Ekspor CBU Toyota Tembus 1 Juta Unit

Berawal di tahun 1987 dan volume ekspor perdana pada saat itu masih hanya 50 unit per bulan, kini ekspor Toyota telah mencapai angka lebih dari 1 juta unit sejak kegiatan pengapalan perdana.

Angka ini sekaligus menjadi bukti keseriusan Toyota dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan industri otomotif Indonesia terutama melalui kegiatan ekspor.

Posisi Toyota Indonesia sebagai salah satu basis produksi dan ekspor global Toyota di kawasan Asia Pasifik memungkinkan Toyota Indonesia untuk berkontribusi dalam tiga hal. Pertama, pada upaya substitusi impor melalui lokalisasi produksi untuk pasar dalam negeri dan penciptaan pasar ekspor. Sebanyak lebih dari 90% volume penjualan produk kendaraan bermerek Toyota di Indonesia merupakan produk buatan dalam negeri yang diproduksi oleh putra-putri bangsa Indonesia.

Kedua, pada kinerja ekspor otomotif. Produksi kendaraan lokal ini juga dipasarkan ke pasar global, tepatnya ke lebih dari 80 negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan Timur Tengah, sehingga produksi lokal kendaraan bermerek Toyota menyumbang lebih dari 80% total ekspor kendaraan utuh dari Indonesia.

Ketiga, sebagai jembatan bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) pemasok komponen kendaraan untuk dapat menembus pasar ekspor. Tingginya tingkat kandungan dalam negeri produk-produk Toyota yang saat ini mencapai 75% hingga 94% menandakan bahwa hanya sebagian kecil dari komponen kendaraan bermerek Toyota yang menggunakan material impor selain menyumbang pada penguatan pengembangan industri komponen lokal di Indonesia.

“Kami memaknai capaian ini sebagai pemicu semangat untuk bisa meningkatkan performa ekspor sehingga dapat membantu peningkatan devisa negara di sektor otomotif.  Kami harap tahun ini dapat mencapai ekspor 200.000 unit,” ungkap Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Seremoni ekspor ini merupakan salah satu penanda realisasi komitmen yang telah disampaikan kepada Pemerintah Indonesia di tahun 2015 oleh President TMC Akio Toyoda kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di Aichi – Jepang, yaitu dalam hal peningkatan investasi dan kegiatan ekspor. Aktivitas ekspor Toyota, melalui produk-produk bermerek Toyota yang diproduksi di fasilitas manufaktur TMMIN, diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam keseimbangan neraca perdagangan terutama dari sektor otomotif.

Dengan capaian ekspor yang cukup besar oleh TMMIN ini semoga ke depannya bisa bergerak untuk ke arah yang mobil listrik. Road map mengenai mobil listrik pun sudah dipersiapkan oleh Kementerian Perindustrian. Mengenai pelemahan Rupiah yang dihadapi Indonesia saat ini juga dapat diatasi dengan melakukan koordinasi kuat di sektor fiskal, moneter, industri serta pelaku-pelaku usaha," jelas Presiden Joko Widodo dalam sambutannya.

Presiden mengatakan, koordinasi yang kuat ini akan menjadi kunci, yakni peningkatan pada ekspor dan investasi. Dengan hal ini dapat menyelesaikan pula defisit transaksi berjalan. Kita sudah melakukan juga mengenai Biodiesel 20 (B20) yang akan dapat mengurangi impor minyak yang tidak sedikit dengan perkiraan US$ 5 hingga US$ 6. Kemudian jika CPO ini kita pakai sendiri untuk B20, artinya supply ke pasar akan menurun. Sehingga kita harapkan untuk harga CPO juga naik dan local content pun terus kita perhatikan.

Dominasi Ekspor SUV dan Pionir Ekspor Sedan

Toyota Indonesia mengekspor berbagai produk otomotif mulai dari kendaraan utuh (Complete Built-up Unit/CBU), kendaraan terurai (Complete Knock Down/CKD), mesin utuh tipe TR dan NR, komponen kendaraan hingga alat bantu produksi berupa jig (alat bantu proses pengelasan).

