Erika Santoso, Pewaris Tunggal di Balik Ekspansi ADA Swalayan

Pesatnya pertumbuhan industri ritel di Indonesia nyata terlihat dari terus bermunculannya toko-toko ritel baru. Di tengah ketatnya persaingan, ADA Swalayan sebagai pemain lama tetap mampu mempertahankan eksistensinya, bahkan terus berekspansi di pasar Jawa Tengah. Sejak didirikan pada 1987 oleh Gunawan Santoso, ADA Swalayan telah berkembang menjadi tujuh cabang yakni di Siliwangi (Semarang), Majapahit (Semarang), Setiabudi (Semarang), Fatmawati (Semarang), Bogor, Kudus dan Pati, dengan jumlah karyawan mencapai 2.000 orang.

Erika Santoso

Erika Santoso

Erika Santoso, generasi kedua ADA Swalayan, adalah sosok di balik pertumbuhan bisnis keluarganya ini. Kendati demikian, dara kelahiran Solo 31 tahun silam ini tidak pernah bercita-cita menjadi pebisnis, apalagi di usianya yang belia. Erika baru berusia 24 tahun ketika ia harus menjadi nahkoda bisnis ADA Swalayan. Tepatnya tahun 2008 Gunawan sang ayah meninggal dunia, menyusul Goei Ngiek Hwa, ibunda Erika yang juga telah berpulang lima tahun sebelumnya.

Peristiwa tersebut menjadi cobaan terberat dalam hidup Erika. “Saat itu saya sempat bingung. Hidup seorang diri, tanpa orang tua, dan harus meneruskan bisnis yang menghidupi ribuan orang,” kenangnya. Sebagai anak tunggal, ia adalah satu-satunya yang diharapkan untuk meneruskan bisnis yang dirintis orang tuanya dengan susah payah. Erika menceritakan, sebelum ADA Swalayan lahir, ayahnya membantu kakeknya berjualan kain di Peterongan, Semarang. Dari situ, Gunawan melihat peluang usaha ritel yang masih jarang di Semarang, hingga akhirnya dirintislah bisnis toko kelontong.

Seperti ketika merintis bisnis pada umumnya, Erika kecil sempat mencicipi tinggal di toko, tepatnya toko pertama ADA Swalayan di bilangan Siliwangi, Semarang. ”Rumah kami ya di toko itu. Masih sangat sempit, dengan bangunan dua lantai saja,” kenang Erika yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama. Usaha tersebut terus berkembang hingga pada 1997, ADA Swalayan memperluas pasar dengan membuka cabang baru di Jalan Majapahit. Menariknya, krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 justru menjadi momentum pertumbuhan ADA Swalayan.

“Sebelum krisis, almarhum Papa punya prediksi ekonomi Indonesia bakal susah. Tapi beliau justru melihat peluang, ia melobi para supplier untuk order barang hingga 10 kali lebih banyak. Dengan suplai yang melimpah itu, ADA bisa menjual dengan harga miring di saat yang lain meningkat tajam. Bahkan, toko-toko ritel dari luar Semarang, banyak yang ambil barang di ADA,” beber Erika. Dari ketangguhannya menerjang krisis, tahun 2000 ADA Swalayan membuka cabang yang lebih besar lagi di Jalan Setiabudi. Toko dengan bangunan seluas 1,6 hektare tersebut kini menjadi yang terbesar dari seluruh cabang, hingga kantor pusatnya pun berada di lokasi ini.

Kesuksesan terus mengiringi bisnis Gunawan. ADA Swalayan pun membuka cabang-cabang lain, bahkan di luar Semarang. Pada tahun 2004, dibukalah cabang keempat ADA Swalayan, yaitu di Bogor. Keberaniannya melebarkan sayap ke luar daerah ini sekaligus meningkatkan posisi ADA Swalayan di mata para supplier. Disusul pada 2006 membuka cabang baru di Fatmawati, Semarang.

