Tyovan Ari Widagdo: Kutu Buku dan Mantan Hacker, Pembesut Aplikasi Bahaso

Tyovan Ari Widagdo
Tyovan Ari Widagdo, chairman PT Bahaso Intermedia Cakrawala (Bahaso)

Rasa puas menghampiri Tyovan Ari Widagdo usai membaca majalah SWA di perpustakaan Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Walau majalah yang dibacanya itu bukan edisi terbaru, dia tetap bersemangat membaca satu per satu artikel, khususnya yang menjabarkan kisah sukses pelaku bisnis teknologi informasi (TI). Tyo, demikian sapaannya, mengisahkan, saat itu dia masih berserkolah di SMAN 1 Wonosobo. “Insight dari majalah SWA menginspirasi saya, bahwa teknologi informasi itu bisa dijadikan bisnis,” ujarnya saat dijumpai SWA di kantor pusat Bahaso, Jalan Suryopranoto 29A, Gambir, Jakarta Selatan, pada akhir November 2018.

Keterbatasan biaya tak menyurutkan langkahnya untuk mempelajari dunia TI dari berbagai sumber. Si kutu buku ini juga rajin berselancar di dunia maya di warung internet (warnet) yang tersedia di Wonosobo. Kala itu tarifnya Rp 7 ribu per jam. Uang sakunya pas-pasan, yakni Rp 5 ribu/hari, sehingga tidak bisa membayar tarif internet di warnet itu. Ayahnya yang berprofesi sebagai penjual ketupat tahu mengajarkan hidup sederhana kepada Tyo. Namun, jiwa petualang Tyo tidak terbendung walau isi dompetnya tipis. Dia meretas tagihan warnet itu sehingga bisa browsing selama berjam-jam.

Bagi Tyo, meretas situs internet bukanlah perkara sulit di kala itu. Dia pernah meretas situs SMA 78 Jakarta, membobol kartu kredit, atau membuat virus komputer. “Saya pernah tercebur ke dunia gelap sebagai hacker. Sempat membobol beberapa akun, sekadar menantang diri. Uang bukan alasan saya mencoba menjadi hacker,” ungkapnya. Dia sudah meninggalkan dunia hacker sejak masa SMA. Dia mengalihkan potensinya itu untuk menekuni dunia bisnis TI dengan mengibarkan panji bisnis bernama Vemobo dan Bahaso.

Kini, namanya makin harum lantaran tercatat di daftar 30 Under 30 Forbes Asia 2017, 100 Top World Global Young Innovator, YouNoodle (2013), lolos seleksi lima besar dari 38 peserta kompetisi inovasi di Stanford University, Amerika Serikat, tahun 2013 dan magang kerja di kantor pusat Google. Tyo menuturkan, pengalaman berkompetisi di Stanford University itu mengantarkannya mempelajari industri digital di Silicon Valley, AS, selama beberapa bulan. “Waktu itu saya off (cuti) kuliah pada 2013,” Tyo menambahkan.

Tyo menekuni dunia TI sejak masih duduk di bangku SMP. Dia belajar otodidak. Hobinya itu dilanjutkan ketika berseragam putih-abu-abu. Pada masa itu, dia sudah bisa membuat situs eWonosobo.com dan mendirikan PT Vemobo Citra Angkasa (Vemobo) saat berusia 17 tahun di tahun 2007 untuk menggarap proyek instansi pemerintah setempat senilai Rp 25 juta. Agar badan usahanya diteken oleh notaris, dia terpaksa memalsukan umur supaya bisa membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). “Saya harus menaikkan umur agar bisa berdiri PT-nya,” tuturnya. Pendek cerita, proyek dari institusi pemerintah setempat itu rampung. Tyo menyisihkan penghasilannya untuk membeli komputer jinjing.

Setelah lulus SMA, dia melanjutkan kuliah di Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta, dan tetap mengembangkan bisnis Vemobo yang di masa itu masih berkantor di Wonosobo. Kini, Vemobo berkantor di Yogyakarta dan mempekerjakan 20 orang. Vemobo kian berkibar karena banyak menerima klien, di antaranya institusi pemerintahan dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pada tahun 2012 dibuatkan aplikasi Reporting and Coordination System.

