Alat Berat dan Pertambangan Tumbuh Paling Agresif di Grup Astra

PT Astra Internasional Tbk mengumumkan kinerja keuangan perusahaan kuartal III tahun 201 dengan  laba bersih Rp 14,18 triliun, naik 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 11,2 triliun. Pendapatan bersih  naik 14 % dari Rp 132,2 triliun tahun 2016 menjadi Rp 150,2 triliun tahun 2017. Hal tersebut dikarenakan adanya pertumbuhan positif dari semua segmen bisnis dalam grup.

Salah satu segmen yang menunjukkan pertumbuhan paling agresif adalah alat berat dan pertambangan. Kontribusi laba bersih Grup Astra dari segmen alat berat dan pertambangan meningkat sebesar 80% menjadi Rp3,4 trilliun. PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 80% menjadi Rp5,6 triliun. Kenaikan ini disebabkan oleh peningkatan kinerja pada bisnis mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan kegiatan pertambangan, yang seluruhnya mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga batu bara.

Pada segmen usaha mesin konstruksi, volume penjualan alat berat Komatsu mengalami peningkatan sebesar 73% menjadi 2.744 unit, di mana pendapatan dari suku cadang dan jasa perbaikan juga meningkat. PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mengalami peningkatan produksi batu bara  5% menjadi 82 juta ton, sementara peningkatan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) meningkat sebesar 12% menjadi 585 juta bank cubic metres. Sementara itu anak perusahaan UT dalam bidang pertambangan melaporkan penurunan penjualan batu bara sebesar 12% menjadi 5 juta ton, disebabkan volume penjualan yang lebih rendah dari bisnis perdagangan batu bara.

PT Acset Indonusa Tbk (Acset), perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 178% menjadi Rp111 miliar, serta mencatat penambahan kontrak baru senilai Rp7,2 triliun dibandingkan Rp2,5 triliun yang berhasil diterima pada periode yang sama tahun lalu.

Segmen lainnya yang juga menunjukkan kinerja positif adalah jasa keuangan. Laba bersih dari bisnis jasa keuangan grup meningkat 42% menjadi Rp2,9 triliun, sebagian besar karena keuntungan yang kembali dihasilkan oleh PT Bank Permata Tbk.Sektor bisnis pembiayaan konsumen Grup menunjukkan kenaikan total pembiayaan sebesar 6%, termasuk pembiayaan melalui joint bank financing without recourse, menjadi Rp56,7 triliun.

PT Astra Sedaya Finance (ASF), yang fokus pada pembiayaan roda empat, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp711 miliar. PT Toyota Astra Financial Services (TAFS), mencatat penurunan laba bersih sebesar 33% menjadi Rp169 miliar seiring meningkatnya provisi kerugian kredit. PT Federal International Finance (FIF), yang fokus pada pembiayaan roda dua, mencatat kenaikan laba bersih sebesar 14% menjadi Rp1,5 triliun, sebagai hasil dari kenaikan pangsa pasar sepeda motor Honda serta diversifikasi produk pinjaman.Total pembiayaan yang dikucurkan melalui sektor bisnis alat berat meningkat 56% menjadi Rp5,2triliun. PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF), yang fokus pada pembiayaan alat berat kelas kecil dan menengah, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 40%, menjadi Rp36 miliar, disebabkan oleh meningkatnya provisi kerugian kredit.

PT Bank Permata Tbk (Bank Permata) mencatat laba bersih sebesar Rp708 miliar, dibandingkan kerugian bersih sebesar Rp1,2 trilliun pada periode yang sama tahun 2016. Rasio kredit bermasalah kotor Bank Permata membaik dari 8,8% pada akhir tahun 2016 menjadi 4,7% pada 30 September 2017, sementara rasio kredit bermasalah bersih membaik dari 2,2% menjadi 1,8%. Keuntungan Bank Permata sebagian besar didorong oleh peningkatan kualitas aset dan penjualan portofolio kredit bermasalah yang telah diumumkan pada periode sebelumnya.

Perusahaan asuransi kerugian Grup, PT Asuransi Astra Buana (AAB), mencatat peningkatan pendapatan investasi dan melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 7% menjadi Rp749 miliar. Selama periode ini, Perusahaan asuransi jiwa patungan Grup, Astra Aviva Life, menambah lebih dari 5 ribu nasabah asuransi jiwa perorangan dan 290 ribu nasabah asuransi program kesejahteraan karyawan, sehingga pada akhir bulan September 2017 jumlah nasabah perorangan dan nasabah melalui program kesejahteraan karyawan, masing-masing menjadi 341 ribu dan 657 ribu nasabah.

Sedangkan segmen otomotif nampak masih lesu, dengan pertumbuhan hanya 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal tersebut disebabkan oleh kenaikan penjualan mobil dan motor, meskipun terjadinya peningkatan tekanan pemberian diskon di pasar mobil. Penjualan mobil secara nasional meningkat 3% menjadi 804.000 unit. Penjualan mobil Astra meningkat sebesar 5% menjadi 444.000 unit, sehingga menghasilkan peningkatan pangsa pasar dari 54% menjadi 55%.

Penjualan sepeda motor nasional tidak mengalami perubahan yaitu sebanyak 4,3 juta unit.Meskipun demikian, penjualan sepeda motor dari PT Astra Honda Motor (AHM) mengalami peningkatan sebesar 2% menjadi 3,2 juta unit, mengakibatkan peningkatan pangsa pasar AHM dari 73% menjadi 75%.

Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk, Prijono Sugiarto, menjelaskan, prospek kinerja hingga akhir tahun ini diperkirakan tetap positif karena penguatan harga komoditas yang terus berlanjut, meskipun ada tantangan dari peningkatan kompetisi di pasar mobil serta bertambahnya provisi kredit pada beberapa aktivitas grup jasa keuangan.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)