Bung Hatta, Tabungan, dan Sepatu Bally (2)

Semasa hidupnya, Bung Hatta bukan tak pernah berusaha mewujudkan mimpinya untuk memiliki sepatu Bally. Bung Hatta menabung tiap sen yang ia dapat ketika bekerja. Sayangnya, uang yang ia tabung tak pernah cukup untuk membeli sepatu itu.

Kemudian, Bung Hatta pun lebih mengutamakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membantu kerabat atau saudara yang lebih membutuhkan bantuan ketimbang sekadar memenuhi keinginan pribadi, begitulah prinsip hidup Bung Hatta.

Indonesia (source : smart-money.co)

Jika Bung Hatta tak peduli dengan nasib kerabat dan saudaranya, mungkin ia sudah bisa membeli sepatu Bally itu. Sebenarnya, Bung Hatta tak perlu bersusah payah menabung untuk bisa membeli sepatu Bally.

Sebab, saat itu, ia memiliki kekuasaan dan relasi orang-orang hebat. Bahkan, saat itu Bung Hatta tak hanya menjadi orang penting di Indonesia, juga di dunia. Namun, Bung Hatta merasa malu dan tak pantas menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Ia lebih memilih hidup kekurangan dan sederhana daripada menghinakan diri dan memanfaatkan kekuasaan serta pengaruhnya untuk kepentingan pribadi.

Pada 1950an, saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI, Bung Hatta pernah ditanya sang istri mengenai kebijakan pemotongan mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia) dari Rp100 menjadi Rp1.

Rahmi bertanya karena kebijakan tersebut membuatnya tak bisa membeli mesin jahit yang sudah lama ia idamkan. Ia telah menabung sekian lama untuk membeli mesin jahit itu. Sebagai suami, Bung Hatta tentu paham perasaan istrinya.

Ia berkata, “Sungguh pun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi ya”.

Pada 1956, Bung Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI karena ia mulai tak sepaham dengan pemikiran dan ideologi Soekarno. Setelah pensiun, keuangan Bung Hatta menjadi sangat sulit karena uang pensiunnya sangat kecil.

Putri Bung Hatta pernah menyarankan untuk menyediakan bokor sebagai tempat menaruh uang bagi tamu yang datang berkunjung ke rumah. Bung Hatta tak setuju dan marah dengan usul itu.

Ia juga pernah mengembalikan kelebihan uang pengobatan ke negara. Untuk mengatasi keuangannya yang sulit, Bung Hatta lebih suka mengirim tulisan ke penerbit.

Meski terkadang tak sepaham dan tak sejalan dengan pemikiran Bung Karno, namun Bung Hatta tetap menjalin persahabatan yang harmonis.

Saat kejatuhan Bung Karno, saat tidak ada satu pun kalangan pejabat negara yang melihatnya terbaring sakit, Bung Hatta datang dan menghibur Bung Karno.
Source : smart-money.co


Baca juga:

Bung Hatta, Tabungan, dan Sepatu Bally (1)

 


 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + three =