.

Menurut Rio, prinsip dasarnya membesarkan Sticar sederhana saja: memuaskan konsumen sampai bersedia kembali lagi. “Tujuan kami nomor 1 adalah customer satisfaction, revenue ada di nomor 5. Karena kami percaya, dari satu customer yang puas, customer yang lain akan follow, dan begitu pula revenue,” ungkapnya.

Untuk mempromosikan jasanya, Sticar aktif menggunakan kanal pemasaran daring dan offline. Strategi lainnya, memberikan uji coba gratis satu mobil untuk satu pengiklan. Langkah ini untuk mengundang minat calon klien. Hasilnya mujarab. Rio mengklaim, strategi ini berhasil menarik pengiklan untuk menjajal Sticar.

Sticar, imbuh Rio, sangat menguntungkan pengiklan. Pasalnya, keberadaan merek mereka di mobil mitra Sticar memberikan eksposur yang luas. Metode pengukuran eksposur pun sangat jelas lantaran setiap mobil dipantau dengan GPS. Biaya beriklan di Sticar juga lebih murah karena menggunakan hitungan per kilometer jarak tempuh. Ditambah lagi, pemilik merek dapat mengetahui data perjalanan mobil para mitra secara real-time.

Dengan berbagai keunggulan itu, Sticar terus berkembang. Kata Rio, kini jumlah armada Sticar mencapai 20 ribu lebih di 15 kota di Indonesia dan perusahaannya telah memberikan penghasilan tambahan kepada lebih dari 5 ribu mitra pengemudi Sticar. “Untuk revenue agak sensitif, yang jelas sudah cukup untuk menghidupi perusahaan hingga akhir tahun depan,” ujar dia.

Dari kaca mata bisnis, Sticar bisa dibilang sukses. Namun, Rio menolak predikat itu. Pasalnya, dia khawatir persepsi kesuksesan akan membuat timnya terlena dan alpa berinovasi. “Kalau saya sudah merasa Sticar sukses, saya yakin ke depannya Sticar tidak akan mampu bertarung di kondisi pasar yang sangat dinamis seperti di Indonesia. So, stay hungry,” ujarnya mengutip kalimat yang dipopulerkan mediang Steve Jobs, sang pendiri Apple Inc.

Rio yakin, dengan konsistensi berinovasi, Sticar akan terus melesat. “Kami punya mimpi untuk mengembangkan bisnis teknologi ini ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan dunia. Supaya dunia juga tahu bahwa Indonesia bisa!”.

Reportase:  Akbar Kemas

Riset: Hendi Pradika

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)