Tren Konsumen Masih Konvensional Beli Ban Motor

Ban motor diuji di jalan basah. (Ilustrasi Foto : Ist)

Tren konsumen membeli ban sepeda motor, menurut Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI), masih mengandalkan jalur penjualan konvesional meski ada kecenderungan perubahan perilaku konsumen membeli ban di toko dalam jaringan (daring) alias toko online.

Pemerintah mencanangkan program Making Indonesia 4.0. yang dirancang untuk mengoptimalkan teknologi demi menopang perekonomian dan laju bisnis di berbagai sektor, termasuk bisnis ban sepeda motor. Agus Sarsito, Sekretaris Jenderal APBI, mengatakan karakter konsumen masih menginginkan pembelian dan pemasangan ban sepeda motor di toko dan bengkel konvesional.

APBI mencermati memang terjadi perubahan perilaku konsumen di segmen ritel sehingga memicu produsen ban akan agresif menambah kanal penjualan ban sepeda motor di e-commerce dan toko online. “Memang ada kecenderungan agresif untuk menawarkan secara online, tetapi konsumen akan kesulitan pasangnya karena perlu alat, jadi kalaupun sekarang marak pembelian secara online, mungkin sementara saja kalau mereka sudah merasakan bahwa mereka tetap harus bayar ongkos pasang dan balancing lagi yang mungkin lebih mahal, kecuali ban-ban yang sifatnya khusus,” tutur Agus ketika dihubungi SWAonline di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Apabila melihat dari penguasaan pangsa pangsa, Agus menyebutkan ban sepeda motor yang diproduksi Gajah Tunggal dengan merek IRC dan Zeneos diprediksi memimpin pangsa pasar ban sepeda motor nasional di penghujung tahun lalu.”Disusul sangat dekat oleh Suryaraya Rubberindo dengan produksi FDR dan Federal,” ia menambahkan. Merek ban sepeda motor lainnya yang dicatat APBI adalah Duro, Ascendo, Comet, Maxio, Fir, V-Rubber, Sportivo, Villeto, Rasenda, Mabon Diamond, Pomad, dan Terrano.

Raihan pangsa pasar itu diestimasikan APBI hingga menjelang akhir tahun lalu, yakni periode Januari-November 2019. Kemungkinan besar, posisi pemimpin pasar ban sepeda motor itu tak banyak berubah. Saat ini, jumlah produsen ban sepeda motor yang tercatat oleh APBI sebanyak 12 pabrik yang terdaftar. Jumlah pabrik atau produsen ban sepeda motor non APBI sebanyak 2 pabrik ban sepeda motor. “Kabarnya ada beberapa pabrik lagi (dalam skala kecil) yang memproduksi ban sepeda motor tapi belum terdaftar (karena tidak semua produsen ban anggota APBI), kalau tidak salah ada 2 lagi pabrik ban sepeda motor,” ungkapnya.

APBI memproyeksikan jumlah produksi ban sepeda motor di tahun 2019 sekitar 90 juta ban, naik sekitar 4% dari tahun 2018. Lebih lanjut, Agus menyebutkan produksi ban sepeda motor terserap ke pabrikan sepeda motor atau original equipment manufacturer (OEM). Jumlah penjualan ke OEM itu sebesar 20% dari total penjualan domestik. Yang sisanya untuk ekspor sebesar 5% dan pasar purna jual (after market/replacement market) sebanyak 75%.”Estimasi seperti tahun-tahun sebelumnya pasar OEM menyerap 20% dari total penjualan domestik, dan ekspor sangat sedikit, sekitar 5 %,” Agus menjelaskan. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)