Reputasi Tyo makin bersinar. Tidaklah mengherankan apabila pada 2012 Tyo dipersunting Dolphin Browser, perusahaan mesin pencari (browser), sebagai Country Manager Dolphin Browser Indonesia. Kala itu, dia masih berumur 22 tahun dan disebut-sebut sebagai country manager perusahaan yang termuda di seluruh dunia. Nama Tyo semakin dikenal para praktisi TI lokal dan mancanegara. “Di awal saya menjabat Country Manager, pengguna Dolphin Browser hanya ratusan ribu di Indonesia. Saya berhasil meningkatkan jumlah penggunanya menjadi 6 juta dalam waktu satu tahun,” pria kelahiran Wonosobo, 12 Januari 1990, ini mengenang.

Namun, masa jabatan Tyo di Dolphin hanya berlangsung dua tahun. Sebab, dia harus merampungkan skripsi di Universitas Binus. ”Ketika mengerjakan skripsi, saya tebersit membuat aplikasi Bahaso yang memudahkan orang belajar bahasa asing. Latar belakangnya adalah pengalaman saya dan mayoritas warga Wonosobo yang tidak bisa les bahasa asing karena biayanya mahal. Bahaso lahir dari karya ilmiah untuk menyelesaikan kuliah,” dia menerangkan. Lalu, Tyo pada Januari 2015 mendirikan PT Bahaso Intermedia Cakrawala (Bahaso) untuk mengembangkan aplikasi itu.

Saat ini, Tyo menjabat sebagai Chairman Bahaso. Mitra bisnisnya, Alana, ditunjuk sebagai CEO dan co-founder untuk menakhodai perusahaan ini. “Bahaso adalah aplikasi yang memudahkan penggunanya mempelajari bahasa asing dengan cara mobile learning,” kata Tyo. Di tahun 2017, Bahaso menghimpun dana segar dari investor senilai US$ 500 ribu.Tyo menuturkan, Bahaso fokus menggarap segmen education technology. Guna menghimpun pendapatan, Bahaso menetapkan biaya keanggotaan premium (premium membership). “Mengunduh dan belajarnya free, tapi jika ingin mendapat fasilitas dan konten lebih banyak, mereka harus upgrade ke premium membership yang biayanya mulai dari Rp 100 ribu per bulan, atau Rp 600 ribu per tahun,” tuturnya. Sumber pendapatan lainnya berasal dari konten berbayar melalui fitur interactive self learning, pengguna yang mempersiapkan tes IELTS dan TOEFL di aplikasi Bahaso.

Tyo mengklaim saat ini sekitar 60% dari jumlah total pengunduh Bahaso tercatat sebagai anggota premium. Pengunduhan Bahaso di Android, iOS, dan web-based per November 2018 itu sebanyak 400 ribu kali. Selanjutnya, Bahaso bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) untuk materi ajar dan metodologi belajar bahasa asing. Pengguna Bahaso mendapatkan sertifikat dari FIB UI. “Saya bukan ahli bahasa, jadi saya menggandeng Universitas Indonesia yang expert untuk membuat konten dan metodologi. Kami punya tim ahli bahasa yang berkolaborasi dengan UI, konten bahasa asingnya ada bahasa Inggris dan Mandarin,” katanya. Kerjasama Bahaso dengan FIB UI ini berbasis pembagian keuntungan untuk kedua belah pihak.”Tidak ada ownership UI di Bahaso, jadi sharing profit saja,” sebutnya.

Tyo berencana mengembangkan fitur yang memudahkan pengguna Bahaso berkomunikasi langsung dengan penutur asli (native speaker). Untuk rencana pengembangan bisnis, dia berancang-ancang menyiapkan aplikasi pesan singkat yang bakal diluncurkan di semester I/2019. “Saya ingin terus memberikan manfaat yang menyediakan solusi efektif dan efisien serta terjangkau bagi masyarakat Indonesia,” dia menandaskan. (*)

Reportase: Herning Banirestu, Riset: Hendi Pradika

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)