Dari 9 model kendaraan utuh bermerek Toyota yang diekspor ke mancanegara yaitu Fortuner, Kijang Innova, Vios, Yaris, Sienta, Avanza, Rush, Agya, dan Townace/Townlite, model Sport Utility Vehicle (SUV) Fortuner yang diproduksi di fasilitas manufaktur Toyota Karawang Plant 1, menyumbangkan volume ekspor terbesar. Secara kumulatif total volume ekspor Fortuner sejak pengapalan perdana di tahun 2006 berjumlah lebih dari 410.000 unit atau sekitar 30% dari total volume kumulatif ekspor CBU bermerek Toyota.

Jejak keberhasilan Fortuner diikuti oleh model sedan Vios dan Rush. Pada tahun 2014 Toyota Indonesia memulai ekspor perdana Vios dalam jumlah signifikan ke negara Timur Tengah dengan volume rata-rata 3,000 unit per bulan. Vios menjadi sedan pertama buatan Indonesia yang mampu menembus pasar global dalam skala besar.

Sejak bulan April 2018, Rush mengalami perluasan ekspor secara bertahap ke Asia terutama Filipina, Timur Tengah serta negara berkembang lainnya. Sebelum ekspasi ekspor ini, Rush hanya diekspor ke Malaysia. Hal ini menujukan upaya serius Toyota untuk menjadi produsen kendaraan yang berorientasi ekspor dengan memperhatikan tren konsumen global yang menghendaki model SUV dan sedan.

Untuk capaian positif ekspor kendaraan bermerek Toyota sepanjang bulan Januari hingga Juli 2018 adalah berjumlah 117.200 unit. Volume ini meningkat 1,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 lalu dengan jumlah 115.800 unit. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh Avanza sebanyak 21.900 unit, Agya 17.000 unit, Vios 15.800 unit, Rush 12.700 unit, Kijang Innova 4.200 unit dan produk CBU lainnya yaitu Sienta, Yaris, Townace/Townlite, sebesar 14.600 unit. Selain dalam bentuk utuh, TMMIN juga mengekspor kendaraan terurai (CKD) sebanyak 25.500 unit, komponen kendaraan sebanyak 54 juta buah, mesin tipe TR sebanyak 26.100 unit, dan mesin tipe NR 64.500 unit.

Dari sisi emisi, produk kendaraan utuh bermerek Toyota juga telah memenuhi standar emisi Euro IV dan VI sesuai dengan ketentuan di masing-masing negara tujuan. Mengenai persentase komposisi komponen lokal untuk masing-masing produk yakni Fortuner 75% lokal, Sienta 80% lokal, Vios 75% lokal, Yaris 75% lokal, Avanza 90% lokal, Agya 94% lokal, Rush 89% lokal dan Townace/Townlite 87% lokal. Ekspor terbesar berada di kawasan Timur Tengah dengan leading product-nya adalah Fortuner.

Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia juga menuturkan bahwa sebenarnya, kebutuhan mobil dalam negeri sudah dapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri. Bisa disaksikan bahwa sekarang sudah bisa melakukan ekspor, jadi sudah tidak ada kepentingan lagi untuk impor. Dengan besarnya local content yang dimiliki oleh produsen juga dapat mengurangi fluktuasi. Road Map mobil listrik tahun 2025 pun sudah mencapai 20%.

Ke depannya, Toyota Indonesia berkomitmen untuk melakukan kerja sama erat dengan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendukung pengembangan industri hulu dan industri kecil dan menengah agar dapat lebih memperkuat struktur industri dan daya saing industri otomotif Indonesia yang tentunya akan meningkatkan peluang ekspor otomotif dari Indonesia.

Berkenaan dalam menyikapi pertumbuhan tren ekspor ini juga, Indonesia Kendaraan Terminal terus melakukan upaya peningkatan dalam penambahan kapasitas yang disediakan. Untuk kapasitas per tahunnya, pada tahap awal dapat menampung 700.000 unit, lalu selajutnya menjadi 900.000, dan dalam 5 tahun ke depan akan diprogramkan untuk peningkatan kapasitas menjadi 2.1 juta unit.

"Dengan peningkatan kapasitas, ekspor yang meningkat, dan receiving terminal kami bisa kooperasikan yang berada di daerah lain, maka akan mendapatkan double volume dan double revenue. Diharapkan 5 tahun nanti kargonya bisa lebih dari 1.5 juta. Artinya, kita bisa menjadi 10 besar di dunia dan dari sisi kapasitas menjadi 5 besar dunia,” ujar Chiefy Adi K, Presiden Direktur  PT Indonesia Kendaraan Terminal.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)