Erika Santoso

Erika Santoso

“Saat Papa meninggal, kebetulan ADA Swalayan baru ekspansi dengan membuka cabang di Kudus pada Agustus 2008. Waktu itu saya sudah merampungkan pendidikan bisnis di sebuah universitas di Melbourne, Australia, dan pendidikan bahasa di Cina. Namun dalam praktik mengelola bisnis, saya masih harus belajar dari nol,” imbuh Erika. Waktu itu, ia baru satu tahun dilibatkan penuh dalam mengelola bisnis. Tepatnya pada 2007, Erika dimagangkan oleh ayahnya di bagian pembelian dan order.

Meski banyak beban di pundak Erika, pesan orang tuanya semasa hidup mampu membangkitkan semangatnya. “Mereka berpesan harus bangun pagi untuk cari rezeki, banyak berdoa, dan berbuat amal baik ke sesama. Pesan ini yang membuat aku bangkit dan harus maju, karena bisnis ini kan buat cuma untukku, tetapi ada banyak orang yang bekerja di sini. Karyawan adalah partner, aset yang tak ternilai. Karena tanpa karyawan kita juga tidak berarti apa-apa. Dan saya bersyukur, meski papa sudah tidak ada, banyak karyawan yang masih tetap loyal bekerja hingga saat ini,” paparnya.

Pertemuan Erika dengan suaminya, Ricky Sulistyo, putra pengusaha buku tulis di Solo, semakin menggairahkan perjalanan bisnis yang dilakoninya. Apalagi, suami yang dinikahinya tahun 2011 itu kini ikut terjun langsung menjalankan ADA Swalayan. “Sejak suami bergabung banyak inovasi yang dilakukan. Perannya lebih ke arah pengembangan bisnis dan strategi marketing. Apalagi basic pendidikan suami memang di bidang marketing dari Sidney, Australia,” ungkap Erika yang kini telah dikaruniai seorang putra bernama Riecher Santoso.

Berselang satu tahun setelah menikah, pada tahun 2012 mereka pun mantap untuk membuka cabang di Kota Pati. “Ekspansi pasar akan terus kami lakukan. Saat ini kita masih survei beberapa lokasi untuk membuka cabang baru lagi, khususnya di Jawa Tengah,” ujarnya. Survei lapangan, imbuhnya, perlu dilakukan sendiri. Pasalnya, harus melihat lokasinya secara langsung dan demografi wilayah, termasuk pendapatan daerah. Adapun untuk menyiasati pertumbuhan toko swalayan ritel baru yang terus bermunculan, ADA Swalayan tetap menggunakan strategi harga yang lebih rendah. Terlebih di Kota Semarang, masyarakatnya sangat sensitif harga.

BCA Selalu Ada untuk ADA Swalayan

Kontribusi layanan perbankan dari BCA, ungkap Erika, menjadi bagian yang teramat penting bagi bisnis ADA Swalayan. “ADA Swalayan sudah menjadi nasabah BCA sejak bisnis ini berdiri tahun 1987. Kami bisa terus berkembang, salah satunya karena support dari BCA,” ujar Erika. Menurutnya, tak ada kesulitan yang berarti saat ADA Swalayan membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnisnya.

Bahkan, di kala banyak bank dan supplier meragukan kelangsungan hidup ADA Swalayan saat kepergian Gunawan sebagai nahkoda bisnisnya, BCA satu-satunya bank yang terus mempercayai untuk memberikan modal. “Di tahun 2008, saat papa meninggal, banyak bank yang khawatir akan kemampuan kami melanjutkan bisnis. Tapi BCA selalu ada untuk kami. Saya harap kemitraan ini tetap erat terjalin,” akunya.

Tak hanya dari sisi permodalan, Erika juga memanfaatkan layanan BCA untuk transaksi pembayaran seperti mesin EDC BCA, Giro BCA, pick up service cash money, serta kerja sama program promosi untuk pelanggannya. Ia menyebutkan, “Di seluruh toko ADA Swalayan sudah dilengkapi dengan mesin-mesin EDC untuk mempermudah transaksi konsumen. Kami juga mengadakan program promo berhadiah bekerja sama dengan BCA, seperti Gebyar Undian Berhadiah yang saat ini tengah berlangsung. Ke depan, bentuk kerja sama lainnya akan selalu kami nantikan.”

BCA Senantiasa di Sisi Anda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × three =